
Selesai makan, Nathan dan Deva kembali ke rumah. Dengan perasaan senang mereka berdua masuk ke dalam rumah, karena besok adalah jadwal mereka menengok sang buah hati.
Sedangkan di tempat Rissa, ia masih tidak percaya dengan apa yang dengar tadi.
"Udah sejauh itu hubungan mereka, tapi nggak masalah. Ini akan lebih menyenangkan" Ucap Rissa menyeringai.
***
"Nathan, lihatlah. Perutku sudah mulai membesar" Ucap Deva di depan cermin, "Benarkah? Mana coba" Balas Nathan mendekat, pemuda itu berjongkok mensejajarkan kepalanya dengan perut Deva
"Ah ya, kau benar" Lanjut nya senang, "Bukankah besok jadwal mu pergi ke dokter?"
Deva mengangguk cepat. "Kenapa sekarang aku yang jadi nggak sabar ingin dia lahir" Kata Deva duduk di tepi ranjang
Nathan terkekeh. "Bukan kamu saja, aku juga. Kira-kira dia nanti mirip sama siapa?"
"Kita saja belum tau gender nya" Balas Deva
"Iya juga"
__ADS_1
"Ini udah waktunya makan malam, ayo kita ke bawah" Ajak Deva
"Iya" Pasangan itu keluar dari kamar menuju meja makan.
"Malam, Ayah/Bunda/Bang" Sapa Nathan dan Deva seraya mendudukkan diri di kursi mereka masing-masing
"Malam"
"Kenapa Bunda keluar kamar?" Tanya Deva, "Bunda bosen di kamar, Sayang. Lagian cuma makan malam, nggak angkat barang" Balas Lily
"Bunda selalu saja punya alasan untuk itu" Tambah Deva, Bunda Lily hanya tersenyum.
Acara makan malam berjalan dengan tenang. Usai makan malam, keluarga Gautama berkumpul di ruang keluarga.
"Ayah/Bunda, Adnan udah ada rencana untuk menceraikan Arin" Ucap Adnan tiba-tiba, "Ambil keputusan dengan pikiran tenang" Sahut Lily
"Iya, Bun. Adnan udah mikirin itu" Tutur Adnan, "Lalu, bagaimana dengan bayi itu?"
"Oma pasti menolak keras bayi itu jika kita merawatnya, kita akan memberikan bayi itu kepada salah satu pelayan yang ada disini. Dengan begitu, kita masih bisa memantaunya" Urai Deva, "Deva benar. Tetapi, siapa pelayan disini yang menginginkan seorang bayi?" Tanya Lily
__ADS_1
"Aku sudah mendapatkan nya, dan dia setuju. Setiap bulan dia akan mendapatkan uang untuk merawat bayi itu" Jawab Deva, "Lalu bagaimana dengan Arin? Setelah dia melahirkan, apa yang akan kita lakukan?" Tanya Nanda
"Dia akan tetap di sana dengan penjagaan yang lebih ketat dari ini" Jawab Deva, "Bagaimana, Bang"
"Abang ikut aja, Dek" Kata Adnan menganggukkan kepalanya.
Di tempat Arinda berada, wanita itu sedang mengusap perut besarnya. Tiba-tiba saja air matanya menetes mengenai perutnya.
"Ada apa denganku, kenapa aku sedih. Ini adalah hukuman untukku, setelah dia lahir aku akan meninggalkan dunia ini. Waktuku tinggal sebentar lagi" Ucap Arin, "Semoga setelah dia lahir, mas Adnan tidak membencinya. Ini semua salahku, tidak seharusnya aku berbuat seperti ini sama mas Adnan yang begitu sayang kepadaku"
"Ya Tuhan, tolong aja anakku nanti. Aku akan menerima hukuman atas perbuatan ku dengan senang hati, asalkan dia baik-baik saja di luar sana"
Ceklek
Arinda menghapus air matanya ketika melihat pintu terbuka, dua bodyguard wanita keluarga Gautama masuk kedalam membawa makanan untuk Arinda.
"Waktunya makan malam, ini semua dari nona muda" Setelah mengatakan itu, bodyguard tadi keluar dari sana dan tidak lupa kembali mengunci pintu.
"Nona muda? Berarti Deva yang mengirimkan nya" Gumam Arin. Rasa bersalah semakin menghantui pikiran Arinda saat melihat begitu banyak makanan di hadapannya.
__ADS_1
"Maaf, Deva."