
Sorenya seisi Rumah sudah tampak normal dan juga baik baik saja. Seakan akan tidak ada yang terjadi. Tapi di Ruang Tamu Pak Akbar tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Wajah Pak Akbar tampak seperti tengah mengkhawatirkan sesuatu yang mungkin itu bukan sesuatu yang bagus. Melihat Pak Akbar yang tampak khawatir seperti itu, Bu Winata pun langsung segera menghampirinya.
"Kenapa kamu tampak khawatir seperti itu?" Tanya Bu Winata heran.
"Bukan apa apa." Jawab Pak Akbar dengan wajah yang masih khawatir.
"Apakah ini masih mengenai Reza?" Tanya Bu Winata mencoba menebak apa yang di pikirkan Pak Akbar saat ini.
"Bukan. Ini mengenai orang itu." Mungkin yang di maksud Pak Akbar adalah Paman Reza.
"Memang kenapa?" Tanya Bu Winata heran.
"Aku rasa ada yang tidak beres dengan keluarga itu. Mengingat Reza adalah yang paling muda, kenapa dia seperti ingin menyingkirkan Reza? Dari mengusirnya dari rumah itu, bahkan sampai memintanya pulang. Aku curiga jika dia ada maksud tertentu." Pak Akbar pun mulai menceritakan kecurigaannya terhadap Paman Reza kepada Bu Winata.
"Sudah kamu lupakan saja orang itu. Tidak ada gunanya kita memikirkannya. Kita hanya akan membuat lelah diri sendiri. Ujar Bu Winata sambil memegang pundak Pak Akbar.
"Kamu ada benarnya juga. Ngomong ngomong apakah pipimu masih sakit?" Tanya Pak Akbat yang baru saja ingat jika pipi Bu Winata sebelumnya terluka karena pertengkaran sebelumnya.
"Masih sedikit perih, tapi mungkin dalam beberapa jam akan terasa lebih baik." Ujar Bu Winata sambil memegang sebuah pembalut luka yang menempel di pipinya.
Sementara itu di kamar, Selly tampak tengah berbaring diam sambil streaming film di laptop miliknya. Ketika tengah enak dan santainya menonton, Raihan malah datang dan membuat Selly merasa terganggu.
"Kamu sedang nonton apa?" Tanya Raihan sambil berbaring di samping Selly.
"Tolong bergeser dan beri aku ruang privasi." Ucap Selly yang tidak menyukai kedatangan Raihan.
"Apakah aku boleh ikut menonton?" Tanya Raihan.
"Coba saja dan kamu akan berakhir seperti perempuan ini." Ucap Selly sambil memundurkan durasi film itu menuju menit ke dua puluh sembilan.
Ketika mencapai menit itu, terlihat wajah perempuan yang seperti terbakar dengan kawat duri yang melilit beberapa tubuhnya. Raihan yang melihat itu pun sedikit berbasa basi dan kemudian pergi menjauh dengan perasaan tidak enak.
"Akhirnya dia pergi juga." Ucap Selly yang merasa lega ketika Raihan sudah menjauh darinya.
__ADS_1
Selly pun kembali menonton film dan tidak lupa memakan camilan yang entah mengapa tidak habis habis di tas tas miliknya. Padahal ia juga membawa banyak barang. Setelah selesai menonton, Selly pun langsung melihat jam yang ternyata telah menunjukkan pukul 7 malam.
"Astaga, sepertinya aku terlalu lama menonton." Ucap Selly yang terkejut melihat jam.
Ketika melihat sekeliling, ternyata seisi kamar sudah kosong hanya tersisa dirinya sendiri. Selly pun mengira jika mungkin saja semua orang sedang berada di Ruang Tamu.
"Mungkin saja mereka sedang berada di Ruang Tamu." Ujar Selly dengan santai.
Ketika membuka pintu, sesuatu yang terduga pun mulai muncul. Ruang tamu tampak sangat kacau dan juga berantakan. Seiisi rumah pun tampak sangat gelap.
"Apa yang baru saja terjadi di sini!?" Tanya Selly heran.
"Selly!" Tiba tiba saja terdengar suara familiar yang memanggil nama Selly.
"Suara ini... bukankah ini Evan!? Evan! kamu ada di mana!?" Tanya Selly yang langsung keluar Kamar.
"Aku ada di Kamar Prayan! tolong buka pintu ini!" Ucap Evan dari balik pintu.
"Tidak bisa! pintu ini memang susah di buka!" Seru Selly dari luar.
"Kamu tetap disini! jangan tinggalkan aku!" Teriak Evan yang tidak ingin Selly meninggalkannya sendiri.
"Baik!" Teriak Selly.
Evan pun terus mencari akal agar bisa membuka pintu tersebut. Tak lama kemudian dari luar kamar terdengar suara Selly teriak. Evan pun langsung segera bertanya apa yang terjadi, tapi suara teriakan Selly malah semakin terdengar keras dan membuat Evan khawatir.
"Ahhhh!!" Teriak Selly dari luar.
"Selly!? apakah kamu baik baik saja?" Tanya Evan memastikan.
"Ahhh! pergi dariku!" Teriak Selly dari luar pintu.
Evan pun langsung segera mendobrak terus pintu itu karena khawatir jika Selly sedang dalam masalah.
__ADS_1
Brugk!! brugkk!! brakkk!!
Setelah terus di dobrak, pintu itu pun akhirnya bisa terbuka dan terlihat seekor makhluk yang sepertinya sudah pernah mereka temui. Apalagi kalo bukan perempuan dengan wujud aneh dan sayap seranga di seluruh wajah dan tubuhnya.
"HuUh?..." Ketika Evan berhasil mendobrak pintu, makhluk itu pun langsung segera menoleh dan melihat ke arah Evan.
Setelah melihat Evan, makhluk itu pun mulai pergi berjalan menuju Kamar Jessi dan menghilang tanpa jejak. Evan pun langsung segera berlari menuju ke arah Selly dan bertanya padanya apa yang barusan terjadi.
"Apa yang terjadi!?" Tanya Evan yang menginginkan jawaban langsung dari Selly.
"A-aku tidak tahu. Makhluk itu entah mengapa sudah berada di belakangku dan membuatku terkejut." Jawab Selly.
"Baiklah yang penting kamu baik baik saja. Tapi sebenarnya kita ada di mana? b-bukan mungkin lebih tepatnya, apa yang baru saja terjadi pada kita?" Tanya Evan heran.
"Entahlah, aku tadi sedang menonton film dan tau tau saat tengah ingin keluar dari Kamar, seisi Rumah sudah seperti ini." Jawab Selly yang menceritakan keanehan yang ia alami.
"Menonton film? bukankah kamu tidur?" Tanya Evan heran.
Mereka berdua pun mulai merasa heran satu sama lain karena cerita mereka berdua sangat berbeda satu sama lain.
"Tidur? sejak kapan?" Tanya Selly heran.
"Kamu tertidur saat tengah menonton film. Setelah kamu tidur, aku memutuskan untuk ke Kamar Prayan dan tiba tiba saja lampu malah mati dan entah mengapa aku tidak bisa membuka pintu." Jelas Evan menceritakan kejadian aneh yang ia alami.
"Kapan aku tidur? aku berani sumpah jika aki tidak tertidur." Ujar Selly yang tidak mempercayai cerita Evan.
"Sudah, sekarang itu tidak penting lagi. Sekarang bagaimana cara kita keluar dari sini?" Tanya Evan sambil memandang sekitar mereka.
"Lebih baik kita berkeliling saja. Mana tau kita menemukan jalan untuk keluar dari sini." Ucap Selly memberikan saran agar mereka berkeliling saja.
"Baiklah, ku rasa itu juga bukan ide yang buruk menurutku." Ucap Evan yang menyetujui saran dari Selly
To be contiune >>>
__ADS_1