
Keesokan harinya pada pukul 5 pagi, Pak Akbar tampak berada di ruang bawah tanah dan terlihat tengah memeriksa sesuatu. Bu Winata yang menyadari jika Pak Akbar tidak ada pun langsung mencari Pak Akbar ke seisi rumah sampai ke Ruang Bawah Tanah.
"Akbar apa yang kami lakukan di sini?" Tanya Bu Winata sambil berjalan menuju Pak Akbar yang tengah memeriksa sesuatu.
"Bukan apa apa, aku hanya merasa mendengar sesuatu di sini." Jawab Pak Akbar mendekati Bu Winata.
"Ku rasa itu hanya perasaan mu. Tidak mungkin akan ada orang yang bisa ke sini. Lagi pula kita juga selalu mengunci Ruang ini, jadi tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam sini." Jelas Bu Winata sambil mengajak Pak Akbar naik kembali dan keluar dari Ruang Bawah tanah yang penuh dengan barang barang mengerikan itu.
Setelah mereka naik ke atas, Pak Akbar dan Bu Winata pun langsung kembali melakukan rutinitas yang biasa mereka lakukan. Setelah beberapa jam melakukan hal yang baisa mereka lakukan, Ayah Reza pun tiba di rumah itu dan sedikit lebih awal.
Ding dong...
"Akbar! apakah kamu ada di rumah!?" Tanya Ayah Reza dari luar Rumah.
"Bukankah itu suara Hatirto? bukankah mereka mengatakan akan datang pukul sembilan? ini masih pukul delapan pagi loh." Ucap Bu Winata sambil berjalan menuju pintu depan.
Saat pintu terbuka, tampak Ayah dan Paman Reza yang tampak seperti habis bertengkar di perjalanan.
"Cepat sekali kalian datang. Silakan masuk" Ujar Bu Winata sambil memberikan jalan agar Ayah dan Paman Reza bisa masuk.
Saat Paman dan Ayah Reza masuk, Bu Winata kembali menanyakan pertanyaan yang sama, yaitu alasan mereka datang lebih awal.
"Kenapa kalian cepat datang? Apakah ada masalah di rumah kalian?" Tanya Bu Winata.
"Bukan apa apa, hanya saja ada seseorang yang terlalu panik dan takut terlambat." Ujar Paman Reza sambil memandang tajam Ayah Reza.
"Kamu kan tahu biasanya jalan di sana sering macet. Aku takut kita akan tertambat, jadinya datang lebih cepat." Balas Ayah Reza dengan wajah yang terlihat sedikit membuat Adiknya kesal.
"Sudah sudah jangan bertengkar. Bagaimana keadaan Reza dan Rena? apakah mereka sehat?" Tanya Pak Akbar sambil bersiap menyeduh minuman yang sudah ada di meja.
"Untung saja mereka sehat. Malahan terlalu sehat. Setiap hari mereka hanya bertengkar dan satu Rumah penuh dengan suara mereka." Jelas Ayah Reza dengan wajah yang tampak bercanda sedikit.
__ADS_1
"Baguslah aku lega mendengarnya. Ngomong ngomong apakah tetangga kalian yang bernama Bu Hamirna baik baik saja? bulan lalu dia datang mengunjungiku perihal anaknya yang sering bersikap aneh." Tanya Pak Akbar menganti topik pembicaraan.
"Bu Hamirna? jika tidak salah anaknya sering bermain sendirian, tapi bulan lalu mereka sudah pindah rumah. Aku tidak tahu apa alasan mereka, tapi ku rasa karena anak mereka yang bersikap aneh." Balas Paman Reza yang ikut berbicara.
"Entahlah, tapi dia tidak ingin memberitahu banyak. Jadi aku hanya memberikannya sebuah kalung saja, semoga mereka baik baik saja." Ujat Pak Akbar dengan wajah khawatir.
"Oh iya kenapa kalian belakangan ini susah di hubungi?" Tanya Ayah Reza menganti topik.
"Belakangan ini kami berdua sering mendapatkan panggilan. Dalam sebulan kami kurang lebih hanya di sini selama seminggu, sisanya kami berada di rumah kliem untuk mengurus masalah di sana." Jawab Bu Winata menjelaskan alasan mereka susah di hubungi.
Mereka semua pun mulai berbincang sejenak. Tapi tiba tiba saja terdengar suara kaca pecah dari arah Ruang Bawah Tanah. Pak Akbar yang mendengar suara itu pun tak tinggal diam dan langsung segera berlari menuju Ruang Bawah Tanah.
Prankk!!
"Suara apa itu!?" Tanya Bu Winata kaget.
"Bukankah itu dari Ruang Bawah Tanah!? kita harus kesana cepat!" Ujar Pak Akbar.
"Hei kembali kesini!" Pak Akbar pun langsung segera mengejar orang tersebut.
Meski sudah berusaha keras, orang itu pun berhasil kabur dan tampaknya tidak bisa mereka kejar. Pak Akbar pun langsung segera kembali dan tampak dengan wajah kesal.
"Sial sepertinya ada yang mengambil Patung Ghakia." Ujar Pak Akbar.
"Tapi dari mana dia bisa masuk?" Tanya Bu Winata heran.
"Entahlah, aku tidak tahu." Pak Akbar pun langsung tampak kesal dan mengusap kepalanya.
"Apakah kita harus memanggil polisi?" Tanya Paman Reza.
"Tidak... percuma juga jika kita memanggil mereka. Kita tidak memiliki bukti apapun." Ujar Pak Akbar dengan perasaan antara sedih dan kesal.
__ADS_1
"Bukankah di sana ada kamera pengawas? kenapa kita tidak jadikan itu sebagai bukti?" Tanya Ayah Reza.
"Kamera pengawas?" Paman Reza pun tampak keheranan ketika mendengar jika ada kamera pengawas di Ruang Bawah Tanah.
"Kamera di Ruang Bawah Tanah baru saja rusak. Jika aku lebih cepat mengantinya, kita pasti akan mudah mencari tahu siapa yang mengambil patung itu." Jawab Bu Winata.
Setelah kejadian itu, Ayah dan Paman Reza pun mulai pamit dan kembali ke Rumah mereka. Pak Akbar dan Bu Winta pun hanya bisa kembali dan membereskan kekacauan yang terjadi dalam sekejap itu. Tapi satu satunya yang membuat mereka heran, tidak ada satupun jalan masuk selain melalui pintu jika ingin ke Ruang Bawah Tanah.
Saat tengah membereskan pecahan kaca yang ada, Bu Winata tampak menemukan Kunci yang tampak tergeletak begitu saja.
"Apakah kita pernah menyimpan kunci di sini?" Gumam Bu Winata heran.
"Winata cepat tolong bantu aku memeriksa keamanan di sini!" Teriak Pak Akbar.
"Iya aku datang!" Jawab Bu Winata sambil menyimpan kunci itu di sakunya.
Saat sedang membantu Pak Akbar, Bu Winata pum bertanya mengenai Kunci pintu Ruang Bawah Tanah yang biasanya di simpan oleh Pak Akbar.
"Akbar, apakah kamu ingat di mana menyimpan Kunci Ruang Bawah Tanah?" Tanya Bu Winata.
"Apakah bersih bersih membuat otakmu rusak? tentu saja aku selalu menyimpannya di laci lemari baju." Ujar Pak Akbar sambil mengganti kamera pengawas agar hal serupa tidak terjadi lagi.
"Itu aneh..." Ucap Bu Winata tanpa sengaja.
"Aneh bagaimana?" Tanya Pak Akbar yang heran dengan ucapan Bu Winata.
"B-bukan apa apa, kamu lanjutkan saja pekerjaan mu." Ujar Bu Winata gugup.
"Baiklah." Jawab Pak Akbar.
Karena merasa yakin jika kunci ruang bawah tanah memang berada di tangan Pak Akbar, Bu Winata pun langsung melupakan mengenai kunci itu dan kembali membantu Pak Akbar. Setelah beberapa bulan, kabar orang yang mengambil Patung itupun tidak terdengar lagi. Kejadian sama pun tidak terjadi lagi karena perasaan ketat yang di lakukan Pak Akbar.
__ADS_1
To be contiune >>>