Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Tarian Penuh Darah - Episode 32


__ADS_3

Kakek Dangrau pun akhirnya menemukan Raihan dengan keadaan berdiri dan tidak melakukan apapun. Bisa di rasakan ada hawa dingin yang mengililingi Raihan. Kakek Dangrau pun langsung berniat untuk membiarkan Raihan ketika melihat hal itu.


"Kamu masih ingin meninggalkan ku lagi?..." Ujar seorang perempuan.


"Ahh!.." Ujar Kakek Dangrau terkejut.


Saat Kakek Dangrau berbalik, Raihan secara tiba tiba berada di depannya dengan wajah datar. Raihan pun langsung bertingkah aneh, seakan akan ia adalah perempuan.


"Kamu nakal sekali, kamu mengambil anak kita dan meninggalkan ku membusuk di sini." Ujar Raihan sambil mengelilingi Kakek Dangrau sambil berbicara tersenyum.


"Apa yang kamu maksud?" Tanya Kakek Dangrau waspada.


"Jangan berbohong! kamu yang telah mengambil semuanya dari ku. Kebahagiaan ku, keluarga ku, hidup ku dan anak ku!" Ujar Raihan yang mulai berbicara dengan nada mengancam.


Melihat perilaku Raihan yang sangat tidak normal dan berbicara seolah olah dia adalah seseorang yang bukan dirinya, Kakek Dangrau pun langsung menyadari sesuatu jika ada yang tidak beres.


"S-siapa kamu!?" Ujar Kakek Dangrau gemetar.


"Apakah kamu melupakan ku?" Tanya Raihan.


"Cepat katakan siapa diri mu sebenarnya!" Ujar Kakek Dangrau kesal.


"Maulina..." Ujar Raihan dengan wajah serius.


Kakek Dangrau pun langsung tercengang dan membatu di sana ketika mendengar nama itu. Seketika banyak keringat yang muncul dari tubuh kakek Dangrau.


"Ayolah, cepat lari, jangan diam begitu saja. Nanti kamu kelewatan acara tarian ku lho." Ujar Raihan.


"Acara tarian?... jangan jangan... Kartika!" Kakek Dangrau pun langsung berlari.


"Hahahahaa!.... hahahhaa!..." Raihan pun hanya tertawa tidak jelas seperti Kuntilanak.


Kakek Dangrau pun langsung berlari kembali setelah mendengar kata kata itu. Tapi sama seperti Andre dan Raihan sebelumnya, Kakek Dangrau tidak bisa keluar dari hutan itu dan bahkan malam harinya ia tak kunjung keluar dari hutan itu.


"Di mana ayah? ini sudah malam, seharusnya dia mengurus kedatangan tamu undangan." Gumam Kartika.

__ADS_1


"Ada apa? apakah kamu baik baik saja?" Tanya Angga.


"Tidak apa apa, aku baik baik saja." Ujar Kartika.


Tiba tiba terdengar suara alunan musik dari arah panggung pertunjukan dan secara mengerikan setiap alat musik di sana bermain sendiri. Tentu saja semua itu membuat banyak orang takut. Asap merah pun mulai muncul dari panggung dan membuat orang orang kesulitan melihat.


"Apa apaan ini!?" Ujar Evan yang susah melihat.


Tiba tiba dari asap itu, muncul seorang perempuan dengan wajah cantik jelita dan memakai pakaian layaknya seorang penari. Semua mata pun langsung tertuju padanya ketika perempuan itu mulai menari.


"Jangan lihat tarian itu!" Ujar Wak Ijem yang sudah mengetahui makna tarian dan alunan lagu itu.


Medengar hal itu, ada beberapa orang yang sempat menutup matanya. Tapi sayangnya ada juga yang tidak sempat dan malah terus memperhatikan tarian itu dengan wajah datar.


"Selly! jangan lihat tarian itu!" Ujar Evan.


Prangg!....


Tiba tiba terdengar suara gelas pecah. Dan di saat yang sama perempuan yang memecahkan gelas itu pun langsung meletakkan semua serpihan gelas itu ke meja dan langsung membenturkan kepalanya ke pecahan itu tanpa henti. Tidak ada rasa sakit yang di tujukan wajahnya.


"Jangan... lihat itu..." Ujar Evan sambil menutup matanya.


Selly pun langsung terlihat lemas. Agar tidak menjatuhkan Selly, Evan terpaksa menggunakan tangan nya untuk memegang tubuh Selly dan tangab satunya lagi untuk menutup mata Selly.


Terdengar banyak suara sesuatu yang di benturkan dan banyak suara benda pecah. Banyak orang yang melihat tarian itu dan melakukan bunuh diri dengan berbagai cara. Ada yang mematahkan lehernya dan ada juga yang melakukan hal lain yang bahkan di luar pemikiran manusia normal.


"Ada apa dengan mereka semua? kenapa mereka membunuh diri mereka?" Ujar Reza heran.


"Jangan melihat tarian itu! cepat ikuti arahan ku." Wak Ijem pun langsung menjelaskan rencananya ke Reza.


Evan pun hanya bisa menutup matanya sambil menutup mata Selly juga. Entah harus sampai kapan ia melakukan itu, tapi yang pasti alunan lagu yang terbentuk dari alat musik yang bermain sendiri itu seakan akan mengoda Evan untuk membuka matanya.


"Jangan lakukan Evan, jangan buka mata mu." Ujar Evan meyakinkan dirinya.


Tiba tiba entah dari mana, ada seseorang yang menyeret baju Evan dan langsung membawanya ke suatu tempat. Evan pun hanya bisa pasrah dan tidak melawan, karena dia tau akan percuma melawan jika dia tidak bisa membuka matanya. Akhirnya setelah di seret beberapa saat, Evan merasa jika dia sedang di suatu tempat yang pasti kini ada sedang duduk di lantai yang terbuat dari kayu.

__ADS_1


"Evan buka lah mata mu." Ujar Reza.


Evan pun langsung membuka matanya dan ternyata kini ia sedang berada di salah satu rumah penduduk desa. Terlihat ada Reza, Wak Ijem, Kartika, Angga dan juga Selly yang sedang tidak sadarkan diri. Selain itu ada beberapa warga lain yang berhasil selamat dari tarian penuh darah itu. Dan juga seluruh pintu dan jendela di sana di tutup dengab erat.


"Apa apaan itu tadi?" Tanya Evan yang masih belum paham apa yang terjadi.


"Arwah yang tidak tenang pastinya." Ujar Wak Ijem.


"Arwah yang tidak tenang? apa maksud mu?" Tanya Reza.


"Dia adalah Arwah yang memiliki dendam tak terbalaskan selama hidupnya. Dan kini ia sedang mengincar seluruh warga desa." Ujar Wak Ijem.


"Tapi kenapa dia mengincar seluruh warga?" Tanya Evan.


"Aku tidak tahu, tapi kita harus mencari cara agar bisa membawanya pergi dari dunia ini." Ujar Wak Ijem.


"Tapi bagaimana caranya?" Tanya Angga.


"Kita bisa menggunakan benda ini, aku tidak yakin jika ini akan berhasil. Tapi tidak salahnya jika kita mencoba ini." Ujar Wak Ijem mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.


Evan dan kawan kawannya pun langsung terkejut ketika melihat benda yang di keluarkan oleh Wak Ijem.


"Kita akan menggunakan ini!?" Tanya Kartika heran.


"Iya, tapi kita harus mencari cara mendekatinya dulu. Kita harus menusuk benda ini di tengkuk nya dan kemudian semuanya akan berakhir." Ujar Wak Ijem sambil menunjukkan sebuah paku yang terdapat sebuah kain merah yang di ikat di paku itu.


"Bagaimana kamu bisa mengetahui ini semua?" Tanya Evan.


"Ini hanya firasat ku saja, tapi aku juga yakin jika ini berhubungan dengan pernikahan Kartika dan Angga." Ujar Wak Ijem sambil memperhatikan mereka berdua.


"Apa? kenapa kami? dan di tambah lagi jika itu memang salah kami, kenapa warga lain yang kena batunya? " Tanya Angga.


"Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu." Ujar Wak Ijem.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2