
Di tengah-tengah sarapan pagi, salah satu bodyguard yang di tugaskan 'G2' datang ke ruang makan.
"Maaf kalau saya mengganggu, Tuan/Nyonya" Ucapnya, "Katakan maksud kedatangan mu kemari" Balas Nanda
"Saya kesini ingin memberitahu kalau nyonya muda baru saja melahirkan bayi perempuan dan sekarang nyonya berada di rumah sakit" Jelasnya
"Kau bisa pergi, terimakasih" Sarapan pagi terpaksa terhenti setelah mendengar kabar Arinda di rumah sakit.
"Adnan, kau ikut kesana bersama kami. Nathan dan Deva, kalian tetap masuk kuliah. Setelah selesai jam kalian, kalian bisa langsung kesana" Titah Nanda
"Iya, Ayah."
Di rumah sakit, Arinda tengah menatap bayi kecil yang terlelap di pangkuannya. Ia ingin memuaskan hati sebelum dia pergi dari dunia.
"Jaga dirimu baik-baik, dan jadilah anak yang baik" Ucap Arin mencium kening bayi tersebut
Perhatian Arinda teralih ketika mendengar pintu ruangan terbuka, hatinya melega melihat Adnan dan keluarga-nya mau datang menjenguknya. Tapi, ia merasa asing dengan dua orang lansia di belakangnya
"Bagaimana keadaan mu, Arin" Tanya Lily, "Baik, B–Bunda" Arinda merasa canggung menyebut 'Bunda' setelah apa yang di lakukan.
"Dia cantik sekali, apa boleh Bunda menggendongnya?" Tanya Lily
__ADS_1
"Ya, silahkan" Bunda Lily mengambil alih bayi perempuan yang berada di pangkuan Arinda.
"Ayah/Bunda/Bibi/Rani/Tn. dan Ny. Abraham, apabisa beri kami waktu berdua?" Pinta Adnan
"Baiklah, tidak masalah. Kami akan keluar" Jawab Lily menaruh bayi perempuan tadi kembali kepangkuan Arinda.
Adnan mengunci pintu ruangan itu lalu berjalan mendekati istrinya.
"Mas, boleh aku meminta sesuatu darimu?" Tanya Arin
"Katakan"
"Jika kamu memintaku untuk menjaga, akan ku lakukan. Tapi kalau kamu memintaku untuk menganggapnya sebagai putriku, itu mustahil. Dan tenang saja, Deva sudah berubah fikiran untuk tidak menyingkirkan mu dari dunia ini. Kau masih akan tetap bisa melihat putrimu tumbuh di tempat itu (G2), semuanya sudah di atur oleh Deva. Jadi berterima kasih lah padanya" Papar Adnan, "Dan dia juga akan tetap mendapatkan ASI darimu secara rutin, jadi tenang saja"
"Perceraian kita akan terjadi secepatnya, tidak ada alasan lagi untuk aku mempertahankan dirimu" Lanjut Adnan keluar dari sana.
***
"Kakak ipar" Deva masuk ke ruangan Arinda bersama Nathan di belakangnya, di ruangan itu hanya ada Arinda dan seorang bayi perempuan yang tertidur di box bayi.
"Deva/Nathan, kalian?"
__ADS_1
"Kami kesini karena ingin melihat si cantik ini" Ucap Deva menoel pipi halus bayi perempuan itu, "Apa yang lain sudah pulang?"
"Ya, tinggal mas Adnan yang ada di kantin membeli makanan" Jawab Arin, Deva mengangguk mengerti.
"Va, terimakasih dan maaf"
Pandangan Deva beralih ke Arinda. "Untuk?"
"Abangmu sudah menjelaskan semuanya, terimakasih" Ucap Arin, "Tidak perlu, aku melakukan nya hanya karna bayi ini. Dia akan kami rawat di kediaman Gautama, dan Kakak hanya bisa memantaunya dari jauh" Jelas Deva
"Itu tidak masalah."
"Arin–kalian? Kalian berdua kapan datang?" Tanya Adnan yang baru saja masuk membawa makanan, "Baru aja masuk, Bang" Jawa Nathan yang duduk di sofa
"Kalian berdua udah makan? Kalau belum, Abang beliin" Tanya Adnan, "Kita tadi udah makan sebelum kesini, Bang" Sahut Deva, "Ohya, berhubung Abang ada disini. Jadi kami pamit pulang dulu, masih ada urusan"
"Urusan apa? Urusan sama Nathan" Goda Adnan menyenggol bahu adiknya, "Dia suami Deva, terserah dong ya!" Balas Deva meledek Adnan
"Yaudah hati-hati. Abang gibeng kalo ponakan Abang kenapa-napa" Ujar Adnan
"Iye, yaudah kita pulang dulu. Bye-bye cantik" Sebelum pergi, Deva memberikan kecupan di pipi bayi perempuan itu.
__ADS_1