Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Kebakaran - Episode 94


__ADS_3

"Semua cepat pergi!" Bu Winata pun langsung segera meminta semuanya untuk bergegas keluar.


Semuanya pun langsung segera memapah Pak Sarya secara bersama sama dan langsung berjalan menuju pintu. Ketika semuanya sudah berhasil keluar, terlihat kerumunan orang mulai berkumpul sambil menyaksikan rumah yang terbakar itu.


"Tunggu dulu, apakah kalian melihat Pamannya Reza?" Tanya Bu Winata yang menyadari ada orang yang kurang.


Menyadari jika Pamannya masih berada di dalam rumah, Reza pun langsung segera bergegas masuk ke dalam rumah tanpa memikirkan resikonya sedikitpun.


"Reza, jangan ke sana!" Ucap Bu Winata melihat Reza mulai masuk ke dalam rumah itu.


Di dalam rumah, terlihat seisi perabotan telah mulai di lahap oleh api. Di saat Reza tengah berusaha masuk lebih dalam, Herman pun mulai sadar dan kaget mendapati dirinya sudah berada dalam kobaran api yang banyak.


"Dari mana semua api ini berasal!?" Herman pun mulai berusaha berdiri, tapi sayangnya kaki miliknya patah karena jatuh dari lantai dua sebelumnya.


"Kenapa harus sekarang kaki ini tidak bisa bergerak? siapapun tolong aku!" Teriak Herman berharap akan ada pertolongan.


Menyadari ia sudah kesulitan untuk bergerak, Herman pun langsung mulai berteriak meminta tolong. Mendengar suara pamannya, Reza pun langsung segera membalas teriakan itu dan segera menuju ke arah Herman berada. Ketika akan mengulurkan tangannya ke Herman, Reza seketika melihat ringkasan kejadian mengenai perbuatan yang di lakukan Herman saat ini. Dari sengaja memberikan racun dosis rendah pada ayahnya sendiri, sampai tidak sungkan untuk menjadikan keluarganya sendiri sebagai tumbal. Melihat itu semua, Reza pun langsung mengangkat tangannya dengan wajah penuh kekecewaan.


"Apa? Reza cepat bantu aku untuk berdiri! apinya mulai membesar." Herman pun tampak kebingungan dengan Reza yang tiba tiba tidak jadi menolongnya.


"Kenapa kamu rela melakukan itu semua?" Tanya Reza yang tampak menginginkan penjelasan.

__ADS_1


"Apa maksudmu? nanti saja bicaranya, kita harus cepat keluar dari sini!" Ucap Herman yang sudah panik melihat api yang mulai membesar.


"Lebih baik kamu segera mengaku! kamu kan yang menyebabkan semua ini." Reza pun mulai menaikkan nadanya.


"Baik aku mengaku aku yang melakukan semua itu. Kamu puas? sekarang cepat bantu aku!" Herman pun langsung segera mengiyakan apapun yang di katakan Reza karena ia tidak memiliki pilihan lain lagi.


Melihat pengakuan Herman, Reza pun mulai mengurungkan niatnya dan langsung segera pergi sambil menghindari bagian rumah yang mulai berjatuhan dari atas.


"Reza, jangan tinggalkan aku! apa yang kamu mau sebenarnya?" Herman pun mulai panik karena melihat Reza yang mulai meninggalkannya.


"Apakah kamu ingin harta waris milikmu? ambil saja, tapi bantulah aku!" Tawar Herman berharap jika Reza akan membantu dirinya.


"Kamu masih belum sadar meski di keadaan terpojok seperti ini? cih.. terbakar saja kamu sampai ke neraka." Ucap Reza yang melanjutkan larinya.


Setelah Reza berlari, tepat setelah itu terlihat kedua orangtuanya beserta Rena juga ikut berlari bersamanya. Meninggalkan Herman dalam kebakaran itu. Setelah melihat semua itu, Herman pun melihat ke atas dan tiba tiba salah satu bagian rumah terjatuh dan menimpa dirinya. Kemudian setelah berhasil keluar dari Rumah, tampak wajah Reza di penuhi oleh abu dari asap kebakaran. Selain itu semua orang juga lega Reza berhasil keluar dari sana.


"Syukurlah kamu selamat Reza." Ucap Bu Winata sambil membersihkan beberapa abu dari wajah Reza.


"Di mana Pamanmu?" Tanya Raihan.


"Aku tidak tahu dia ada di mana. Sepertinya sekarang dia sudah terbakar hangus di dalam." Bohong Reza sambil memperlihatkan rumah yanv terbakar itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian mobil ambulans dan pemadam kebakaran pun mulai berdatangan. Kini Rumah yang di bangun oleh Kedua orangtua Reza sudah terbakar hangus. Tidak ada lagi yang tersisa. Semuanya terbakar bersamaan dengan kenangan kenangan dan barang barang beharga di sana. Semua sisa kenangan bagus dan sisa kenangan buruk di sana sudah terbakar dan menyatu dengan tanah. Tidak ada lagi yang tersisa.


Selain mobil pemadam kebakaran yang terus berusaha untuk memadamkan api, Bu Mira dan Evan pun langsung segera di bawa ke dalam ambulans dan di larikan ke Rumah sakit karena merekalah yang mengalami luka paling banyak. Di Rumah sakit terlihat Evan yang tengah berbaring di ranjangnya dan memperhatikan pemandangan melalui jendela kamar rawatnya.


"Hah... sudah banyak hal yang terjadi hari ini. Ku harap ini akhir dari semuanya. Semoga Reza tidak mengalami sesuatu yang buruk lagi. Dia sudah mengalami banyak masalah di liburan ini. Ngomong ngomong soal liburan, tampaknya sudah hampir satu bulan liburan ini berlalu. Aku jadi penasaran keadaan Kartika dan Angga, apakah mereka baik baik saja atau tidak? tidak ku sadari waktu berjalan dengan cepat. Oh iya aku baru menyadari sesuatu. Bagaimana bisa Bu Mira menyadari jika paku pemberian Kartika ada di kantong ku? membingungkan sekali. Lebih baik aku tidur saja." Ucap Evan yang mulai memejamkan matanya.


Sementara itu di reruntuhan bekas kebakaran rumah Reza, terlihat Ghakia dengan wujud sebenarnya yang merupakan anak kecil terlihat sedang berdiri di tengah puing puing bangunan yang tidak berbentuk itu. Ia tampak kesal karena kekuatannya sudah sepenuhnya hilang di sebabkan oleh Bu Mira yang menusuk tubuh bonekanya dengan sebuah paku.


"Semuanya gagal. Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mendapatkan mangsa terakhir dan kembali hidup. Semuanya hancur karena wanita sialan itu! jika dia membiarkanku, aku pasti bisa kembali hidup dan mencari orangtua ku." Ucap Ghakia sambil menangis tersedu sedu.


Ghakia pun mulai terus menendang puing puing bangunan itu dengan marah. Sampai ketika terlihat secercah cahaya terang dari belakangnya. Ghakia pun langsung berbalik dan melihat ada seorang pria dan wanita yang tengah berdiri di belakangnya.


"Nakia, anakku. Ayo peluk ibumu." Ucap wanita itu.


"I-ibu? tapi bagaimana bisa kalian mati?" Tanya Ghakia yang tidak percaya jika orangtuanya juga sudah mati.


"Kita mati bersama pada hari itu nak. Sekarang berhentilah berbuat jahat. Ayi kita kembali bersama lagi." Ucap pria itu.


Ghakia atau nama aslinya adalah Nakia pun langsung segera memeluk kedua orangtuanya sendiri dan kemudian menangis dengan sangat keras. Kedua orangtuanya pun membalas pelukan itu, kemudian setelah beberapa saat mereka bertiga pun mulai memudar dan menghilang dengan cahaya yang mulai bertebaran menuju ke atad langit. Mungkin tidak akan ada yang menyaksikan pemandangan mengharukan itu, tapi sepertinya ini akan di kenang untuk selamanya.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2