DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 75


__ADS_3

Nathan menoleh ke arah Baby Chesa yang duduk tenang di baby car seat. Melihat wajah sang putri, membuat Nathan merindukan sosok Deva.


"Kamu di mana, Va? Aku dan Chesa membutuhkan mu, kau tega meninggalkan kami berdua disini. Bahkan sampai kamu mengirim seseorang untuk menjaga putri kita, kau rela peran mu di ambil alih orang lain? Kembalilah ke rumah, Sayang" Ucap Nathan


Di kediaman Gautama, Bunda Lily merasa tidak tenang, tetapi ia tidak tau kenapa.


"Kenapa perasaan ku nggak tenang begini" Ucap Lily bermonolog


"Bunda"


"Astaga!" Bunda Lily berlonjak kaget saat tiba-tiba mendapat tepukan di pundaknya.


"Kamu kenapa? Ayah perhatikan dari tadi kayak ada yang ganggu" Tanya Nanda menggiring Bunda Lily duduk di sofa, "Bunda nggak tau, Yah. Dari tadi Bunda nggak bisa tenang" Jawab Lily dengan raut wajah cemas, "Apa Deva baik-baik saja, Yah"


Kenapa tidak Adnan yang di tanya? Karena tadi Bunda Lily baru saja mengobrol dengan putranya. Walaupun perasaan kecewa setelah kejadian tadi pagi, perasaan cemas seorang Ibu terhadap anak tentu saja akan timbul.


"Bun, Deva pasti baik-baik saja. Mungkin cuma perasaan Bunda aja, jangan terlalu di pikirkan" Walau sebenarnya ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri, bertahun-tahun ia membuktikan ikatan batin sang istri dengan kedua anaknya yang begitu kuat.

__ADS_1


"Coba telfon Deva, Yah. Bunda akan tenang jika sudah mendengar suaranya" Pintar Lily


"Baiklah" Ayah Nanda meng-scroll layar ponselnya mencari nomor sang putri.


1,2,3,4 kali Ayah Nanda mencoba menghubungi nomor anak bungsunya, tetapi tidak ada jawaban.


"Bagaimana?"


"Sibuk, Bun. Mungkin Deva memang lagi sibuk, secara dia sudah mengurus perusahaan. Jadi mungkin ponselnya di matikan" Urai Nanda, "Tapi Bunda nggak bisa tenang, Yah" Imbuh Lily


"Ya."


Di sebuah rumah sakit besar di negara S, Deva baru saja selesai melakukan kemoterapi untuk melawan penyakit di tubuhnya.


Kemoterapi? Chronic myeloid leukemia (CML), Deva mengetahui hal buruk tersebut saat ia mengandung banyak Chesa. Karena takut terjadi apa-apa, Deva langsung menghubungi Dr. Akbar dan meminta Dr. Akbar untuk melakukan sesuatu untuknya. Dan akhirnya, Dr. Akbar menciptakan obat khusus untuk dirinya, obat tersebut memiliki jangka waktu satu bulan dan sudah di pastikan aman untuk kandungan Deva.


"Mengingat wajah bahagia Chesa, membuat rasa sakitku tidak terasa sama sekali" Gumam Deva mengulas senyum sambil mengatupkan kedua matanya.

__ADS_1


Di kediaman Smith, Oma Yosy masih terus berfikir dan kembali mencerna apa yang baru saja terjadi.


"Cucuku tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu, aku sudah mengenalnya begitu baik. Pasti ada hal lain yang anak itu sembunyikan" Ucap Oma Yosy, "Anak itu lagi-lagi membuatku pusing dengan tingkahnya, sudah jadi ibu tapi masih saja main petak umpet seperti ini"


"Awas saja kalau sampai Oma tau ku menyembunyikan sesuatu, tongkat Oma akan langsung memukul kakimu" Oma Yosy keluar dari kamar.


"Nona Gautama, ini makanan untuk anda. Sebelum kesini saya mengirimkan foto nona muda Chesa ke ponsel anda" Ujar Akbar meletakkan nampan berisi makanan di atas ranjang Deva


"Dari Ambar?" Dr. Akbar mengangguk


"Bagaimana keadaan rumah?" Tanya Deva, "Tidak ada masalah, hanya saja terkadang Ambar berdebat dengan tuan muda" Jawab Akbar


Ayah Chesa, kau tidak malu berdebat dengan seorang gadis SMA? Astaga. Batin Deva terkikik geli


"Pergilah" Dr. Akbar mengangguk, kemudian pamit pergi.


"Aku merindukanmu, Nathan. Aku harap kamu tidak melakukan apa yang ku katakan waktu itu, aku terpaksa mengatakannya" Ujar Deva terisak pelan sambil memeluk kedua lututnya.

__ADS_1


__ADS_2