
Empat hari sudah tim penyidik melakukan penyelidikan di kediaman Gautama, kerja keras mereka membuat hasil, tim penyidik menemukan sebuah botol kecil, dan di botol tersebut terdapat sidik jari sang pelaku. Data-data sang pemilik sidik jari pun mereka dapatkan secara detail.
Kini tim penyidik sudah berada di kediaman Gautama untuk memberikan informasi tersebut, Oma Yosy juga ada di sana termasuk Tn. Abraham, Ny. Abraham, Nora, dan Rani sesuai perintah dari bunda Lily.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Nanda tak sabar
Tiga tim penyidik saling memandang sebentar. "Kami mendapatkan bukti berupa botol kecil yang berisi racun mematikan, dan di botol tersebut terdapat sidik jari si pelaku" Ujar penyidik B
"Katakan dengan jelas, siapa pelakunya?" Kesal Lily
"Dengan berat hati kami mengatakan bahwa pelaku tersebut adalah Nona Muda Gautama, Nona Deva parameswara Gautama. Sidik jari yang ada di botol yang kami temukan, sangat cocok dengan sidik jari Nona Muda, Tuan/Nyonya. Kami juga memiliki data-data lengkapnya, kalian bisa membacanya" Jawab penyidik A
"Jaga bicara mu jika sudah menyangkut soal cucuku!!" Sentak Oma Yosy
"Maaf, Nyonya. Kami berani mengatakan hal ini karena kami memiliki bukti, bukti tersebut kami temukan di bawah ranjang Nyonya Arinda" Sahut penyidik C
"Tugas kami disini sudah selesai, kalau begitu kami permisi" Ketiga tim penyidik itupun pergi dari kediaman Gautama.
__ADS_1
"Apa ini, Deva" Tanya Nanda menatap anak bungsunya, "Sayang, bicaralah. Katakan kalau botol itu bukan milikmu, dan yang mereka katakan adalah bohong. Bunda percaya padamu" Timpal Lily memegang kedua bahu putri kesayangannya
Deva memejamkan matanya sejenak, kemudian berdiri. "Botol itu milikku dan yang mereka katakan adalah kebenaran"
Jawaban Deva membuat semua orang menatap tak percaya.
Bunda Lily berdiri lalu memegang kuat bahu anak bungsunya. "Katakan sekali lagi, Bunda harap jawabanmu kali ini tidak akan menghancurkan kepercayaan Bunda kepadamu"
"Mereka benar"
Pertama kalinya, Nyonya Gautama melayangkan tamparan kepada Nona Muda Gautama, Ayah Nanda segera berdiri dan menarik Bunda Lily ke dekapannya.
"Bunda bisa memukuli ku sepuas Bunda! Sekarang rasa sakit yang Bang Adnan rasakan karnanya bisa sedikit berkurang, dan aku membalikkan serangannya dulu kepadaku!"
"Deva!" Kali ini Ayah Nanda yang bersuara.
"Kau menghabisi seorang bayi tak berdosa untuk balas denganmu kepada Ibunya? Kamu seorang Ibu, bagaimana perasaan mu jika semua ini terjadi padamu!!" Ucap Lily marah, "Lalu bagaimana jika saat itu aku tidak sadar kalau suamiku terkena racun?" Balas Deva sinis
__ADS_1
Semuanya diam.
"Katakan yang sejujurnya, Cucuku. Oma tau sekarang kau sedang berbohong" Sahut Oma Yosy
"Besan, apa lagi yang anda percaya dari cucu kesayangan anda? Dia adalah pelaku pembunuhan putri Arinda, Anindita" Tutur Ny. Abraham
"Tidak ada yang lebih mengenal cucu-cucu saya dari pada saya sendiri, bahkan orang tuanya saja tidak akan bisa sedetail saya mengetahui tentang bagaimana dan ada apa tentang Adnan dan Deva" Balas Oma Yosy, "Cucuku, katakan yang sebenarnya"
"Ibu, jangan membelanya lagi. Semua bukti sudah jelas" Ucap Lily
"Diam, Lily! Mulutnya memang berkata seperti itu, tapi matanya berkata lain" Tegas Oma Yosy, "Apa yang membuat anda begitu yakin jika Deva tidak bersalah?" Urai Nora
"Jika memang dia pelaku nya, dia tidak akan mengeluarkan air mata seperti saat ini" Kata Oma Yosy, "Kau tidak bisa membohongi Oma-mu, Deva"
"Semua bukti sudah jelas, Oma. Aku yang menghabisi Anindita! Aku melakukan itu karena ingin membalas semua perbuatan nya dulu, dan sekarang semuanya tercapai" Jelas Deva, "Kalau tidak ada yang ingin di bahas lagi, aku permisi. Nathan, setelah semua ini, kalau kau ingin menggugat diriku? Silahkan"
Tanpa menunggu jawaban, Deva melangkah keluar dari rumah itu.
__ADS_1