DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 64


__ADS_3

Seorang pemuda tengah berdiri di balkon kamar sambil menikmati kopi panas kesukaannya, sampai sepasang tangan yang memeluk tubuh tegap nya.


"Ayah Chesa, apa yang sedang kau pikirkan" Tanya Deva menghirup aroma maskulin suaminya, "Tidak ada, apa Chesa sudah tidur?" Tanya balik Nathan membalikkan tubuhnya


"Baru saja, memangnya kenapa?"


"Bukan apa-apa, hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Bundanya" Nathan menggendong Deva dengan gaya koala


"Boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Deva serius


"Katakan"


"Kalau nanti aku berbuat salah sampai membuat keluarga marah, apa kau juga akan marah kepadaku?" Tanya Deva, "Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, Sayang. Aku yakin, kamu tidak akan melakukan kesalahan sampai membuat keluarga kita marah. Aku percaya padamu" Urai Nathan


"Bagaimana kalau aku memang melakukan nya?" Lanjut Deva


"Jangan membuatku bingung dengan pertanyaan mu ini, Sayang. Katakan, apa yang sudah terjadi" Tanya balik Nathan, "Aku hanya bertanya, Nathan. Aku hanya ingin melihat reaksimu" Jawab Deva tersenyum


"Begitu?" Nathan duduk di sofa balkon dengan Deva masih di posisi yang sama.


"Hem" Deva mengatupkan kedua matanya menikmati dekapan hangat suaminya.

__ADS_1


"Va"


"Ya"


"Disini sangat dingin tetapi kau berkeringat? Kau baik-baik saja, Sayang" Tanya Nathan, "Aku baik-baik saja, Nathan. Tolong dekap aku lagi, rasanya begitu nyaman" Pinta Deva langsung di turuti oleh Nathan


"Va" Panggil Nathan


"Va" Nathan menundukkan kepalanya melihat Deva yang tertidur


"Dia tidur? Secepat itu" Ucap Nathan bermonolog


Punggung tangannya ia tempelkan di dahi istrinya. "Suhunya normal, tapi kenapa dia berkeringat di cuaca dingin seperti ini"


"Selamat malam" Ucap Nathan mencium singkat kening Deva.


Keesokan harinya, Nathan merasa ada sesuatu yang berat di dada bidangnya. Perlahan ia mulai membuka matanya dan melihat bayi kecil tengkurap di atasnya.


"Pagi, Ayah Chesa" Sapa Deva menirukan suara anak kecil


"Pagi, kesayangan Ayah" Balas Nathan mencium pipi Deva lalu beralih ke Baby Chesa, "Ayo bangun. Ohya, hari ini kita ke rumah papa. Tadi mama telfon, katanya mau ketemu sama Chesa" Ujar Deva

__ADS_1


"Iya, nanti kita kesana" Jawab Nathan mengambil alih Baby Chesa dari pangkuan istrinya, "Terus kita kesana bawa apaan? Nggak mungkin bawa tangan kosong" Tanya Deva


"Adiknya Chesa"


"Nathan, jangan bercanda"


Nathan terkekeh. "Terserah dirimu saja. Tapi, apa kau sudah benar-benar sehat?" Tanya Nathan, "Iya. Sudahku katakan, aku hanya kecapean" Balas Deva


"Aku hanya khawatir, Sayang"


"Lebih baik kamu mandi sekarang, biar Chesa bersama ku dulu" Kata Deva, "Satu jam kedepan, biar Chesa bersama ibu" Lanjut Nathan mengikis jarak wajah mereka


"Mesum!"


"Sifatku yang ini hanya untuk istriku yang cantik. Ayo, biarkan Chesa bersama ibu untuk sementara" Kata Nathan memegang dagu Deva, "Benarkah sifatmu yang ini hanya untukku?" Tanya Deva menahan tangan kiri Nathan yang mulai nakal membuka kancing bajunya


"Kita buktikan"


"Nathan, disini masih ada Chesa" Tegur Deva mendorong pelan tubuh Nathan agar menjauh, "Lebih baik kau mandi sekarang, papa sama mama pasti sudah menunggu"


"Papa sama mama akan mengerti kalau kita datang terlambat, Sayang" Balas Nathan mengaitkan tangan kanannya di pinggang sang istri

__ADS_1


"Baiklah, tunggu disini. Aku akan memberikan Chesa kepada ibu" Deva menggelengkan kepalanya melihat wajah sumringah suaminya.


__ADS_2