
Nathan masuk ke kamar Deva dan melihat gadis itu tengah tidur dengan posisi tengkurap
"Deva"
"Air panas udah gue siapin, mandi sono" Suruh Deva mengubah posisinya menjadi terlentang
"Makasih" Nathan masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
"Lo mau kemana?" Tanya Nathan, "Kamar bunda, gue mau tidur di sana" Jawab Deva beranjak pergi
"Eh?"
Deva masuk ke kamar orang tuanya dan terlihat mereka berdua sudah tertidur, melihat jam sudah pukul sepuluh malam. Tak ingin mengganggu mereka, Deva menyelinap di tengah-tengah mereka
Merasa ada pergerakan di tempat tidur, Lily mulai membuka matanya.
"Deva? Kamu ngapain disini, Sayang" Tanya Lily, "Deva nggak mau punya adik, Bunda" Kata Deva dengan mata mulai berkaca-kaca
"Astaga, kenapa kamu masih mikirin itu. Ayahmu tadi cuma bercanda, ayo kembali ke kamar mu. Kasian Nathan tidur sendiri" Pinta Lily mengusap air mata anak perempuannya, "Bunda ngusir Deva?" Rengut gadis itu
"Lalu, Nathan nanti tidur sendiri kalau kamu tidur disini. Dan di mana sikap dinginmu itu?" Lily terkekeh melihat sifat Deva saat ini yang seperti anak kecil
"Bunda.."
"Iya iya, Sayang. Ayo tidur, besok kamu sekolah kan?" Deva mengangguk.
__ADS_1
Usai sarapan pagi, Nanda pamit ke kantor sedangkan Nathan dan Deva pamit ke sekolah. Pasangan itu memilih membawa kendaraan masing-masing.
Deva berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan airpods di telinga nya, sampai di kelas ia langsung membuka buku sambil mendengar musik
Mendengar teriakan para kaum hawa karna melihat Nathan tidak membuatnya terganggu sama sekali, ia tidak peduli apa yang akan mereka lakukan. Deva juga membiarkan para gadis itu mendekati Nathan karna apa? Karna ia dan Nathan sudah terikat secara agama dan negara, jadi ia tidak terlalu khawatir.
"Ekhem"
"Sibuk" Balas Deva tanpa mengalihkan pandangannya, ia tau siapa yang berdeham kepadanya
Nathan, dia melepas salah satu airpods milik Deva dan memakainya.
"Apa"
"Ceh."
Saat jam istirahat, Deva memilih pergi ke taman belakang sekolah yang jarang sekali di lewati para murid SMA Merah Putih.
"Haaah..."
Deva menatap cincin pernikahan yang ia jadikan bandul kalungnya, sekali lagi helaan nafas pun terdengar
"Di saat semua orang pengen dapetin dia, gue dengan mudahnya nikah sama dia. Di saat semua orang pengen deket sama dia, gue dengan mudahnya bisa satu kamar sama dia" Gumam Deva menatap langit mendung di atas
"Itu berarti lo manusia yang paling beruntung karna tanpa susah payah dapetin gue" Timpal seseorang
__ADS_1
Deva menoleh dan melihat Nathan berdiri tak jauh darinya.
"Ceh"
"Makan dulu, ntar perut lo sakit" Ucap Nathan memberikan makan siang kepada Deva tak lupa dengan sebotol air mineral, "Lo ngasih gue, sedangkan lo sendiri belum makan?" Tegur Deva
"Gue bisa nanti" Balas Nathan
"Gak bisa, itu buat lo aja. Gue bisa pesen sendiri" Tolak Deva, "Makan berdua, kalo kurang? Ntar gue beli lagi" Tawar Nathan
"Oke."
Usai makan siang, Deva membersihkan bekas makan siang mereka lalu membuangnya di tempat sampah.
"Nathan"
"Hm"
"Anak"
"Kenapa?"
"Bentar lagi ujian akhir, nggak lama lagi kelulusan. Ayah, bunda, mama, sama papa, pasti nunggu kita, terutama papa sama mama. Mereka berdua cuma ngandelin lo, kalau ayah sama bunda masih ada bang Adnan" Jelas Deva gusar
"Iya, terus. Lo mau sekarang? Jangan pikirin mereka, kita lakuin kalo kita emang udah bisa nerima satu sama lain" Balas Nathan.
__ADS_1