DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 87


__ADS_3

"Tidak lagi Arinda, sekarang kamu sudah milik orang lain. Mas Adnan hanya masa lalumu, sekarang jalanmu dan dia sudah berbeda. Cobalah untuk melupakan nya" Ucap Arinda bermonolog sambil menatap dirinya di depan cermin dengan balutan gaun pengantin


"Arinda" Mendengar namanya di panggil, Arinda pun menengok.


"Bunda, Deva"


"Ayo kita turun, semuanya sudah menunggu" Ujar Lily, "Terutama om Leo. Kakak tau, om Leo tadi gemeter pas mau ijab qobul" Sahut Deva meledek adik Bunda Lily


"Jangan menggoda Kakak mu lagi. Lihat, Kakak mu semakin gugup. Ayo, Nak. Jangan dengarkan perkataan adikmu" Tegur Lily menuntun Arinda keluar dari kamar diikuti Deva di belakang


Semua arah mata teralih ke tangga. Dua wanita beda generasi menuntun pengantin wanita menuju ke ruangan.


Arinda mengalihkan pandangan nya saat tidak sengaja bertatap mata dengan mantan suaminya. Akan sedikit sulit untuk melupakan masa lalunya jika masih dalam satu keluarga.


Setelah semua rangkaian acara selesai, para tamu pamit pulang.


"Om Leo, awas ya kalau sampai kak Arin lecet" Bisik Deva di telinga Leonardo, "Kau berani mengancamku, Nona?" Balas Leo mencincingkan kedua matanya


"Ya, kenapa tidak?" Imbuh Deva


"Deva, jangan menghambat malam pertama mereka. Ayo kita pulang" Ajak Nanda menyenggol bahu adik iparnya


"Kak Nanda.."


"Kenapa, Om Leo? Deva udah dewasa ya, nggak usah malu-malu" Tambah Deva bertosria dengan sang Ayah, "Ayah sama anak sama saja" Gerutu Leo melenggang pergi meninggalkan sepasang ayah dan anak itu

__ADS_1


"Kayaknya lagi seru" Celetuk Lily menghampiri suami dan anak perempuannya, "Ya, kami berhasil menggoda om Leo" Jawab Deva


"Dasar, ayo kita pulang."


Ceklek


Leo masuk ke kamar dan melihat sang istri baru saja selesai berganti pakaian, malam ini mereka akan menginap di rumah Arinda dan besok akan pindah ke apartemen Leo.


"Om–maksudku Mas, aku sudah menyiapkan air" Ucap Arinda menundukkan kepalanya, "Tegakkan kepalamu, Arinda" Tutur Leo


Arinda menurut.


"Jangan gugup, aku tidak akan melanggar janjiku. Aku akan tidur di sofa, jadi kamu bisa tidur dengan nyenyak" Ujar Leo


"Kau ingin aku khilaf dan melanggar janji ku?"


Arinda menggeleng cepat. "Maaf"


"Tidak perlu minta maaf, aku mengerti. Kita lakukan kegiatan kita seperti biasa saja" Urai Leo menepis cairan bening yang keluar dari mata Arinda menggunakan telunjuknya.


Sedangkan di kediaman tuan muda Alexander, seorang wanita cemas melihat Baby Chesa terus berusaha berjalan sendiri padahal sudah berkali-kali jatuh. Setiap Baby Chesa terjatuh, ia akan menangis dan kembali tenang setelah sang Ibu memangkunya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi balita itu tidak berniat untuk memejamkan matanya dan lebih memilih berjalan di seluruh penjuru kamar orang tuanya.


Nathan hanya tersenyum melihat wajah cemas sang istri. "Kamu tenang saja, Chesa akan baik-baik saja. Jatuh bangun sudah biasa, dia akan mulai terbiasa"

__ADS_1


"Na na na" Dengan senyum cerah, Baby Chesa berjalan menghampiri sang Ibu.


"Anak Bunda" Deva mendekap dengan penuh kasih sayang tubuh mungil itu.


Wanita itu terkekeh geli ketika tangan mungil Baby Chesa membelai wajahnya.


"Nathan, aku masih belum percaya kalau Chesa sudah sebesar ini. Waktu berlalu begitu cepat, dan aku sudah membuangnya begitu saja" Ujar Deva tersenyum getir, "Stutt..semuanya di luar pemikiran kita, jangan pernah menyalahkan dirimu lagi" Urai Nathan merengkuh tubuh sang istri


Pasangan itu asik berpelukan sampai tidak sadar putri mereka sudah tertidur pulas di pangkuan sang wanita.


"Dan Che–dia sudah tidur?"


"Mung–astaga, Nathan" Hampir sama Deva memekik kuat saat tiba-tiba Nathan menggendong bridal dirinya yang masih berposisi memangku Baby Chesa


"Tenagaku masih kuat, Sayang. Jangan khawatir"


Cup


Cup


Dua kecupan mendarat di pipi Baby Chesa dan kening Deva sebelum ia merebahkan kedua nya di atas kasur.


"Selamat malam"


"Malam, Ayah Chesa."

__ADS_1


__ADS_2