DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 8


__ADS_3

"Iya, terus. Lo mau sekarang? Jangan pikirin mereka, kita lakuin kalo kita emang udah bisa nerima satu sama lain" Balas Nathan, "Udah bel, ke kelas"


Tanpa menunggu jawaban dari Deva, Nathan melenggang pergi dari sana.


"Nikah itu ribet" Umpat Deva juga ikut pergi dari sana.


***


"Udah di bilang nggak usah capek-capek, mimisan lagi kan. Lo itu bandel dah" Omel Deva membantu Nathan mengelap darah yang keluar menggunakan tissu, "Kesehatan penting, lo nggak mikirin perasaan orang yang ada di deket lo kalo lo kenapa-napa"


"Iya"


"Iya doang, nggak di jalanin" Ketus Deva yang sudah kelewat kesal dengan Nathan yang susah di bilangin, "Kalo marah tambah cantik" Kata Nathan


"Nggak usah gombal"


"Ceh"


"Udah, mending lo istirahat aja" Ucap Deva, "Kerjaan gue belum kelar" Balas Nathan


"Astaga, udah mimisan masih aja mikirin kerjaan. Ntar gue bilang sama papa kalo kerjaan lo di kurangin" Nathan belum sempat membalas, Deva sudah keluar dari kamar


"Ceh" Nathan beranjak menyusul Deva


"Deva" Pemuda itu melihat Deva sedang berada di ruang tengah


"Ck, lo itu dibilangin suruh istirahat" Semprot Deva menatap tajam Nathan, "Pala gue pusing, pijitin" Nathan merebahkan kepalanya di pangkuan Deva


Dengan perasaan yang masih kesal, Deva memijat pelan kepala suaminya. Nathan sedikit mengangkat kedua sudut bibir nya melihat wajah kesal Deva, ia memiringkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di perut Deva


"Nathan"


"Cuma sebentar" Tangan kanan Nathan memeluk pinggang ramping istrinya. Perasaan Deva sekarang sudah tak karuan, ada rasa aneh ketika nafas Nathan mengenai perutnya


Lamunannya terbuyar ketika ada sesuatu yang menempel di bibirnya.

__ADS_1


"N–Nathan? Ap—"


"Sorry, gue nggak sengaja" Ucap Nathan memotong kalimat Deva, entah dapat dorongan dari mana ia berani mencium bibir gadis itu


Di ruang sekarang hanya ada kecanggungan setelah kejadian tadi, mereka berdua sama-sama diam menatap layar televisi di depan.


"Udah malem, tidur" Setelah memecahkan keheningan, Nathan berlalu pergi ke kamar


Deva merebahkan tubuhnya di samping Nathan yang sudah tertidur, ia menyentuh bibirnya yang tadi bertubrukan dengan bibir Nathan.


Frans, apa aku harus kembali membuka hatiku? Jika iya, aku meminta ijin padamu untuk kembali membukanya. Aku janji tidak akan pernah mengeluarkan namamu di hatiku. Sebanyak apapun aku mengharapkan mu, itu adalah hal mustahil. Kita sudah berbeda, ku harap kau menemukan kebahagiaan mu di sana. Ucap Deva dalam hati


"Lo kenapa?" Deva dengan cepat menghapus air matanya mendengar suara Nathan


"Nggak"


"Kalo ada masalah bilang, ntar lo sakit lagi" Kata Nathan, "Tidur, jangan begadang"


"Than"


"G–gue—"


"Gue apa? Kalo ngomong yang jelas" Kata Nathan, "Nggak jadi, lo ngeselin" Ketus Deva merebahkan tubuhnya


"Ck" Nathan menarik Deva dan membuat jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa centi


"Nath—" Persetanan dengan harga diri, Nathan sudah terlanjur menyukai rasa bibir Deva. Gadis itu mulai mengatupkan kedua matanya menikmati permainan suaminya


Nathan mengakhiri nya saat merasa Deva sudah mulai kehabisan oksigen.


"Kita mulai semuanya dari awal, lo mau kan?" Ucap Nathan, "Gue tau ini nggak mudah, tapi mau sampai kapan pun gue nggak akan ngelepasin lo. Gue ngucap kabul cuma satu kali dalam hidup, dan ternyata kabul gue itu atas nama lo"


"Tidur"


"Ck, lepas. Katanya tidur" Ucap Deva berusaha melepas pelukan Nathan

__ADS_1


"Nggak"


"Hm."


Hari libur pun tiba, pagi-pagi sekali Deva sudah berlari-lari di sekitar komplek rumah. Ia duduk di bangku taman untuk beristirahat sejenak


"Kenapa gue masih kebayang yang tadi malem, astaga" Gerutu Deva menggeleng cepat berusaha menghilang memori kejadian tadi malam, "Orang itu kadang dingin, kadang cerewet, kadang ngeselin."


Sedangkan di rumah, Nathan menelusuri setiap sudut rumah mencari keberadaan Deva


"Kemana dia? Kenapa keluar nggak bilang" Gumamnya kesal


"Bi, apa Bibi lihat Deva?" Tanya Nathan, "Maaf, Tuan Muda. Saya baru saja selesai bersih-bersih di belakang, jadi saya tidak melihat nona muda" Jawabnya


Nathan berjalan keluar dari rumah, ia masuk ke dalam mobil dan mulai mencari Deva di sekitar komplek


"Apa dia kabur karna tadi malem? Mungkin tadi malem gue udah kelewatan main nyium dia" Mata elang nya tertuju pada gadis yang duduk di bangku taman, ia menajamkan penglihatan nya


"Itu dia" Dengan segera Nathan turun dari mobil


"Deva"


"Eh?"


"Gue cariin ternyata disini" Kata Nathan ikut duduk di sebelah Deva, "Gue tadi udah ngajak lo, tapi lo nya aja yang kebo" Balas Deva


"Ayo pulang" Nathan menggandeng tangan Deva dan mengajak gadis itu masuk ke mobil.


"Lo udah laper?" Tanya Deva, pasalnya ia belum memasak sarapan untuk mereka berdua


"Nggak juga, kenapa?"


"Gue belum masak, kita makan di pinggir jalan aja kalo lo udah laper" Ujar Deva


"Oke."

__ADS_1


__ADS_2