DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 10


__ADS_3

Deva merundukkan kepalanya melihat Nathan sudah tertidur pulas di atas perutnya, kedua tangan Nathan memeluk pinggang Deva dan kepala pemuda itu bersandar dengan nyaman di atas perut sang istri. Ia baru tahu kalau suaminya mempunyai sisi manja jika sedang sakit, tetapi itu tidak masalah asal tidak meminta yang aneh-aneh.


Tiba-tiba, rasa kantuk datang dan membuat Deva tanpa sadar ikut memejamkan matanya.


"Ass—" Bunda Lily dan Mama Zoya kaget melihat posisi kedua anak mereka, kedua ibu itu habis keluar mencari makanan. Sedangkan para ayah harus kembali bekerja walaupun hari libur.


"Biarkan saja mereka tidur" Ucap Lily, "Ya, kau benar. Belum genap satu bulan mereka menikah sudah nempel, dan dugaanku selama ini salah. Aku kira mereka akan susah menerima melihat sikap dingin mereka selama ini, tapi ini lebih baik" Urai Zoya tersenyum cerah


"Dan masalah cucu dari mereka berdua, mungkin kita harus lebih bersabar" Lily hanya terkekeh mendengar ucapan mama Zoya.


Sekitar lima belas menit Deva memejamkan matanya, ia sudah terusik. Saat ingin bergerak, ia langsung menyadari kalau ada Nathan yang masih tertidur


"Mama/Bunda, kalian kok nggak banguni aku?" Tanya Deva mencoba mengalihkan rasa malunya melihat posisinya sekarang, "Tadi kamu tidur, yaudah kita biarin. Lagian kamu tidurnya pules, jadi nggak tega" Jawab Lily


"Kamu udah laper?"


"Hm, suapin" Lily mengangguk lalu mendekat dan duduk di samping brangkar


"Nathan banguni aja nggak papa, Nak" Kata Zoya, Deva mengguncang pelan tubuh Nathan


"Gue ngantuk, Va" Ucap Nathan masih setia menutup matanya, "Ada Mama sama Bunda, lepas" Kata Deva, "Kalo boong apain" Tawar Nathan


"Bangun, Nathan. Deva-nya mau makan dulu, kamu juga harus makan" Sahut Zoya, "Nanti abis makan kamu bisa meluk Deva lagi tidurnya, ayo makan dulu"


"Iya"


"Bun, apa tadi Bunda dapet amplop dari orang suruhan ku" Tanya Deva sambil menerima suapan dari Lily, "Hm, ada di tas Bunda. Makan dulu, baru ngobrol" Kata Lily

__ADS_1


"Bayi gede" Ledek Nathan


"Bilang aja iri" Balas Deva


"Ceh"


Usai makan, Deva membaca laporan yang di berikan orang suruhannya. Lalu ia terkekeh dan membuat tiga orang yang ada di sana bingung


"Deva, kenapa?" Tanya Lily, "Sasaran dia sebenarnya diriku bukan Nathan, Bunda" Jawab Deva memberikan laporan tersebut kepada Lily, "Tapi bagaimana bisa orang itu tau kamu di sana?" Tambah Zoya


"Ya, bahkan keluarga tidak pernah memperlihatkan bagaimana wajahmu di media" Kata Lily, "Masalah ini kita tuntaskan setelah Nathan sembuh" Putus Deva.


"Nathan" Panggil Deva. Mereka sekarang hanya berdua, tadi Deva meminta bunda Lily dan mama Zoya untuk pulang beristirahat.


"Hm"


"Sorry, seharusnya yang disini gue bukan lo" Ucap Deva, "Nggak papa, lagian bentar lagi sembuh" Balas Nathan, "Ngantuk?"


"Hm"


"Gue tidur di sofa" Tolak Deva, "Ck, masih muat buat berdua. Pegel kalo tidur di sofa, secara lo juga nggak biasa tidur di sofa" Kata Nathan


"Modus"


"Yaudah"


"Baperan" Deva naik ke ranjang dan merebahkan dirinya di samping Nathan

__ADS_1


"Than" Tegur Deva ketika Nathan memeluknya dari belakang, "Tidur, besok lo sekolah kan?" Tanya Nathan


"Gila, lo sakit masa gue pergi?" Balas Deva membalikkan badannya menghadap Nathan, "Cie..yang khawatir" Ledek Nathan, entah kenapa sekarang ia sangat suka menggoda gadis di depannya


"Makin kesini lo makin ngeselin ya, Than" Kesal Deva, "Biarin, lo juga makin cantik" Deva? Ia berusaha untuk tidak terpengaruh dengan gombalan Nathan, tapi rona merah di pipinya tak bisa di ajak kerja sama


"Blushing cie.."


"Nathan!"


Cup


Deva mematung mendapat serangan mendadak dari Nathan


"Ini rumah sakit, nggak usah teriak" Kata Nathan, "Lo yang ngeselin, gue ntar nggak mau tidur sama lo" Balas Deva


"Oke, ntar gue tinggal bilang sama bunda" Imbuh Nathan


"Kang ngadu" Melihat Deva yang kesal, membuat Nathan segera menarik gadis itu kedalam pelukan nya


"Udah tidur"


"Engap, Nathan. Lo mau gue mati dan lo jadi duda muda" Sungut Deva, "Nggak papa, kan gue ganteng. Masih banyak yang ngantri" Jawab Nathan enteng


"Untung suami"


"Udah ngakuin beneran kalo gue suami lo?"

__ADS_1


"Nggak, gue tarik lagi ucapan gue"


"Ceh."


__ADS_2