
Di warung pinggir jalan, Nathan dan Deva tengah menikmati sarapan sederhana mereka. Menghirup udara sejuk di pagi hari, membuat pikiran mereka sedikit menenang.
"Gue mau bungkus buat orang rumah, sekali-kali" Ucap Deva
"Terserah" Nathan masih sibuk melahap sarapannya, tidak akan membuatnya rugi besar jika berbagi makanan.
"Nanti siang kita ke rumah papa, kita belum pernah kan?" Deva menanggapi nya dengan menganggukkan
"Kita kesana bawa apaan? Nggak mungkin bawa tangan kosong" Tanya Deva, "Suka-suka lo, gue ikut aja" Jawab Nathan
"Oke" Deva beranjak ke pemilik warung dan memesan enam bungkus nasi uduk untuk di bawa ke rumah.
Tiba di rumah, Deva langsung berlalu ke kamar mandi tuk membersihkan diri nya dari keringat. Nathan? Ia merebahkan dirinya di atas sofa kamar.
"Nathan, mandi sono. Udah gue siapin airnya" Ucap Deva duduk di depan meja rias
"Iya."
***
Sekarang Nathan dan Deva sedang dalam perjalanan menuju ke kediaman Alexander, sebelum itu mereka mampir ke toko buah untuk di bawa kesana.
"Berhenti" Pinta Deva, "Ngapain? Rumah masih jauh" Tanya Nathan bingung
"Berhenti" Nathan menuruti ucapan Deva
__ADS_1
"Turun" Tanpa protes, Nathan kembali patuh.
"Gue yang nyetir" Ucap Deva merebut kunci mobil Nathan, "Astaga, ngapain?" Tanya Nathan
"Lo sakit, wajah pucet gitu masih di paksain. Masuk" Deva kembali masuk ke dalam mobil, kali ini ia yang memegang kendali
Gadis itu menjalankan mobilnya ke arah rumah sakit, masalah ke rumah mertua itu urusan nanti.
"Va"
"Ke rumah sakit, mending lo diem" Nathan pasrah dengan apa yang Deva lakukan, kepalanya benar-benar sangat pusing. Dan ternyata, Deva menyadarinya
Sampai di rumah sakit, mereka berdua turun. Tak ingin Nathan telat di ambil tindakan, Deva terpaksa mengeluarkan kartu namanya agar segera bisa bertemu dengan dokter
"Racun" Deva mengerutkan keningnya mendengar perkataan dokter jika Nathan keracunan, pasalnya yang mereka makan tadi adalah makanan yang sama. Tetapi kenapa hanya Nathan.
"Gejala yang di alami Tuan Muda sekarang karna keracunan. Pusing, demam, dan apa tadi anda sempat mual?" Tanya Dokter
"Hm"
"Saya sarankan agar Tuan Muda di rawat sampai keadaannya membaik" Sarannya
"Tid—"
"Lakukan saja" Deva menatap tajam Nathan yang hendak menolak.
__ADS_1
Sesuai yang di katakan Deva, Nathan sekarang sudah berada di ruang rawat dengan jarum infus yang menempel di punggung tangan nya
"Gue nggak papa, ngapain harus di rawat" Protes Nathan, "Lo itu bisa nggak sih di bilangin? Dokter nyaranin lo di rawat, berarti lo harus di rawat. Udah diem, nggak usah banyak bantah" Tungkas Deva
Deva menghela nafas. "Gue udah minta orang buat nyelidikin warung tadi, kan aneh kalo cuma lo yang keracunan. Seharusnya gue juga kena, tapi ini nggak"
"Lo cerewet"
"Cih, nggak ngaca" Sinis Deva, "Sambil nunggu papa, mama, ayah, sama bunda dateng, makan buah dulu. Nggak lucu kalo mereka liat badan lo lemes plus pucet kayak gini" Deva memberikan piring berisi buah yang ia kupas tadi di pangkuan Nathan
"Gue liat, lo perhatian banget"
"Lo suami gue, gue nggak mau jadi istri durhaka gegara nggak ngerawat suami. Dan lo sendiri yang bilang mau ngulang dari awal" Nathan mengangguk paham.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Anggota Keluarga Alexander dan Keluarga Gautama masuk ke dalam ruang rawat Nathan.
"Deva"
"Nathan keracunan, Bunda. Tadi pagi kita sarapan di pinggir jalan, dan seharusnya kalau Nathan keracunan berarti Deva juga ikut. Tapi ini tidak, dan aku sudah meminta orang untuk menyelidiki warung itu" Jelas Deva
"Lalu apa kata dokter?" Tanya Zoya, "Untuk sementara Nathan harus di rawat sampai keadaannya benar-benar membaik" Jawab Deva.
__ADS_1