
"Ekhem, udah pacaran aja nih" Cibir Sadam menghampiri dua sejoli yang asik makan siomay
"Iri bilang bos!" Balas Nathan sinis, "Mana Intan" Tanya Deva menimpali, "Ck, mana gue tau. Kita beda fakultas" Decak Sadam, "Ini susu apaan? Kok warnanya pink" Tanya Sadam memerhatikan sisa susu yang di minum Deva
"Bumil" Jawab Nathan singkat, "Ha? Gue nggak salah dengarkan? Deva bunting" Kata Sadam memelankan kalimat terakhirnya, "Iyalah, siapa lagi" Ketus Nathan
"Nggak usah kaget gitu" Tambah Deva
"Seriusan?"
"Emang di wajah kita ada tampang orang lagi bercanda?" Sadam menggeleng.
"Terus—"
"Deva!" Suara lengkingan Intan memenuhi seluruh penjuru kantin, sang empu nyengir tak berdosa ketika di tatap aneh orang-orang
"Tadi gue samperin di kelas nggak ada, ternyata disini" Dengus Intan, "Ohya, Dev. Berita kalian udah nyebar di seluruh kampus, sama si siapa itu yang selalu nempel sama Nathan? Gue lupa"
"Kita emang sengaja. Awalnya mau ngasih tau baik-baik sama semuanya yang disini tapi malah kejadian kayak tadi" Imbuh Deva
"Terus ini apaan?" Tanya Intan lagi menunjuk sisa susu di atas meja
"Susu"
"Pink?" Deva memberi isyarat kepada Nathan untuk menjelaskan, pemuda itupun mengangguk paham
__ADS_1
"Prenagen Emesis"
Bola mata Intan membulat sempurna, begitupun juga dengan mulutnya. "Deva ekhem"
"Sakit gigi" Ketus Deva
"Aa! Akhirnya lo—" Pekikan Intan terhenti ketika Deva membekap mulutnya
"Nggak usah teriak, malu di liatin orang" Tegur Deva, "Hehe, kelepasan tadi. Selamat buat kalian" Ucap Intan memeluk sekilas tubuh sahabatnya
"Makasih."
Nathan dan Deva sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Nathan"
Deva mengangguk. "Kita ke rumah papa, aku mau capcay buatan mama" Pinta Deva, "Pulang aja kalo nggak mau ke sana"
"Kita ke sana."
Sampai di kediaman Alexander, mereka berdua turun dari mobil dan melangkah bersama masuk ke dalam rumah
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam. Tuan/Nyonya Muda, mau cari nyonya besar?" Tanya salah satu pelayan yang sudah bekerja lama dengan keluarga Nathan
__ADS_1
"Apa mama di rumah?"
"Nyonya besar ada di ruang baca, Nyonya Muda. Mau saya panggilkan?" Tanyanya lagi, "Tidak perlu, kami akan menemui mama di sana" Kata Deva menuju ke ruang baca sambil menarik pergelangan Nathan
"Kamu aja, aku tunggu disini" Tolak Nathan, "Ck, kita berdua akan menemui mama" Balas Deva tak terima penolakan
Nathan pasrah. "Oke"
Sampai di depan pintu bercat putih, Deva mengetuk pintu tersebut sampai mendengar seseorang mempersilahkan mereka masuk
"Mama" Panggil Deva, seorang wanita paru baya yang tengah duduk dengan buku tebal di tangannya menoleh. "Kalian disini? Kenapa tidak menyuruh pelayan memanggil Mama" Ujar Zoya menghampiri mereka berdua dengan perasaan bahagia
"Jangan senang dulu. Saya setuju datang kesini karna Deva menginginkan capcay buatan anda" Urai Nathan dingin, Mama Zoya hanya tersenyum. "Baiklah, Mama akan membuatkan nya untukmu"
Mereka bertiga keluar dari ruangan itu menuju ke dapur.
"Kamu duduk aja, biar Mama yang membuatnya" Suruh Zoya, "No! Aku akan membantu" Tolak Deva, Nathan? Dia sudah duduk di ruang tengah di temani jus jeruk di depannya.
"Bagaimana kabar Mama?" Tanya Deva, "Mama baik, Nak. Apa Nathan memperlakukanmu dengan baik" Tanya balik Zoya
"Heem, walaupun kadang dia suka bikin jengkel" Balas Deva, "Dan ya, Mah. Akhir-akhir ini aku sering dengar Nathan mengigau manggil nama Mama, tapi aku nggak pernah bilang sama dia"
Mama Zoya menatap serius menantunya. "Nathan?"
"Iya, Mah. Mau sebesar apapun masalah di antara Mama sama Nathan, ikatan antara Mama sama Nathan nggak akan pernah hilang. Ya, setelah mengetahui kenyataan nya. Memang susah buat Nathan, tetapi Mama-lah yang sudah membesarkannya" Papar Deva menggenggam kedua telapak tangan Mama Zoya, "Dan Deva janji, semuanya akan kembali seperti semula"
__ADS_1
"Terimakasih, Mama percaya sama kamu."