DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 16


__ADS_3

"Kenapa berhenti?" Tanya Deva menghentikan Intan menghentikan langkahnya, "Gue gugup, ege. Lo liat nggak cowok yang nyender di tembok itu, gantengnya kelewat batas kan?" Ucap Intan


"Hm, gimana kalo kita suit?" Tantang Deva, "Okey, yang kalah harus ngajak kenalan cowok itu" Jawab Intan


"Okey"


"1..2..3.."


Gunting –Deva


Batu – Intan


"Yes, sesuai kesepakatan. Lo harus kenalan sama tu cowok" Kata Intan mendorong pelan punggung Deva


Deva menarik nafasnya, lalu berjalan menampilkan wajah datarnya.


"Permisi" Ucap Deva tanpa ekspresi, tiga cowok yang sedang mengobrol asik langsung menoleh ke arah Deva


"Ya" Oke, Target yang membalas


"Boleh kenalan?" Pinta Deva mengajukan tangannya, "Boleh, gue Dani" Balas Dani-target permainan Deva


"Ben"


"Max"


Deva mengangguk. "Deva"


"Ngom–"


"Thanks, gue cuma menuhin tantangan gue. Bye" Deva beranjak pergi meninggalkan ketika pemuda tadi.


"Gila. Gue kira dia tertarik sama lo, Dan. Ternyata cuma dare. Tadi gue juga heran, cewek itukan terkenal nggak pernah deket sama cowok eh tiba-tiba ngajak kenalan" Ujar Ben


"Udah, biarin aja" Tambah Dani menatap punggung Deva yang semakin menjauh.

__ADS_1


Di tempat Deva, Intan bertepuk tangan melihat keberhasilan Deva.


"Gimana?"


"Dani, Ben, sama Max" Ucap Deva menunjuk menggunakan matanya


"Berhubung kita udah makan, besok gue traktir lo makan" Kata Intan


"Oke."


Nathan menghampiri istrinya yang sedang membuat kopi di dapur.


"Gimana tadi kenalannya? Lancar?" Tanya Nathan, "Hem, dia ganteng. Pantes Intan heboh pas lihat" Jawab Deva, "Dua temennya juga"


"Heem, mungkin dia akan mengejarmu" Ucap Nathan, "Biarkan saja, paling tangannya nanti akan patah saat mencoba ingin menyentuh ku. Bukankah begitu?" Nathan mengangguk setuju


"Dan bisakah kau membuang baju yang kau pakai ini? Aku rasa itu perlu di buang" Ujar Deva mengarah ke baju Nathan yang pemuda itu pakai tadi pagi


"Ini?"


"Tidak, baju ini aku baru membelinya bulan lalu. Mubazir kalau di buang gitu aja" Tentu saja Nathan paham arah pembicaraan Deva, bukan Nathan namanya jika tidak menjahili istrinya


"Benar juga, baju di beli dengan uang dan parfum yang menempel di sana juga di beli dengan uang" Imbuh Deva beranjak pergi membawa secangkir kopi ke kamar


"Kenapa dia gengsi sekali bilang kalau dirinya tengah cemburu, dasar wanita" Ucap Nathan menyusul Deva.


Sebelum ia masuk, ia melepas baju yang ia pakai lalu melemparkan nya ke tempat sampah. Dengan santai ia melangkah masuk kamar dengan telanjang dada, menampilkan otot-otot tubuhnya.


"Ekhem" Nathan duduk di sebelah Deva yang menikmati kopi di balkon kamar.


"Hm"


"Sudah ku buang, kau puas?" Tanya Nathan


"Lumayan"

__ADS_1


"Lumayan?"


"Mandilah, aku sudah menyiapkan air untukmu" Titah Deva, "Nanti saja, lebih baik kita bersenang-senang" Tanpa menunggu lagi, Nathan menggendong bridal Deva masuk ke kamar.


Malam hari, Deva meraba samping tempat tidurnya dan sudah tak mendapati Nathan di sebelahnya. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda dengan keadaan fresh


"Ayo bangun"


"Masih ngantuk" Jawab Deva, "Udah waktunya makan, ntar sakit kalo telat" Kata Nathan


"Mager, Nathan"


Nathan duduk di tepi ranjang, tangannya mengulur membelai wajah Deva. "Mandi atau kita lanjut sampai pagi"


"Astaga, iya iya" Deva membalut tubuhnya menggunakan selimut lalu masuk ke kamar mandi.


Usai makan malam, pasangan muda tersebut beralih duduk berdua menonton tv.


"Mau jalan keluar?" Tawar Nathan


"Kemana?"


"Terserah, aku ngikut aja" Jawab Nathan, "Besok aja deh, masih capek" Kata Deva menyenderkan kepalanya di bahu Nathan


"Bagaimana kalau nanti aku hamil" Tanya Deva, "Kau tidak suka?" Tanya balik Nathan


"Bukan begitu, apa nanti aku akan ambil cuti dulu?" Tanya Deva, "Mungkin, atau kamu kuliah dari rumah" Usul Nathan


"Bosen"


"Ya nggak di awal, kalo kandungan mu udah terlihat aja. Jadi seenggaknya kamu masih bisa nikmatin masa kuliahmu" Jelas Nathan, "Terus nanti kalau lahiran juga cuti lagi" Kata Deva


"Hm, sampe anak kita kira-kira umur empat atau lima bulan. Bukankah kau nanti akan melanjutkan sampai ke S2?" Deva mengangguk


"Nikmati saja dulu yang sekarang, masalah itu bisa di pikirkan nanti" Ucap Nathan mengusap kepala Deva.

__ADS_1


👤 : "Cerita akan terus di-up sampai tamat. Author bukan cuma nulis satu alur cerita, tetapi tujuh alur cerita Author yang udah tamat dan perlu di revisi. Mohon mengerti."


__ADS_2