
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
"Maaf, Deva baru datang" Ucap Deva mencium punggung tangan Ayah Nanda, Bunda Lily, Abi Farhan, dan Uma Farah.
"Tidak masalah, Nak. Silahkan duduk" Ucap Farhan, Deva mengangguk.
"Dia anak bungsu ku, Deva. Istrinya Nathan" Tutur Nanda
Deva memberikan isyarat kepada Reza untuk memanggil penjaga yang ia tugaskan untuk membawa bingkisan yang ia beli untuk keluarga Abi Farhan.
Sekitar 3-4 orang masuk ke dalam membawa banyak bingkisan ke dalam.
"Paman/Bibi, Deva nggak tau apa yang kalian suka, jadi Deva beli semua" Ujar Deva menggaruk pelipisnya, "Kenapa repot-repot, kami sudah senang kalau kalian mau datang kemari. Secara kalian orang-orang sibuk" Ujar Farhan tertawa
"Sayang, cuci tanganmu dan jenguk keponakan mu di kamarnya. Kami tadi sudah, tinggal kamu yang belum" Titah Lily diangguki sang putri
"Tuan/Nyonya, berhubung tugas saya sudah selesai. Saya pamit undur diri" Ucap Reza membungkukkan tubuhnya, "Ah ya, hati-hati di jalan" Balas Nanda.
Ceklek
Deva membuka pintu kamar putri abi Farhan dengan perlahan. Ia berani melangkah masuk setelah sang pemilik kamar memberikan isyarat untuk masuk
__ADS_1
"Biasa saja, jangan terlalu formal" Ucap Deva
"Baiklah"
"Selamat atas kelahiran baby boy-nya" Ucap Deva
"Terimakasih. Terimakasih juga karena sudah mau menyempatkan waktu datang kemari" Ucap Kesya, putri abi Farhan.
Perhatian Deva maupun Kesya teralih ketika pintu kamar terbuka.
"Dani"
"Deva"
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Kesya menatap Deva dan Dani secara bergantian, "Maybe. Kami dulu satu kampus, hanya beda fakultas saja" Jawab Deva, dan Kesya menatap bingung Ibu satu anak itu
"Terimakasih banyak, jadi merepotkan"
"Bukan apa-apa."
Malam harinya, Deva duduk di atas rumput sambil mengerjakan tugas kantornya dengan di temani segelas cappucino panas.
"Sayang"
__ADS_1
Deva menengok ke belakang. "Ya"
"Kerjaannya tinggal dulu, dari tadi siang kamu belum sempet istirahat" Ujar Nathan mengusap kepala istrinya, "Aku nggak akan bisa tenang kalau pekerjaan ku belum selesai, Nathan" Balas Deva
"Iya, tapi tubuh kamu juga butuh istirahat" Tambah Nathan, "Sebentar lagi selesai, Daddy Chesa" Bujuk Deva
"Hm" Nathan mengalihkan pandangannya
"Daddy Chesa.."
Sang suami tak merespon.
"Baiklah, aku istirahat sekarang. Kau puas?" Putus Deva mengalah, "Sangat puas, ayo ke kamar" Ajak Nathan membantu Deva membawa barang-barang nya.
"Kamu kenapa, Va?" Tanya Nathan meletakkan laptop sang istri di atas meja, "Nggak papa, cuma capek aja" Jawab Deva memijat tekuk-nya
"Sudah ku bilang jangan terlalu di paksa" Omel Nathan, "Uu..Daddy Chesa perhatian banget, jadi makin sayang" Goda Deva mencolek hidung suaminya
"Tidak akan berpengaruh" Lelaki itu tau kalau sang istri mencoba membujuknya agar tidak marah
"Baiklah-baiklah, aku minta maaf" Ucap Deva, "Daddy Chesa, ayo tidur. Aku sudah sangat lelah"
"Hem" Nathan menggiring Deva berbaring di atas ranjang, Chesa? Dia sudah tertidur pulas bersama kedua orang tua Deva.
__ADS_1
"Daddy Chesa, bagaimana kalau nanti aku hamil lagi? Apa kau akan marah seperti waktu itu" Tanya Deva menatap serius wajah suaminya
"Bagaimana bisa aku marah saat mendapat berita gembira? Aku hanya tidak ingin kamu tertekan dengan memikirkan siapa nanti penerus perusahaan ku, semuanya sudah di atur oleh Tuhan. Sebaik apapun rencana kita, tapi kalau Tuhan tidak setuju, ya sama saja. Hasilnya akan nihil" Jawab Nathan, "Yang terpenting untukku sekarang adalah dirimu dan Chesa, aku sudah sangat bahagia kalau kalian tetap ada di sampingku."