
Dua buah mobil terparkir dengan sempurna di parkiran kampus secara bersamaan, pemilik kedua mobil tersebut adalah Nathan dan Deva.
Deva turun terlebih dahulu dari mobilnya dan berdiri di depan mobil menunggu Nathan, sepasang kaki jenjang menjulur keluar dan terlihatlah seorang pemuda dengan pakaian casual nya
"Nathan!" Tatapan Deva berubah menjadi tajam ketika melihat Melda berlari ke arah suaminya. Belum sampai Melda memeluk Nathan, dengan cepat Deva menghalangi nya dengan buku tebal yang berada di tangannya. Alhasil, wajah Melda terbentur keras dengan buku tersebut.
Apa yang di lakukan Deva kepada Melda tak luput dari pandangan semua warga kampus.
"Lo apa-apaan sih?!" Sungut Melda menatap garang Deva
"Nggak sengaja" Jawab Deva santai sembari membolak-balikan bukunya tadi, "Nggak sengaja gimana? Lo tadi berdiri di sana, kenapa tiba-tiba lo disini terus benturin muka gue sama buku lo!" Sentak Melda
"Oh itu, gue cuma nggak mau apa yang sudah jadi hak gue di sentuh orang lain" Ucap Deva masih dengan nada santai, "Hak? Hak apa yang lo maksud. Nggak jelas banget jadi cewek" Dengus Melda
"Nathan, udah yuk kita masuk. Jangan ladenin cewek nggak jelas kayak dia" Lagi-lagi saat Melda ingin menyentuh Nathan, Deva sudah menghentikan nya dengan mencekal tangan Melda lalu menghempaskan nya
"Udah gue bilang, gue nggak mau hak gue di sentuh orang lain" Peringat Deva penuh penekanan, "Maksud lo Nathan? Dari mana lo bisa nge-klaim Nathan jadi hak-lo? Lo istrinya" Sinis Melda
"Kalau iya kenapa?" Balas Nathan merangkul pinggang ramping istrinya, "Gue kasih tau, Deva bini gue, dan lo cuma masa lalu gue. Jadi, lebih baik lo pergi dan jangan ganggu gue ataupun Deva"
Nathan menarik pelan pergelangan tangan Deva masuk ke dalam, membelah kerumunan yang menyaksikan mereka dari tadi.
Mahasiswa/I yang ada di sana saling berbisik mendengar ucapan Nathan yang mengatakan bahwa Deva adalah istrinya.
Menantu keluarga Gautama itu menoleh ke arah gadisnya.
__ADS_1
"Kenapa cemberut gitu, hm" Tanya Nathan, "Udah nggak mood, kamu ke kelas sendiri" Deva melepas genggaman tangan Nathan dan berlalu pergi
"Deva! Deva!" Wanita itu tak menggubris Nathan yang terus memanggilnya.
"Aish..bentar lagi dosen masuk, Deva pergi. Bodo amat, mending gue susul si Deva" Ucap Nathan berjalan mencari Deva yang sudah menghilang.
Di markas G2, seorang wanita duduk terdiam di sebuah ruangan. Dengan keadaan perut yang semakin membesar, membuatnya cepat kelelahan.
Tidak lama, indra pendengaran nya menangkap suara langkah kaki yang mulai mendekat.
"Bagaimana kabarmu" Tanya orang itu, Arin menoleh dan melihat suaminya berdiri tak jauh darinya duduk. "Mas Adnan"
"Mas, aku—"
Arin hanya bisa menghela nafasnya sambil menatap bingkisan buah yang Adnan letakkan di atas meja, harta yang selama ini ia pikirkan yang membuatnya berakhir di ruangan dengan pencahayaan minim. Walaupun seperti itu, ruangan itu sudah di sulap seperti kamar karena mengingat ada kehidupan lain di dalam tubuh Arin.
Jika tidak, oma Yosy dan Deva akan menempatkan wanita itu di sebuah gudang tak layak pakai atau langsung di lempar di penjara bawah tanah.
"Deva" Dengan nafas terengah-engah, Nathan berjalan ke arah Deva yang asik memakan siomay di kantin di temani segelas es teh manis
"Kenapa?"
"Nyariin kamu, astaga. Bagi dong" Pinta Nathan membuka mulutnya dan Deva pun menyuapi suaminya
"Kenapa nggak masuk?" Tanya Deva lagi, "Nggak, ntar kamu aneh-aneh lagi" Kata Nathan menyeruput es teh milik Deva
__ADS_1
"Ceh, seharusnya aku yang was-was. Tapi boleh juga, buat cadangan" Lanjut Deva, "Eh? Enak aja, nggak boleh" Sahut Nathan tak terima
"Cadangan, Nathan. Nanti kalo kamu kerja aku bisa jalan-jalan" Dalam hati Deva tertawa kencang melihat ekspresi wajah suaminya.
"Aku kerja di rumah"
"Hm, pesenin siomay lagi dong. Masih pengen" Pinta Deva
"Iya bentar" Nathan beranjak pergi memesan siomay permintaan Deva. Tidak lama Nathan kembali, tetapi kali ini ia juga membawa segelas susu
"Susu?"
"Hem, tadi pagi kamu lupa jadi aku bawa dikit. Minum dulu susunya" Jawab Nathan menyerahkan segelas susu tersebut
"Terimakasih"
Dari arah kejauhan, ketiga pria tengah memerhatikan interaksi antara Deva dan Nathan.
"Mereka beneran udah nikah? Terus itu susu, kok warnanya pink?" Cerca Dani mengerutkan dahinya, "Hem, mungkin susu kudanil" Timpal Ben asal
"Ck, ngapain kalian mikirin warna susu. Kita kesini kan cuma mau mastiin mereka udah married belum" Tambah Max, "Udah yok pergi, itu urusan mereka" Ajak Dani
"Cih, padahal tadi lo yang paling ngebet pengen tau. Udah yok" Cibir Ben melenggang pergi diikuti Max dan Dani.
👤 : "Jangan lupa jaga kesehatan!"
__ADS_1