DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 91


__ADS_3

"Grandma! Grandpa!" Gadis berusia enam tahun berlari masuk ke kediaman Gautama.


"Kalian sudah datang" Ucap Lily menempatkan sang cucu di pangkuannya, "Duduklah"


Orang tua Chesa mengangguk.


"Ada apa, Bunda? Kenapa kami di minta datang ke mari" Tanya Deva, "Jumat depan kita akan pergi ke pesantren, anak temen Ayah baru saja melahirkan, jadi mereka buat syukuran dan mengundang kita kesana" Jelas Nanda


"Jumat depan?"


"Iya, dan tadi temen Ayah juga bilang kalau kita akan menginap di sana untuk beberapa hari" Lanjut Nanda, "Kalau untuk menginap, Deva sama Nathan nggak bisa janji, Yah" Timpal Nathan


"Iya, yang penting kita kesana dulu" Kata Nanda, "Apa bang Adnan ikut?" Tanya Deva


"Tentu, Keluarga Gautama akan datang ke sana semuanya" Jawab Nanda.


Di kediaman keluarga Smith, Anindita asik belajar bersama sang ayah di ruang tengah sampai seorang wanita menghampiri mereka.


"Ekhem"


"Ibu"


"Gimana tadi sekolah Anin?" Tanya Arinda lembut, "Banyak PR, Ibu" Jawab Anin membuat kedua orang tuanya tertawa


"Kau tidak bertanya kepada ku?" Sindir Leo, "Memangnya apa yang harus Arin tanya dari Mas Leo?" Tanya Arinda, "Anin, kalau sudah selesai, langsung istirahat. Ini sudah waktunya tidur siang"


"Siap, Ibu" Anindita dengan cepat menyelesaikan sisa soal yang ada di buku tulisnya, karena ia sudah merasa sangat lelah.


Setelah semaunya selesai, sesuai perintah sang Ibu, ia langsung pergi ke kamar.


"Mas"

__ADS_1


"Hm"


"Mas.."


"Apa"


"Nggak mau yaudah, buat Anin aja" Leo segera menahan pergelangan tangan Arinda saat wanita itu hendak beranjak pergi.


"Tadi marah" Cibir Arinda, "Coba mana?" Tagih Leo menengadahkan tangan kanannya


"Di kamar, laci deket kasur" Jawab Arinda, "Kenapa nggak di bawa kesini aja" Kata Leo berdiri, "Kalau Mas Leo nggak mau yaudah nggak papa, Arin kasih ke Anin aja" Balas Arinda


"Iya iya" Leo berlari kecil menuju ke kamar.


Arinda yang berada di ruang tengah duduk diam sambil menunggu Leo kembali, tetapi sudah hampir sepuluh menit, pria itu tidak kunjung kembali.


"Kenapa lama sekali, pasti mas Leo nggak liat" Gumam Arinda beranjak menyusul sang suami.


Ceklek


"Aku tungguin dari tadi di bawah, nggak ketemu?" Tanya Arinda duduk di samping Leo


"Ketemu"


"Mas"


"Terimakasih" Tubuh ramping Arinda sedikit terhiyung ke belakang ketika Leo memeluknya.


"Aku kira kamu nggak suka" Ucap Arinda, "Aku sangat suka, bahkan sangat sangat sangat. Aku akan jadi ayah dari dua anak" Kata Leo menitikkan air matanya, "Kapan kamu tau tentang hal ini? Dan kenapa tidak memberitahu ku"


"Aku tau hal ini di hari yang sama dengan dulu saat aku tau aku hamil Anindita, Mas. Semuanya seperti berputar kembali di kepalaku"

__ADS_1


"Stuuut..itu hanya masa lalu, sekarang semuanya sudah baik-baik saja" Ucap Leo menarik Arinda ke dalam pelukannya.


***


Saat makan malam tiba, entah habis terbentur apa tiba-tiba Deva marah-marah kepada pelayan.


"Sayang, ada apa? Kenapa kamu memarahi mereka" Tanya Nathan


"Aku sudah mengatakannya, aku tidak ingin ada keranjang buah di atas meja makan, tapi kenapa belum di singkirkan. Dan lagi, kenapa semua piring warnanya putih polos? Aku mau ada hiasan di pinggiran nya" Sergah Deva memprotes


"Kamu tinggal meminta mereka menggantinya, nggak perlu marah-marah. Men—"


"Kau bela saja mereka"


"Dev—" Sebelum Nathan menyelesaikan perkataannya, Deva sudah pergi.


"Maaf atas perlakuan Deva kepada kalian, mungkin dia terlalu lelah karena bekerja seharian. Kalian bisa lanjut bekerja" Ujar Nathan


"Tidak papa, Tuan Muda."


Ceklek


Nathan masuk ke dalam kamar, terlihat Deva sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Va"


"Hem"


"Apa ada masalah? Kenapa kamu tiba-tiba marah kayak tadi, nggak biasanya kamu kayak gini sama pekerja kita" Tanya Nathan


"Entahlah, aku sibuk sekarang dan tidak ingin membahasnya lagi."

__ADS_1


__ADS_2