
"Arinda, tunggu!" Leo berlari menghampiri Arinda yang baru saja keluar dari supermarket.
"Aku kesini karena ingin mendengar jawabanmu, ini sudah satu minggu tetapi kamu belum memberikan jawaban apapun. Katakan" Tagih Leo, "Kita bicara di tempat yang lebih nyaman."
Keduanya sekarang berada di sebuah ruang privat di salah satu restoran favorit Leo.
"Arinda" Leo memecah keheningan di antara mereka berdua
"Untuk Anin, Arin siap. Tapi, apa boleh Arin meminta sesuatu" Tanya Arinda menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Leonardo, "Katakan saja, aku akan memenuhinya" Jawab Leo senang mendengar persetujuan Arinda, yang artinya ia akan bisa setiap waktu bertemu dengan Anindita.
"Tidak perlu ada pesta, dan.." Ucapan Arinda menggantung karena ragu dengan apa yang ingin ia katakan selanjutnya
"Dan apa?"
"Tugas seorang istri adalah melayani suaminya, tapi apakah Om Leo mau menunggu Arin sampai benar-benar siap" Sambung Arinda ragu
Leo tau kemana arah pembicaraan Arinda. "Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu selama kamu belum mengijinkan nya"
"Terimakasih. Tapi Arin harus pulang sekarang, Anin sudah menunggu" Pamit Arinda berdiri dari duduknya, "Akan ku antar, sekalian aku ingin bertemu dengan Anin" Kata Leo diangguki Arinda.
__ADS_1
"Ibu!" Anindita berlari menghampiri sang Ibu yang masuk kedalam rumah sambil menenteng plastik belanja.
Sekarang Arinda dan Anindita sudah tidak lagi tinggal di kediaman Gautama, awalnya Arinda ingin menyewa rumah tetapi dengan tegas semua orang menolak terutama Deva. Nona muda Gautama memberikannya pilihan, antara tetap tinggal di kediaman Gautama atau tinggal di rumah yang sudah di beli Deva untuk melancarkan rencananya waktu itu.
"Maaf, Ibu pergi terlalu lama" Ucap Arin mensejajarkan tubuhnya dengan Anindita
"Ibu" Arinda paham dengan arah mata putrinya yang mengarah ke Leo.
"Om ini Ayah Anin" Ucap Arinda menggendong tubuh kecil anak perempuannya, "Ayo cium tangan Ayah"
Karena Anindita tipe anak yang penurut dan selalu patuh perintah sang Ibu, jadi ia langsung melakukan apa yang Ibunya katakan.
Hati Leo seperti tersiram air es mendengar panggilan 'ayah' untuknya, sudah sangat lama ia memimpikan hal menakjubkan ini.
"Boleh aku mengajaknya bermain?" Tanya Leo
"Tentu."
Arinda membawa nampan berisi susu dan juga kopi panas ke ruang tengah.
__ADS_1
"Anin, ayo di minum dulu susunya. Arin nggak tau Om Leo suka apa, jadi Arin buatkan kopi" Ujar Arinda, "Tidak masalah, mungkin lain kali kamu bisa membuatkan ku coklat panas" Balas Leo menyesap kopi buatan calon istrinya
"Ibu, Anin mau bobo" Ucap Anindita duduk di pangkuan Arinda
"Tidurlah" Karena sudah mengantuk berat, jadi tidak butuh waktu lama Anindita tertidur.
"Aku akan mengantar Anin ke kamarnya" Kata Arinda, "Biar aku saja, kamu tetap disini" Sahut Leo, "Memangnya Om Leo tau kamar Anin?" Tanya Arinda membuat Leo menggaruk kepalanya
"Aku yang akan menggendong Anin, kamu tunjukkan di mana kamarnya" Arinda mengangguk setuju, Leo mengambil alih Anindita dari tangan Arinda.
Leo merebahkan Anindita di atas kasur. "Karena Anin tidur, jadi aku akan pulang. Besok kita akan fitting baju, persiapkan dirimu"
"Besok?"
"Ya, kita akan menikah minggu depan. Semakin cepat, semakin baik" Lanjut Leo, "Kau keberatan?"
"Tidak sama sekali" Jawab Arinda cepat
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Assalamu'alaikum" Ucap Leo.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."