
"Nathan, kenapa kita kesini?" Tanya Deva saat Nathan berhenti di depan pusat perbelanjaan, "Hari ini kita akan belanja, aku akan menuruti apa yang kamu mau" Jawab Nathan melepas seatbelt nya
"Serius?"
"Hem, ayo" Mereka turun dari mobil, Nathan menggandeng tangan istrinya masuk kedalam mall tersebut.
"Kita mau kemana dulu" Tanya Nathan, "Kita ke restoran dulu" Jawab Deva menarik tangan Nathan.
Sampai di restoran, Deva menyuruh Nathan duduk dan dirinya menghampiri pelayan yang sedang melayani pelanggan lain.
Deva membisikkan sesuatu kepada pelayan tadi lalu duduk bersama Nathan.
"Kamu bicara apa sama pelayan tadi" Tanya Nathan, "Bukan apa-apa" Jawab Deva cepat. Dari raut wajah Nathan sudah bisa Deva tebak kalau prianya sedang cemburu, pasalnya pelayan tadi adalah seorang pria.
"Hm" Deva hanya bisa mengulum senyumnya dan memilih memainkan benda pipih miliknya.
"Permisi, Nona. Ini pesanan anda tadi" Ucap pelayan yang Deva hampiri tadi, ada tiga pelayan yang datang ke meja Nathan dan Deva membawa pesanan.
"Terimakasih, bayar pakai ini saja" Kata Deva menyodorkan sebuah black card miliknya, "Pakai ini saja" Sahut Nathan yang juga menyodorkan kartunya, "Kau tidak dengar, pakai kartu ini"
Pelayan pria itu mengangguk lalu mengambil kartu milik Nathan lalu pergi ke kasir.
"Kenapa kau marah? Dia kesini cuma mengantar pesanan ku" Ucap Deva menggenggam tangan kiri Nathan yang ada di atas meja, "Bukankah kau tadi yang bilang ingin menurutiku? Kenapa sekarang kau marah"
__ADS_1
"Aku nggak marah"
"Kalau nggak marah kenapa mukanya di tekuk gitu?" Balas Deva, Nathan menghela nafas lalu mengukir senyuman di wajahnya.
Pelayan tadi kembali lagi untuk mengembalikan kartu milik Nathan. Selesai membayar, mereka berdua keluar dari restoran.
"Va, makanan sebanyak ini mau di kemanain?" Tanya Nathan menenteng lima kantong plastik berukuran besar, "Kau akan tau nanti, sekarang kita pulang" Ajak Deva
"Pulang? Nggak jadi belanja"
"Aku lagi nggak pengen, ayo pulang" Kata Deva diangguki Nathan.
Di dalam mobil, Deva mengambil kotak makan yang berisi kentang goreng buatan Nathan.
"Kita nanti berhenti di lampu merah" Pinta Deva memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya
"Lakukan saja, Nathan"
"Iya"
Sampai di lampu merah, Deva memakai masker lalu membuka kaca mobilnya.
"Adek-adek, Kakak ada makanan. Kalian mau?" Tanya Deva sedikit berteriak karena suara bising kendaraan
__ADS_1
"Mau, Kak!" Segerombolan orang-orang jalanan mendekat ke mobil Nathan.
"Jangan berebut, semuanya kebagian kok" Kata Deva membagikan makanan yang ia beli tadi, Nathan hanya mengulas senyum dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Makasih, Kak!" Nathan kembali menjalankan mobilnya menuju ke rumah, tinggal dua kantong plastik yang tersisa di dalam mobil.
"Masih dua kantong, kita bagiin orang rumah" Nathan mengangguk menuruti kemauan Deva.
"Kenapa nggak bilang kalau mau di bagiin, kalau aku tau aku bisa tambahin lagi tadi" Tanya Nathan, "Tadi aja mukanya kesel gitu" Sindir Deva
"Nggak, aku biasa aja" Kilah Nathan, "Bilang aja cemburu. Tapi, masa bener kamu cemburu sama pelayan?" Imbuh Deva menahan tawanya
"Udah ak—"
Cup
"Sudah jelas kalau kau tadi cemburu, Sayang" Bisik Deva tepat di telinga suaminya, Nathan menepikan mobilnya. "Kau sedang menggoda ku, hm?" Nathan tersenyum miring
"Katakan apapun yang ingin kau katakan. Yang jelas tadi kau cemburu, dan aku suka itu" Ujar Deva mengalungkan kedua tangannya di leher Nathan, "Ya, tadi aku cemburu melihatmu begitu dekat dengan pelayan tadi" Balas Nathan
Posisi mereka begitu dekat sampai hidung mereka menempel satu sama lain.
"Tapi tidak sampai sedekat saat aku bersamamu, bukan?" Tambah Deva tersenyum puas mendengar pengakuan sang suami, "Hem ya, aku akan menghabisi pria manapun yang berani mendekati mu. Apa lagi sampai sedekat ini" Ucap Nathan mencium sekilas bibir tipis di depannya
__ADS_1
Deva melepas tautan tangannya sebelum Nathan berbuat lebih, terlebih lagi mereka masih berada di jalan.
"Urusan kita belum selesai, Sayang" Bisik Nathan sebelum kembali menjalankan mobilnya.