DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 81


__ADS_3

"Bunda" Panggil Deva di ambang pintu, karena pintu kamar orang tuanya terbuka jadi ia tidak perlu mengetuk pintu.


"Masuklah" Dengan langkah pelan, Deva berjalan mendekati Bunda Lily yang berada di balkon kamar.


"Bunda" Deva duduk di sebelah sang Ibu.


Tatapan sedih di mata Bunda Lily tertangkap jelas oleh Deva, wanita itu meraih tangan sang Ibu dan menggenggam nya.


"Maafin Deva, Bun. Deva nggak bermaksud melukai Bunda, Deva hanya nggak mau kalian khawatir, terutama Bunda" Ujar Deva, "Dengan melewati luka itu sendiri?" Imbuh Lily


"Ya, rasanya memang menyakitkan melewati masa itu sendirian. Tapi akan lebih sakit jika Bunda mengetahui tentang hal buruk yang terjadi padaku, jadi aku memilih untuk menyembunyikannya dari semua orang" Jelas Deva, "Mungkin semua akan lebih baik-baik saja kalau aku benar-benar pergi"


"Jangan berbicara buruk seperti itu lagi!" Kesal Lily, "Dari kecil, ayah sama Bunda selalu berusaha menjaga mu dan juga abangmu dengan baik. Dan apa yang kamu lakukan sekarang membuat Bunda merasa gagal menjaga mu"


"Bunda.." Deva masuk ke pelukan Bunda Lily. "Bunda sudah menjagaku dengan baik, maaf karna sudah menyakiti Bunda. Bunda bisa memukulku seperti waktu itu lagi, Deva akan baik-baik saja"


Bunda Lily menggeleng pelan. "Tidak, kejadian itu bahkan menjadi penyesalan sendiri di hati Bunda. Maaf, Bunda sudah memukulmu waktu itu"

__ADS_1


"Tidak masalah, Bun. Itu memang seharusnya Bunda lakukan"


"Ap—" Bunda Lily menghentikan ucapannya saat mendengar suara perut anak bungsunya. Sedangkan Deva menggigit bibir bawahnya menahan malu


"Belum sarapan?" Deva mengangguk.


"Bunda akan meminta pelayan membawakan makanan kemari" Ucap Lily meraih ponsel, kemudian menelfon kepala pelayan untuk mengirimkan makanan ke kamarnya.


Tidak lama kemudian, salah seorang pelayan masuk ke kamar dengan membawa makanan lengkap dengan segelas air.


"Nyonya, ini makanan yang anda minta tadi" Ucapnya seraya menaruh nampan berisi makanan di atas meja, "Ya, terimakasih. Kau bisa kembali bekerja" Balas Lily


"Buka mulutmu, Bunda akan menyuapi mu" Pinta Lily, "Kapan terakhir kali Bunda menyuapi ku seperti ini?" Tanya Deva sambil menerima suapan dari Bunda Lily


"Entahlah, rasanya sudah sangat lama. Bahkan setelah kamu menikah, semuanya langsung berubah" Jawab Lily, "Ya, maaf kalau Deva jarang ada waktu buat Bunda" Kata Deva


"Tidak masalah, sekarang kamu sudah punya keluarga sendiri. Ayah maupun Bunda nggak akan bisa terlalu ikut campur urusan mu, terutama urusan rumah tangga mu dengan Nathan" Urai Lily

__ADS_1


"Cukup, aku sudah kenyang" Bunda Lily menaruh piring yang ada di tangannya lalu beralih mengambil segelas air, kemudian ia berikan kepada Deva


"Istirahat atau ikut Bunda ke bawah?" Tanya Lily, "Ikut Bunda saja, aku ingin berbicara dengan Ambar" Jawab Deva diangguki Bunda Lily.


"Ambar" Panggil Deva saat ia dan Bunda Lily sudah berada di lantai dasar.


"Iya, Nona" Ambar beranjak menghampiri Deva.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, ayo" Ambar mengangguk kemudian berjalan mengekori Deva menuju ke taman belakang.


"Ada apa, Nona?" Mereka berdua sekarang sudah berada di taman belakang.


"Tidak begitu penting. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu karena sudah menjaga Chesa, aku tidak akan melupakan perbuatan mulia mu ini. Sekali lagi terimakasih" Urai Deva tersenyum


"Bukan masalah, Nona. Saya juga senang bisa menjaga anak cantik, tapi kalau bisa lain kali, jangan suruh saya satu atap dengan tuan muda. Dia sangat menyebalkan" Umpat Ambar dan Deva hanya tersenyum, "Tapi, Nona. Apa saya masih bisa bertemu dengan anak cantik?"


"Tentu, kamu bisa bermain dengannya kapan pun kamu mau. Pintu rumah akan terbuka untuk mu dan juga kakakmu. Ohya, nanti malam ajak kakak dan tunangan kakakmu datang kemari. Kita semua akan mengadakan malam disini" Pesan Deva

__ADS_1


"Siap, nanti akan saya sampaikan."


__ADS_2