
Merasa ragu menggunakan alat yang ia beli tadi malam, Deva memilih langsung ke dokter agar lebih jelas.
"Dokter, tadi malam saya beli ini tapi belum saya gunain, takut hasilnya nggak sesuai" Ujar Deva memperlihatkan tiga alat untuk cek kehamilan
"Anda bisa mencoba alat itu sekarang, jika hasilnya positif kita akan melakukan pemeriksaan" Ujar Dokter tersebut memberikan sebuah cup kecil kepada Deva
"Baiklah" Deva beranjak ke kamar mandi yang ada di ruangan dokter tadi untuk mencoba alat tes kehamilan yang ia beli
Cukup lama Deva berada di kamar mandi, akhirnya ia pun keluar.
"Bagaimana, Nona" Tanyanya
"Dua alat dua garis, yang satunya cuma satu garis" Jawab Deva, Dokter itu mengangguk lalu meminta Deva berbaring di atas brangkar untuk melakukan pemeriksaan.
Dokter wanita yang memeriksa Deva tersenyum, ia duduk di kursinya lalu menulis sesuatu di sebuah kertas.
"Selamat, anda akan menjadi seorang Ibu. Semuanya normal dan usia kandungan anda sekarang baru memasuki minggu ke empat, jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah. Ini resep vitamin untuk anda, anda bisa menebusnya di apotek" Jelasnya menjabat tangan Deva
"Benarkah?"
"Iya, Nona. Dan ini buktinya" Dokter tersebut memperlihatkan hasil USG yang mereka lakukan
"Terimakasih. Kalau begitu, saya permisi" Pamit Deva berdiri dari duduknya
"Iya, Nona. Sekali lagi, selamat atas kehamilan anda" Deva mengangguk lalu keluar dari ruangan dokter.
__ADS_1
Deva masuk ke kamar dan melihat Nathan duduk di atas kasur dengan iPad yang berada di tangannya. Ia berlalu ke kamar mandi tanpa menghiraukan Nathan yang menatapnya
Selesai berganti pakaian, ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Kamu dari mana tadi?" Tanya Nathan menghampiri istrinya
"Mencari bukti" Jawab Deva singkat
"Bukti? Bukti apa"
"Bukti atas perbuatan mu selama ini, dan hari ini aku sudah mendapatkan semuanya" Kata Deva dingin
"Va, katakan dengan jelas" Nathan merasa resah dengan apa yang di bicarakan oleh Deva, seingatnya ia tidak pernah berbuat apapun. Mendengar nada dingin Deva, membuatnya semakin takut
"Kenapa kau takut? Wajah takutmu tak cocok dengan perbuatan mu" Ucap Deva melempar sebuah amplop putih di atas meja. Melihat itu, Nathan segera meraihnya.
"D–Deva"
"Sudah ku katakan, wajah takutmu tak cocok dengan perbuatan mu" Ujar Deva tersenyum, "Deva, kau menakutiku" Kata Nathan memeluk tubuh istrinya, dengan senang hati Deva membalasnya
"Terimakasih, terimakasih banyak" Tanpa permisi, butiran-butiran kecil keluar dari mata Nathan.
"Bagaimana kau bisa tau tentang ini?" Tanya Nathan seraya melepas pelukan nya, "Bang Adnan yang bilang, aku cuma mastiin aja" Jawab Deva
"Kenapa tidak memberitahu ku?"
__ADS_1
Deva menggeleng. "Aku nggak mau kamu kecewa kalau nanti hasilnya nggak sesuai, jadi aku mastiin dulu"
"Apapun hasilnya, kita masih ada banyak waktu bukan. Lagian rezeki udah ada yang ngatur" Balas Nathan, "He'em, kita minta keluarga yang lain datang kesini dan kita juga akan membuat kejutan buat mereka" Lanjut Deva
"Setuju."
Sore hari, Deva berada di dapur bersama Ibu Maira dan dua pelayan untuk menyiapkan makan malam.
"Nak, untuk apa kita masak sebanyak ini. Apa nanti akan ada tamu?" Tanya Maira, "Malam ini kita akan makan malam di rumah, keluarga yang lain juga akan datang" Jawab Deva
"Deva"
Deva tersenyum melihat tatapan tajam Nathan untuk nya, pemuda itu sudah meminta Deva untuk tidak melakukan apapun terutama pekerjaan rumah. Ia juga akan menambahkan pelayan di rumah agar Deva tak memiliki kesempatan mengerjakan tugas rumah
"Ibu tolong kasih tau Deva, dia sedang sakit tapi dia terus memaksa bekerja" Adu Nathan, "Hanya pusing sedikit. Nathan berlebihan, Ibu" Balas Deva tak mau kalah
"Lihat, dia selalu membantah"
"Kenapa kalian bertengkar? Deva, istirahat saja. Sisanya, biar Ibu sama Nathan yang selesaikan" Ujar Maira membuat Nathan tersenyum senang
"Baiklah."
Di kediaman Alexander, seorang wanita paru baya tengah duduk melamun di atas ranjang. Lamunannya terbuyar ketika mendengar suara pintu
"Mas"
__ADS_1
"Ya, kenapa wajamu seperti ini? Ada masalah" Tanya Surya, "Hem, aku kepikiran tentang Nathan. Aku nggak mau hubungan ku dengan Nathan rusak, Mas. Jalan yang kita pilih dulu memang salah, aku mengakuinya. Tapi aku sangat menyayangi Nathan, Mas" Ujar Zoya terisak
"Tenanglah, kita akan memperbaiki semuanya. Aku yakin, Nathan juga sangat menyayangi mu. Nggak semudah itu ngelupain kasih sayang darimu untuknya, bertahun-tahun dia bersama kita. Semuanya akan membaik" Balas Surya merengkuh tubuh istrinya.