DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 19


__ADS_3

Nathan, Deva, dan Ibu Maira sekarang berada dalam perjalanan pulang ke rumah Ibu Maira setelah dari rumah sakit untuk melakukan tes DNA antara Ibu Maira dengan Nathan.


Mereka bertiga turun dari mobil dan berjalan memasuki gang kecil. Sampai di depan rumah sederhana Ibu Maira, mereka masuk ke dalam.


"Kalian duduklah, Ibu akan mengambilkan minum untuk kalian" Ucap Ibu Maira, "Tidak perlu repot-repot, Bu" Kata Deva


"Tidak sama sekali" Balas Ibu Maira lalu pergi ke dapur. Tak butuh waktu lama, Ibu Maira kembali dengan membawa nampan berisi minuman


"Maaf, Ibu hanya punya teh untuk kalian" Ucap Ibu Maira, "Tidak masalah, ini sudah cukup" Balas Nathan


"Mm..kalau boleh Ibu tau, sejak kapan kalian menikah?" Tanya Ibu Maira menatap Nathan dan Deva secara bergantian, "Kelas tiga SMA, Bu" Jawab Deva


Ibu Maira mengangguk kecil. "Ibu harap kalian selalu bersama sampai maut memisahkan kalian, saling terbuka, dan saling percaya. Jika ada masalah bicarakan dengan baik-baik, entah itu masalah kecil ataupun besar"


"Iya, Bu. Kami akan selalu ingat itu."


Menjelang siang, Nathan dan Deva masih berada di rumah Ibu Maira. Deva menghempaskan tubuhnya ke atas kasur menatap langit-langit kamar, Nathan duduk di tepi ranjang memandang lurus


"Hem?" Deva merubah posisinya menjadi duduk, memiringkan tubuhnya menghadap suaminya.


"Bagaimana dengan mama Zoya?" Tanya Nathan. Tak bisa di pungkiri, ia sangat menyayangi mama Zoya. Tetapi dengan kenyataan yang baru saja ia alami, membuatnya bimbang.


"Satu kesalahan tak akan pernah bisa menghapus seribu kebaikan, ikuti kata hatimu. Dan ambil keputusan setelah tes itu keluar, aku harap kamu nggak akan lupa sama kasih sayang mama Zoya" Jelas Deva


"He'em" Nathan menidurkan kepalanya di pangkuan Deva


Drrtt drrtt drrtt

__ADS_1


Ponsel Deva berdering, sang empu mengulurkan tangannya meraih benda pipih tersebut.


"Dari siapa?"


"Mama" Deva menggeser tombol hijau lalu mendekatkan handphone nya ke daun telinga.


"Iya, Mah"


"Kamu sekarang di mana, Nak. Dan, apa Nathan bersamamu?"


"Nathan bersamaku, Mah. Dan kita ada di rumah ibu Maira"


"Bisakah kalian pulang sekarang, Mama sama papa ada di rumah kalian"


"Baiklah, kami akan pulang sekarang"


Deva kembali meletakkan ponselnya setelah sambungan telfon terputus.


"Kenapa?" Tanya Nathan penasaran, "Mama sama papa ada di rumah, ayo pulang. Kasian mereka nunggu lama" Ajak Deva


"Males"


"Nathan, semua masalah harus di selesein. Aku nggak mau hubungan mu sama mereka merenggang hanya karna satu masalah" Papar Deva mengusap rahang tegas Nathan, "Ayo, pasti mereka udah nunggu"


"Hm."


Deva yang sudah berdiri di ambang pintu utama rumah mereka berbalik menarik Nathan yang masih berdiri di samping mobil.

__ADS_1


"Va"


"Masalah ini harus selesai secepatnya, Nathan. Apalagi ini nyangkut keluarga, kamu mau jadi nak durhaka?" Nathan menggeleng cepat


"Ayo" Nathan pasrah mengikuti langkah kaki Deva masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam" Terlihat Papa Surya dan Mama Zoya duduk berdua di ruang tengah.


"Maaf, menunggu lama" Ucap Deva mencium punggung tangan mertuanya, Nathan? Ia hanya diam gak berniat mengikuti apa yang di lakukan istrinya.


"Tidak masalah, Nak" Kata Surya tersenyum tipis


"Nathan" Mama Zoya menatap Nathan.


"Jika tidak ada yang penting, saya permisi" Dengan cepat, Deva menahan pergelangan tangan Nathan yang ingin pergi


"Va" Mendengar nada dingin Nathan, Deva melepas cekalannya dan membiarkan Nathan ke lantai atas.


Ketiga orang yang berada di ruang tengah hanya bisa menatap punggung tegap Nathan yang mulai menghilang.


"Nak, kamu pasti sudah tau masalah ini dari Nathan. Sekarang kamu susul dia, kami akan pulang. Mungkin lain kali kita akan membicarakan masalah ini dengan tenang" Ujar Zoya menggenggam telapak tangan Deva


"Iya, Mah. Hati-hati di jalan, dan maaf atas perlakuan Nathan tadi" Kata Deva


"Tidak apa, kami mengerti. Kalau begitu, kami permisi" Deva mengantar Papa Surya dan Mama Zoya sampai di depan.

__ADS_1


__ADS_2