
Kembali ke permainan, Evan dan Reza tampak tengah berada di bagian Garasi yang kebetulan di sana masih ada sebuah lilin yang menyala dan beruntung juga lingkaran garam di sana masih utuh dan aman. Tapi mereka enggan untuk mematikannya karena takut jika boneka pengantin itu akan mengejar mereka.
"Sampai kapan kita harus menunggu seperti ini?" Tanya Eban yang merasa tidak nyaman dengan kegelapan yang ada di sana.
"Sampai Pak Akbar dan Bu Winata menemukan kita mungkin. Itu juga jika mereka masih hidup." Ucap Reza yang tidak memperbaiki keadaan.
"Ucapan mu itu membuat ku semakin tidak nyaman kamu tau? itu juga tidak memperbaiki keadaan." Sindir Evan yang kurang menyukai jawaban Reza.
Kini ruangan yang tersisa dan masih menyala lilinnya hanya Kamar Mandi yang ada di lantai dua, sedangkan di lantai satu tinggal Kamar Jessi, Ruang Makan, dan Garasi yang Mereka tempati saat ini.
Kreekkk!...
Tiba tiba saja pintu belakang Garasi tempat mereka masuk pun mulai terbuka dengan sendirinya. Meski wujud yang membuka pintu itu tidak bisa mereka lihat, firasat buruk tetap menyelimuti hati mereka sampai sampai membuat tubuh menjadi merinding.
"Sepertinya ada yang masuk." Ucap Evan yang tampak sedikit mulai waspada.
Flupp!..
Tiba tiba saja entah mengapa lilin yang ada di sana langsung padam dengan sendirinya. Setelah mendengar suara lilin padam, mereka pun mulai menyadari jika lingkaran garam yang mereka tempati saat ini sudah mulai tampak menguap dan lama kelamaan mulai menghilang. Tentu saja itu berbahaya. Jika tidak ada lingkaran garam, boneka pengantin itu akan bisa menangkap mereka dengan mudah.
"Apa yang harus kita lakukan? lingkaran garamnya mulai menghilang!" Seru Evan yang mulai panik.
Belum sempat berpikir bagaimana cara agar mereka bisa menyelamatkan diri, lingkaran garam itu sudah menghilang dan kini sesuatu pun mulai merayap di dinding Garasi seperti seekor cicak.
Srkkkk!... Srkkkk!... Srkkkk!...
Evan dan Reza pun hanya bisa terus memperhatikan benda merayap itu dan secara tidak sadar sebuah tangan mulai mendekati kaki mereka dengan perlahan. Saat Reza menoleh ke bawah karena merasa aneh, tiba tiba saja ia langsung di tarik entah kemana.
__ADS_1
"Reza!" Teriak Evan yang berusaha menarik tangan Reza, tapi sudah terlambat.
"Ahhhh!!!" Dan secara tidak sadar ia sendiri juga tertarik dan saat membuka mata ia sudah berada di Ruang Tamu bersama Reza yang juga merasa aneh dan heran.
"Kenapa kita bisa berada di sini?" Tanya Reza heran.
"E-entah lah." Jawab Evan yang juga tidak tahu apa apa.
Bruakk!! bruakk!!
Suara dobrakan pintu pun mulai terdengar dari Garasi. Evan dan Reza pun langsung berlari menuju Kamar Jessi yang merupakan satu satunya Kamar yang berisi Lingkaran garam Garam yang masih utuh.
"Reza cepat ke Kamar Jessi! Seharusnya di sana masih ada lilin dan lingkaran garam yang masih utuh!" Ucap Evan sambil menunjuk Kamar Jessi.
Reza pun hanya mengangguk paham dan langsung berlari menuju ke Kamar Jessi bersama Evan. Di saat mereka tengah berlari Pintu Garasi pun hancur dan sudah terlihat sosok Pengantin itu yang wajahnya sudah tampak menyeramkan dengan darah di seluruh gaunnya.
Bruakk!!
"Cepat! dia mulai mengejar!" Ucap Evan.
Entah mengapa jalan menuju Kamar Jessi terasa lebih jauh dan panjang dari pada biasanya. Apakah jaraknya memang seperti itu? atau itu hanya perasaan Evan saja? entahlah siapa juga yang tahu. Yang pasti saat tengah berlari, Evan malah tidak sengaja terinjak pecahan bola lampu yang sebelumnya dan membuatnya terjatuh.
"KeSIni kAmu!" Ucap Pengantin itu sambil mengulurkan lidahnya yang tampak ukurannya sudah seperti telapak tangan manusia.
"Jangan ganggu..."
Tiba tiba saja terdengar suara seseorang berbisik dan setelah suara itu muncul, Pengantin itu pun mulai tampak berhenti sejenak. Entah sejak kapan, tapi tepat di punggung pengantin itu sudah ada Perempuan yang sama seperti sebelumnya. Di seluruh tubuhnya tampak bercampur dengan tubuh serangga atau hewan.
__ADS_1
"Jangan... ganggu!" Perempuan itu pun langsung segera mencekik Pengantin itu dengan sangat erat.
Evan dan Reza pun hanya bisa terdiam melihat hal itu. Siapa perempuan aneh itu? yang pasti sepertinya dia bukan manusia. Tubuhnya yang bercampur dengan serangga dan hewan tentu saja sudah tampak bukan makhluk hidup yang normal. Terlepas dari semua pertanyaan dan misteri itu, Wajah perempuan itu yang awalnya hanya terdapat sayap serangga dan lain lain, mulai meleleh dan hanya memunculkan wajah aneh yang entah makhluk apa itu. Tampak seperti wajah laba laba dan juga sesuatu yang lain. Setelah mengeluarkan wajah menyeramkan itu, Perempuan itu pun langsung segera berteriak kencang sampai sampai membuat sekitarnya bergetar.
"Akkkhhhhh!!!!!!....." Perempuan itu tampak berteriak tepat di depan wajah Pengantin itu.
Karena suara yang keras dan mengganggu telinga, Evan dan Reza pun sampai menutup telinha mereka karena tidak tahan dengan bisingnya. Pak Akbar dan Bu Winata yang mendengar suara teriakan itu pun juga merasa terganggu dan menutup telinga mereka.
Tidak cukup sampai situ. Karena suara itu kaca jendela si sana pun mulai pecah dengan sendirinya. Di saat yang sama semua lilin yang ada di rumah itu padam dengan sendirinya. Apakah permainan ini sudah selesai?
Saat Evan membuka matanya, semua tampak gelap. Tentu saja karena penutup mata yang menutupi matanya masih terikat. Saat membuka penutup mata itu, semua sudah tampak kembali seperti semua dan di depannya ada Boneka Ghakia yang sudah tampak di penuhi darah san tampak seperti menangis darah.
"Semuanya sudah kembali?" Ucap Evan yang heran tapi juga lega.
"Apakah kita berhasil?" Lanjut Reza yang juga baru saja sadar.
Tak lama kemudian Selly, Raihan, Prayan, dan juga Jessi yang gagal dalam permainan juga mulai membuka penutup mata itu dan tampak mereka baik baik saja.
"Aku masih hidup? hebat sekali aku." Ucap Selly yang heran kenapa dia masih hidup.
"Untung kita berhasil di permainan ini." Ucap Pak Akbar lega.
"Memang apa yang terjadi jika kita kalah" Tanya Prayan yang baru saja sadar.
"Tentu saja kalian yang tertangkap akan mati dan juga kami." Ucap Pak Akbar yang belum menjelaskan apa yang akan terjadi jika gagal dalam pemainan.
Karena mereka sudah berhasil, semuanya pun tampak lega dan juga bersyukur. Tapi meski begitu, Evan merasa sedikit aneh. Semua itu tampak singkat dan juga sangat mudah. Apakah semuanya memang sungguh sudah selesai? atau kesenangan ini hanya sementara saja? entahlah yang penting saat ini semuanya telah selamat.
__ADS_1
To be contiune >>>