DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 44


__ADS_3

Selesai bersiap, Nathan sama Deva turun ke bawah menuju ruang makan. Terlihat di sana sudah ada semua anggota keluarga, tetapi ada dua yang sudah tidak asing lagi untuk Deva tapi asing untuk Nathan.


"Pagi" Sapa pasangan muda itu duduk di tempat mereka


"Pagi"


"Pah/Mah, dia Nathan, suami Deva" Ucap Nanda, "Dan Nathan, mereka berdua Kakek dan Neneknya Adnan dan Deva"


Nathan berdiri menghampiri keduanya lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian, kemudian duduk kembali di samping istrinya.


"Juga sepertinya tadi malam nggak hujan uang, tapi ada orang datang kesini tanpa di undang" Sindir Deva, "Sayang, jangan seperti itu" Tegur Lily lembut


"Kakek sama Nenek kesini karena mendengar rumah Nora kebakaran" Ucap Tn. Abraham tegas, "Ya. Kalian bisa membawa pergi Bibi dan Rani dari sini, aku juga sudah muak melihat wajah mereka yang tak tau malu sama sekali" Lontarkan sinis kembali keluar dari bibir tipis Deva


"Dasar anak kurang ajar! Apa seperti ini kalian mendidik pewaris keluarga, ha?!" Bentak Ny. Abraham tak terima, "Seharusnya kalian menjadikan Adnan pewaris keluarga karena dia laki-laki, bukan Deva yang masih sangat muda untuk mengenal bisnis. Terlebih lagi dia seorang wanita"


"Ini yang aku tidak suka dari Mama, Mama selalu saja memandang remeh seorang wanita. Sedangkan Mama itu seorang wanita!" Gertak Nanda

__ADS_1


"Ayah/Bunda, ijinkan aku dan Bang Adnan yang berbicara" Ijin Deva


Ayah Nanda dan Bunda Lily mengangguk, karena mereka percaya kepada kedua anak mereka.


"Bang, apa kau keberatan jika aku yang menjadi pewaris?" Tanya Deva menatap sang kakak, "Tidak, untuk apa Abang keberatan. Toh uangnya kita gunain sama-sama dan seharusnya semuanya milikmu, tapi dengan santainya kau membagi ku 5% dari harta mu" Jawab Adnan tenang


"Kalian dengar? Kekayaan keluarga Gautama kita gunakan bersama-sama, walaupun sudah ada ahli waris. Sebentar, maksudnya kita adalah Aku, Ayah, Bunda, dan Bang Adnan. Karena anggota keluarga Gautama hanya ada empat orang, bukan begitu?" Imbuh Deva


"Seratus untukmu, Dek" Kata Adnan, "Dan beruntung nya adikku tidak serakah, dia dengan suka rela memberikan 5% hartanya untukku yang bukan tercatat ahli waris dan menyisakan rumah ini untuk Ayah/Bunda"


"Tapi kami orang tua kandung Nanda! Jadi kami masih ada hak atasnya" Tegas Tn. Abraham


"Orang tua? Orang tua mana yang tega mengusir darah dagingnya sendiri hanya karena memilih pendamping yang suka berpakaian sederhana" Balas Deva, "Apa selama ini kalian pernah melihat televisi, Bundaku akan tampil berbeda jika berada di depan publik karena dia harus menjaga kehormatan suami dan keluarganya. Dan lihat jika di rumah, sederhana. Walaupun berpakaian sederhana, wajah Bundaku masih sama, tidak ada yang berubah"


"Deva benar. Jika saja Bunda bukan Ibuku, sudah ku nikahi dari awal" Timpal Adnan, "Dan saingan mu adalah Ayahmu" Tambah Nanda menatap tajam putranya


"Bercanda, Yah. Bunda memang cantik, yekan?" Goda Adnan membuat Ayah Nanda mendengus

__ADS_1


"Dan ya, aku ingin meminta tolong kepada Rani untuk menjauh dan tidak berusaha menarik perhatian suamiku. Kau masih muda, banyak lelaki di luaran sana yang ingin denganmu. Kau pasti juga tidak ingin jika dirimu di cap sebagai pelakor, bukan? Jika kamu masih nekat, akibatnya bisa kamu rasakan nanti karena kamu salah pilih lawan" Peringat Deva menatap santai Rani


"Rani tidak serendah itu dengan ingin merebut suamimu darimu!" Sarkas Ny. Abraham


"Deva, sudah cukup" Tegur Nanda, "Baiklah, perdebatan pagi ini selesai. Lebih baik kita sarapan dengan tenang" Perilaku santai Deva membuat Adnan geleng-geleng kepala.


"Jangan makan makanan yang terlalu pedas, kau ingat kata dokter" Kata Nathan menyingkirkan makanan yang berbau pedas dari hadapan sang istri


"Tap—"


"Deva, menurut saja apa kata Nathan. Semua demi kebaikan mu dan juga bayimu" Ujar Lily memotong ucapan Deva yang ingin protes


"Bayi? Kamu hamil" Tanya Ny. Abraham menatap Deva, "Iya. Deva-kan udah punya suami, jadi nggak salah dong kalau Deva hamil" Jawab Deva, "Dan sepertinya mau aku hamil atau tidak bukan urusan kalian, karena kalian hanya orang luar disini"


"Sayang, jaga bicara mu" Ucap Lily berusaha menghentikan Deva yang terus berbicara sinis kepada mertuanya


"Ya baiklah, sesuai perintah Bunda."

__ADS_1


__ADS_2