Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Kedatangan Prayan Dan Jessi - Episode 56


__ADS_3

"Selamat... pukul berapa ini sekarang?" Tanya Prayan ke Jessi.


"Kebiasaan sekali! lain kali bawa jam tangan yang ku belikan 3 hari lalu!" Ujar Jessi yang kesal karena setiap ingin mengucapkan salam, Prayan selalu lupa dengan waktu sehingga sering salah mengucapkan salam.


"Kan aku melepasnya saat mandi." Ujar Prayan dengan wajah yang seperti menghindari masalah.


"Pukul 11:45. Lain kali bawa jam tangan itu." Ujar Jessi.


"Sudah sudah kalian berdua jangan bertengkar seperti itu." Ujar Reza.


"Kan Prayan yang mulai duluan!" Ujar Jessi kesal.


"Kan aku lupa membawa jam tangan! lupa kan hal yang wajar." Ujar Prayan yang sama kesalnya.


"Mulai sudah perang saudara ini." Ujar Reza dalam hatinya sambil melihat Prayan dan Jessi yang tak berhenti bertengkar.


Reza pun hanya menonton saja karena ia tidak ingin ikut campur sedikit pun. Evan dan lainnya yang mendengar suara rusuh dari arah pintu pun merasa sedikit penasaran dan bernyata kepada Reza.


"Apakah semuanya baik baik saja Reza!? kenapa di luar cukup ribut!?" Tanya Evan yang berteriak karena malas memeriksa keadaan di luar.,


"Ada orang lain di dalam?" Prayan yang mendengar suara Evan pun langsung segera berjalan menuju ke dalam.


Reza pun langsung segera minggir dengan sedikit heran dengan Prayan yang langsung masuk secara mendadak.


"Ada apa dengan dia?" Tanya Reza.


"Entah mana ku tahu." Jawab Jessi.


Prayan pun langsung mendekati tempat duduk Evan dan lainnya. Terlihat selama beberapa saat ia menatap serius kepada Evan.


"Apakah ada sesuatu di wajah ku?" Tanya Evan yang tidak paham mengapa ia di tatap seperti itu.


"Kamu terlihat familiar bagi ku." Ujar Prayan yang masih menatap Evan.

__ADS_1


"Ehh.. sungguh?" Evan pun mulai sedikit merasa canggung karena di tatap terus.


"Kamu ini jangan beperilaku aneh seperti itu!" Jessi pun langsung segera menarik telinga Prayan dan langsung sedikit marah marah.


"I-iya! maaf! jangan terus menariknya!" Prayan pun langsung memohon agar Jessi melepaskan tarikannya itu.


"Minta maaf dulu!" Jessi pun tetap tidak mau melepaskan telinga milik Prayan.


"I-iya! maafkan aku! sekarang cepat lepaskan telingaku!" Ujar Prayan kesakitan.


"Huftt... akhirnya, kalo begitu cepat duduk yang manis dan jangan membuat masalah lagi!" Jessi pun langsung segera meminta adiknya untuk duduk saja.


"Kenapa ini mirip dengan seseorang yang ku kenal?" Tanya Evan sambil memperhatikan semua kejadian itu.


"Iya, aku juga merasa ingat dengan seseorang.." Ujar Raihan dengan wajah yang tampak pasrah.


Evan dan Raihan pun langsung memperhatikan seseorang yang sama. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Selly. Sekilah ketika Jessi marah itu mengingatkan Evan dan Raihan kepada Selly yang juga sedikit pemarah dan juga bawel.


"Kenapa kalian menatap ku seperti itu? aku tau aku cantik, tapi kalian bukan tipe ku." Ujar Selly menyindir Evan dan Raihan.


Tak lama setelah itu, Bu Winata pun keluar dari dapur bersama Pak Akbar sambil membawa beberapa minuman. Bu Winata pun sedikit terkejut karena melihat Jessi dan Prayan ada di sana.


"Kalian berdua kapan datang ke sini? kenapa tidak memanggil ibu?" Tanya Bu Winata sambil meletakkan minuman di atas meja.


"Kami sudah memanggil dan mengertuk pintu. Ternyata Reza yang membuka pintu. Ku kira Ibu dan Pak Akbar sedang keluar, ternyata tidak." Ujar Jessi dengan ramah.


"Baiklah kalian berdua jangan kemana mana dulu ya, saya akan membuatkan minuman untuk kalian." Ujar Bu Winata sambil berjalan kembali ke dapur.


Pak Akbar pun tetap berada di ruang tamu sambil mulai membaca koran. Sambil menunggu Bu Winata, Evan dan lainnya pun mulai berbincang bincang satu sama lain. Tak lama kemudian, Pelayan rumah itu pun sudah kembali setelah mengantarkan Paman Reza ke kantor.


"Pak Sarya? kamu sudah kembali? kenapa cepat sekali?" Tanya Reza.


"Tuan meminta ku untuk segera kembali karena akan ada rapat yang cukup lama." Ujar Pelayan itu.

__ADS_1


Prankkkk!! Bukk!!


Tiba tiba terdengar suara benda benda terlempar dari arah dapur. Terdengar juga suara piring dan juga gelas yang pecah dan juga perabotan lain yang di lempar atau pun di dorong.


"Suara apa itu? kedengaran seperti benda benda di lempar." Ujar Prayan.


"Ku rasa itu dari dapur! ayo kita periksa!" Ujar Reza.


Mereka semua pun langsung segera berjalan menuju ke dapur untuk memastikan apa yang terjadi. Terdengar pula suara barang barang terlempar itu semakin keras dan keras.


Prankkkk!! Bukk!!


"Apakah kamu yakin jika kita harus masuk ke dalam? sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sana." Ujar Evan ragu.


"Iya kamu benar, dan kita harus segera mencari tahu apa yang terjadi di sana." Ujar Reza.


Dengan sedikit takut, Reza pun langsung segera membuka pintu dapur perlahan lahan. terlihat pula ada banyak barang barang yang berantakan dan juga ada yang pecah dan rusak. Selaim barang barang yang rusak secara tiba tiba, terlihat juga Bu Winata yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri.


"Winata!" Pak Akbar pun langsung segera menghampiri istrinya dengan rasa panik, takut dam cemas yang bercampur aduk.


Pak Akbar pun langsung segera membawa Bu Winata ke kamar kedua orangtua Reza dan segera membiarkan istrinya beristirahat sejenak.


"Apakah Bu Winata baik baik saja?" Tanya Reza.


"Nasib baik dia hanya pingsan, tapi apa sebenarnya yang membuat dia sampai seperti ini?" Pak Akbar pun juga terlihat heran dan juga bingung.


Semuanya pun hanya bisa terdiam dan juga heran melihat hal itu. Tidak ada yang bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Bu Winata sebelumnya. Jika ingin mengatakan jika itu adalah pencuri, itu cukup mustahil karena tempat yang bersuara ricuh kala itu hanyalah area dapur dan juga pintu masuk hanya ada satu. Jika ada seseorang yang ingin masuk lewat jendela, itu juga sedikit mustahil karena harus memecahkan kaca jedela dulu.


"Apakah kita harus memanggil polisi?" Tanya Jessi.


"Itu ide yang bagus, tapi laporan macam apa yang akan kita berikan? tidak mungkin kita harus mengatakan hal itu. Apalagi kami juga ada sedikit masalah lain." Ujar Reza.


Sebenarnya alasan utama mereka tidak memanggil polisi bukan karena kejadian yang aneh, tapi alasan utamanya adalah karena polisi tentu masih menyelidiki kasus pembunuhan yang ada di kos milik Reza. Tentu setelah di minta keterangan, mau tidak mau mereka harus mengatakan jika pernah tinggal di kos itu. Hal itu tentu saja akan memperpanjang masalah yang ada, dan dengan terpaksa mereka harus menyelesaikan masalah aneh ini sendiri.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2