
"Va, Bisakah kau membantuku memasang dasi?" Pinta Nathan yang sedikit kesusahan memakai nya, "Sebentar, aku lagi ambil jam tangan mu" Balas Deva dari ruang pakaian
Setelah mendapatkan jam tangan yang cocok, Deva memberikannya ke Nathan lalu mengambil alih dasi dari tangan suaminya.
Kaki jenjang Nathan menyeret kursi untuk Deva pijak agar bisa menyamai tinggi badannya.
"Apakah kita perlu memberitahu tentang pernikahan kita sama mereka berdua (Intan-Sadam)" Tanya Deva, "Aku terserah padamu, mana yang baik? Lakukanlah" Jawab Nathan
"Sudah, ayo kita berangkat" Ajak Deva mengambil tas selempang nya.
Setelah mengantar Deva ke kampus, Nathan langsung meluncur ke perusahaan. Sesampainya di sana, Nathan turun dari mobil lalu masuk ke dalam, langkahnya terhenti ketika melihat seorang wanita paru baya menangis di dekat meja resepsionis
"Permisi" Ucap Nathan, wanita tersebut beralih menatap Nathan
Nathan kaget ketika wanita itu memegang pipinya. "N–Nathan, kau Nathan bukan?" Tanyanya
"Maaf, Tuan Muda. Ibu ini sedari tadi terus memaksa masuk ke dalam dan ingin bertemu dengan tuan Surya" Ucap sang resepsionis, Nathan mengisyaratkan agar resepsionis itu pergi.
Merasa bukan tempat yang tepat untuk berbicara, Nathan mengajak Ibu tadi ke sebuah restoran.
"Silahkan duduk, kita akan mengobrol dengan nyaman disini" Ucap Nathan ramah, entah kenapa ia langsung merasa dekat dengan ibu tersebut padahal mereka baru saja bertemu.
__ADS_1
"Bolehkah saya tau ada urusan apa sampai anda memaksa ingin bertemu dengan papa saya?" Tanya Nathan
"Mengambil hak yang seharusnya selama ini Ibu miliki" Jawabnya
"Maksudnya?"
"Aku adalah Ibu kandung mu, Nak. Surya sudah merebutmu dari Ibu saat kamu masih berusia enam bulan. Dia menikah kembali dengan wanita itu tanpa sepengetahuan Ibu, wanita itu tidak bisa memiliki keturunan dan oleh sebab itu Surya mengambil mu dengan paksa dari Ibu" Jelasnya menggenggam tangan Nathan sambil terisak
"T–tapi—"
"Ibu mempunyai bukti kalau kamu adalah anak kandung Ibu, lihatlah ini" Wanita paru baya itu memperlihatkan foto keluarga kecilnya dulu
Foto itu terlihat ada Surya dan Maira yang menggendong Nathan kecil yang baru berusia dua bulan, mereka tersenyum bahagia menghadap kamera.
Di kampus, Intan menopang dagunya setelah mendengar penjelasan Deva tentang pernikahannya dengan Nathan. Mereka sekarang berada di kelas, dan beruntung hanya ada mereka berdua di sana
"Tapi kenapa lo nggak bereaksi waktu cewek-cewek deketin Nathan? Lo nggak cemburu" Tanya Intan, "Di awal, lo pasti udah tau alasannya. Nggak semudah itu ngelupain orang yang kita cintai, terlebih lagi–sudahlah, mencintai tanpa melupakan lebih baik buat gue" Jelas Deva
"Gue setuju, Frans pasti seneng liat lo bahagia. Semua orang tau gimana kalian dulu, dan sekarang saatnya lo natap masa depan lo" Kata Intan tersenyum lebar, "Dan, kapan ponakan gue launching?"
"Masih lama"
__ADS_1
"Eh? Mana bisa gitu? Gue nggak mau tau, cepetan lo kasih gue ponakan titik" Ujar Intan, "Lo kira bikin anak kayak bikin adonan kue?" Ketus Deva
"Mana gue tau, gue kan belum nikah. Berhubung lo yang udah, jadi gue nagih lo" Balas Intan, "Gue ada kenalan, kalo lo mau gue kasih" Kata Deva
"Kasih kasih, lo pikir dia barang. Tapi..boleh juga, siapa tau nyantol" Imbuh Intan nyengir
"Hem."
Nathan membuka pintu ruangan papa-nya, terlihat pria paru baya sedang sibuk membaca berkas di tangannya.
"Pah"
Papa Surya mengalihkan pandangannya ke Nathan yang berdiri di dekat pintu.
"Nathan? Duduklah, Nak" Kata Surya mempersilahkan Nathan duduk, Nathan mengangguk
"Kam—"
"Bisa Papa jelaskan ini?" Sela Nathan memperlihatkan foto yang di berikan ibu Maira tadi. Raut muka Papa Surya berubah tegang setelah melihat foto tersebut
"K–kamu dapet foto dari mana, Nak" Tanya Surya berusaha bersikap tenang, "Tidak penting itu, Papa jelaskan sekarang" Balas Nathan
__ADS_1
Papa Surya diam.
"Wah! Nathan nggak pernah nyangka ini sama Papa, permisi" Nathan beranjak pergi, tanpa menghiraukan Papa Surya yang terus memanggilnya.