DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 83


__ADS_3

"Siapa wanita yang sudah kamu hamili?" Tanya seorang wanita lansia berusaha tenang, "M–mantan istrinya Adnan, Ibu" Jawab sang anak menunduk pelan


"Apa?! Kau—"


"Semuanya terjadi karena kecelakaan, Ibu. Wak—"


"Kita ke rumah kakakmu sekarang" Ajak sang Ibu


"Tap—"


"Jangan menundanya lagi, Leo! Kau harus bertanggung jawab walaupun semua yang terjadi hanyalah kecelakaan, anak itu butuh status. Ibu tidak ingin mempunyai anak yang tidak bertanggung jawab!" Tegas sang Ibu berjalan keluar rumah.


Di kediaman Gautama, Bunda Lily, Arinda, dan Deva sedang asik mengobrol sambil menemani Anin dan Baby Chesa bermain.


"Arinda, apa ada masalah" Tanya Lily melihat wajah murung mantan menantunya, "Tidak ada, Bunda" Jawab Arinda


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


"Leo? Kapan kamu pulang, dan kenapa tidak mengabari" Tanya Lily memeluk sekilas adik laki-laki nya


"Tadi malam, Kak" Jawab Leo tersenyum tipis


"Ibu, ada apa?" Bunda Lily menangkap wajah berbeda dari Ibu dan adiknya.


"Ada masalah serius yang harus kita selesaikan, telfon Nanda sama Adnan dan suruh mereka pulang" Titah Oma Yosy


"Y–ya, baiklah"


Di tempat Anin dan Baby Chesa bermain, Arinda memegang erat tangan Deva.


"Deva, apa Oma sudah tau semuanya? Kakak takut, Va" Ucap Arinda hampir menangis, "Kak, tenanglah. Aku nanti yang akan ikut berbicara" Kata Deva menenangkan mantan kakak iparnya.


Kini Ayah Nanda, Oma Yosy, Bunda Lily, Leo, Adnan, Arinda, dan Deva berkumpul di ruang keluarga.


"Bisa Ibu katakan sekarang, kenapa Nanda sama Adnan di minta cepat pulang?" Ayah Nanda memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Ya. Ini masalah tentang Arinda dan putrinya, Anindita" Jawab Oma Yosy, "Ibu, katakan dengan jelas. Ada masalah apa yang menyangkut Arinda dan Anindita?" Sahut Lily


"Adikmu Leo adalah ayah kandung Anindita" Jawab Oma Yosy


"Apa?!" Ayah Nanda, Bunda Lily, dan Adnan syok dengan penuturan Oma Yosy.


"Kakak, itu semua kecelakaan, jangan salahkan Arinda dalam hal ini. Dia korban jebakan dari teman-temannya" Sahut Leo cepat, "Katakan dengan jelas, Om Leo" Tutur Adnan


"Ya, Adnan. Waktu itu Arinda di bawa paksa teman-temannya ke club walaupun Arinda sudah menolak ajakan mereka—


Flashback on


"Arinda, ayolah. Kita jarang kumpul kayak gini, masa lo nggak mau nurutin kita. Suami lo nggak akan tau lo disini" Ujar si B, "Gue tetep nggak bisa, kalo di tempat lain gue si fine-fine aja" Balas Arinda yang hendak pergi tapi langsung di tarik masuk ke empat teman-temannya masuk ke dalam club


"Apa yang kalian lakukan!!"


"Bersenang-senang, Arinda! Tenang aja, nggak akan ada yang lihat kok"


Dari kejauhan, seorang pria yang masih setengah sadar melihat Arinda dan teman-temannya.


"Bro, ngeliatin nya gitu amat. Naksir lo sama tu cewek, pinter banget lo nyarinya" Ledek pria A tau arah pantau temannya, "Ck, mending lo diem deh. Gue lagi fokus nih" Balas pria yang tak lain adalah Leonardo Smith


Leo berusaha menajamkan matanya saat melihat salah satu teman Arinda memasukkan sesuatu ke dalam minuman menantu keluarga Gautama tersebut.


Saat ia ingin mencegah, Arinda tanpa curiga langsung meminum jus apel miliknya. Leo menjambak rambutnya kasar, ia menyambar segelas air lalu ia tuangkan pada wajahnya agar kesadarannya kembali.


"Shiittt!!" Gelagat aneh Arinda yang mulai muncul pun juga tertangkap oleh mata elang Leo. Melihat Arinda bergegas keluar, Leo pun segera mengikutinya takut ada seseorang yang berniat jahat kepada istri keponakannya.


"Arinda!"


Arinda membalikkan badannya. "Om Leo?"


Leo membuka pintu mobilnya lalu mengambil sebotol air mineral.


Byuurrr


Leo menyiram tubuh Arinda menggunakan air tersebut. "Maaf, Oma terpaksa menyiram tubuhmu. Pakai ini" Leo melepas jasnya agar tubuh basah Arinda tidak terlihat jelas

__ADS_1


"Cepat pulang, sepertinya temanmu sudah mencampur obat ke minuman mu" Ujar Leo


"Ha? Obat" Arinda membeo, tubuhnya semakin lama semakin terasa panas. Ada sesuatu yang bergejolak di tubuhnya


"Om..badan Arin panas!!"


"Cepat pulang, Arin"


"Ashh...!!!" Melihat kondisi Arinda yang tidak mungkin untuk menyetir, akhirnya Leo menarik Arinda masuk ke dalam mobilnya.


"Bertahanlah sebentar" Ucap Leo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, "Om, kenapa badan Arin panas begini. Tolong nyalain AC-nya dong" Pintar Arinda


"Apa yang kamu lakukan, Arin!" Sentak Leo saat melihat Arinda mulai melepas bajunya, "Arin kepanasan, Om. Om Leo tutup mata aja" Kata Arinda yang sudah tak tahan dengan panas yang menjalar di dalam tubuhnya


"Pakai kembali pakaian mu, Arin. Temanmu sebenarnya memang sudah berencana menjebak mu, lihat! Mereka membawamu ke club yang jaraknya jauh dari rumah" Gerutu Leo


"Om, tolong Arin. Badan Arin panas" Leo tak menggubris, ia berusaha fokus menyetir agar cepat sampai di kediaman Gautama


"Om..." Akal sehat Arinda perlahan mulai menghilang, entah dorongan dari mana ia berani mencium Leo


"Arin, menjauhlah!"


"Om Leo jahat! Arin kepanasan tapi Om nggak mau bantuin" Rengek Arinda, "Arin kepanasan, Om Leo!"


"Bersabarlah sebentar" Leo berusaha untuk kembali tenang dan fokus


"Kalau Om nggak mau bantuin Arin, Arin lompat dari sini" Ancam Arinda mencoba membuka pintu mobil, "Hey, jangan coba-coba!" Peringat Leo


"Om jahat!" Leo memijak rem mobilnya saat tiba-tiba Arinda duduk di pangkuan nya.


"Arinda"


"Om Leo jahat! Arin kepanasan, Om.." Leo berusaha menurunkan Arinda dari pangkuan nya tapi selalu gagal karena Arinda memeluk lehernya


"Ari—" Bibir Leo di bungkam Arinda menggunakan bibirnya.


[ Dan terjadilah yang seharusnya tidak terjadi di dalam mobil ]

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2