DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 28


__ADS_3

"Nak, apa boleh Ibu mengatakan sesuatu?" Tanya Maira


Ibu Maira dan Nathan sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke pasar sesuai permintaan Ibu Maira.


"Katakan saja, Ibu. Jangan sungkan" Kata Nathan, "Perbaiki hubungan mu dengan papa dan mama-mu, jangan pernah lupa kalau mereka yang merawatmu selama ini. Mereka yang sudah mempersatukan mu dengan Deva" Ujar Maira


"Dan mereka-lah yang sudah memisahkan ku dari Ibu" Lanjut Nathan


"Kau juga tidak bisa melupakan kebaikan mereka hanya untuk satu kesalahan. Ibu kembali ke hadapan mu hanya agar dirimu mengetahui yang sebenarnya siapa wanita yang sudah melahirkan mu, Ibu sudah melupakan masa di mana papa-mu memilih pergi dengannya" Jelas Maira, "Melihatmu bahagia itu sudah membuat Ibu tenang, Nak"


"Akan ku pikir-kan"


"Pikirkan dengan baik, jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari."


Di sebuah cafe, Adnan baru saja selesai rapat dengan rekan bisnisnya.


"Selesai juga. Tinggal menghitung bulan, Deva akan mengambil alih semua perusahaan. Adik kecilku ternyata sudah dewasa, waktu berlalu begitu cepat" Ucap Adnan tersenyum


Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari cafe.


Brukkk


"Awh.." Seorang gadis terpental karena tak sengaja menabrak dada bidang Adnan


"Maaf, Nona. Anda baik-baik saja?" Ucap Adnan mengulurkan tangannya, "Tidak, saya yang salah. Saya yang terburu-buru tadi" Gadis itu menerima uluran tangan Adnan


"Baik-baik saja? Ini luka" Kata Adnan memperlihatkan telapak tangan gadis itu yang terluka karna gesekan dengan aspal, "Duduklah di sana, saya akan segera kembali"

__ADS_1


"Tap—"


"Tidak ada bantahan" Gadis itupun menurut.


Adnan membuka bagasi mobilnya dan mengambil kotak P3K dari sana, setelah itu ia kembali menghampiri gadis tadi.


"Saya menyuruh anda duduk, kenapa anda masih berdiri?" Gadis itu mendengus lalu duduk.


"Saya bisa melakukan nya sendiri, anda tidak perlu repot-repot" Cegah gadis itu saat Adnan hendak mengobatinya, "Lebih baik anda diam, Nona. Saya tidak akan macam-macam, saya hanya ingin membantu" Balas Adnan tidak mau kalah


"Terserah"


Dengan hati-hati, Adnan mengobati telapak tangan gadis itu.


"Sepertinya wajah anda tidak asing" Celetuk sang gadis merasa wajah pria di depannya seperti mirip dengan seseorang, "Jangan di pikirkan, sudah. Kalau begitu saya permisi, saya masih ada pekerjaan" Adnan pergi dengan membawa kotak obat tadi.


"Permisi, Nyonya. Ini sudah waktunya makan siang, tadi tuan meminta saya untuk mengantar makanan" Ujar sang pelayan, "Letakkan saja disini" Kata Lily memberi isyarat agar makanan tersebut di taruh di atas meja, pelayan itu menaruh nampan berisi makanan tersebut sesuai perintah.


"Terimakasih" Balas Lily


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi" Pelayan tersebut keluar dari kamar orang tua Adnan dan Deva.


Bunda Lily berjalan tertatih menuju meja yang berada di kamarnya dan meraih nampan tadi ke pangkuannya.


Tanpa berkata apapun, Bunda Lily segera melahap nya sampai habis. Selesai makan, Bunda Lily membawa piring dan gelas kosong tersebut ke lantai bawah. Berpikir tidak ingin merepotkan pelayan yang bekerja


Dengan lutut yang terasa sakit, Bunda Lily terus menapaki anak tangga

__ADS_1


"Kenapa anak tangga nya banyak sekali" Keluh Lily yang tak tahan dengan sakit di lututnya, "Besok akan ku ubah anak tangga nya jad—" Belum juga Bunda Lily menyelesaikan perkataan nya, tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh


Mendengar pekikan Bunda Lily, semua pelayan dan pekerja yang ada di kediaman Gautama langsung berkumpul ke arah tangga.


"Awh..." Deva yang sedang memotong wortel tak sengaja terkena pisau yang ia gunakan


"Nak, kam–astaga, itu darah. Ayo Ibu obati" Deva menurut dan mengikuti langkah Ibu Maira yang membawanya ke ruang tengah.


"Kenapa tidak hati-hati? Kalau Nathan lihat pasti kamu di omelin" Tegur Maira membalut luka Deva menggunakan plaster, "Deva nggak papa, Bu. Tadi Deva agak meleng, jadi kena" Kata Deva menenangkan, tetapi sebenarnya ia merasa gelisah.


"Lain kali hati-hati, biar ini nggak terulang lagi" Deva menganggukkan kepalanya.


Brakk


Suara pintu utama terbuka kasar, Nathan datang dengan langkah terburu-buru.


"Nathan, ada apa? Kenapa buru-buru begini" Tanya Deva, "Kenapa ponselmu tidak aktif" Tanya balik Nathan


"Ada di kam—"


"Ayo ikut aku ke rumah sakit" Ajak Nathan menggandeng tangan Deva


"Hey? Untuk ap—"


"Bunda jatuh dari tangga, Deva. Ayo kita pergi ke sana" Deva mengangguk cepat lalu berpamitan dengan Ibu Maira, begitupun juga dengan Nathan


"Nanti Ibu akan menyusul, kalian duluan saja" Kata Maira

__ADS_1


"Baiklah, kami pergi dulu."


__ADS_2