
Ayah Nanda, bunda Lily, Adnan, dan Nathan mulai merasa aneh dengan Chesa yang terus menjahili Dela yang mereka kira adalah Deva. Sudah di beri peringatan sampai hukuman tidak boleh keluar kamar, tetapi tetap saja Chesa masih bisa melakukan kejahilan nya.
"Aaaaa!!" Suara pekikan terdengar begitu keras dari belakang rumah, semua orang berbondong-bondong berlari ke asal suara.
Terlihat bocah enam tahun tengah tertawa melihat seorang wanita bermandikan lumpur.
"Chesa"
"Grandma!" Chesa berlari menghampiri sang nenek.
"Udah puas mainnya?" Bunda Lily tidak akan tega memarahi cucunya.
Chesa menggeleng dengan menampilkan giginya.
"Ayo, Grandma akan membantumu membersihkan diri" Ajak Lily, Chesa mengangguk.
Di tempat lain, seorang wanita berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan. Di sekujur tubuhnya penuh luka goresan kaca, darah segar mengalir di kepalanya karna tak sengaja terbentur batu saat melompat dari jendela lantai dua.
"Astaga, Deva!" Sang pemilik nama menghentikan langkahnya saat ada seseorang dari arah depan menghampiri nya.
__ADS_1
"Va? Kok bisa jadi kayak gini" Tanyanya, "Ntar gue jelasin, anter gue ke rumah sakit sekarang" Pinta Deva
"Oke, ayo masuk ke mobil" Orang itu membantu Deva masuk ke dalam mobilnya.
Sampai di rumah sakit, orang tadi memapah Deva masuk ke dalam agar segera di tangani.
"Apa ada luka serius, Dok" Tanya orang tadi, "Tidak ada luka serius, Nona bisa pulang setelah infus dan kantong darahnya habis" Jawab Dokter
"Terimakasih, Dok"
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya periksa" Deva dan orang tadi mengangguk.
"Dam, makasih" Ucap Deva, "Iye, tapi kok lo bisa kayak tadi" Tanya Sadam. Ya, orang yang menolong Deva adalah Sadam.
Flashback on
"Membuang waktu saja" Deva beranjak menuju kasir untuk membayar minuman nya tadi, setelah membayar, ia pun keluar dari cafe tersebut.
Tetapi baru saja ia ingin masuk ke dalam mobil, ada seseorang yang membekap nya menggunakan sapu tangan yang sudah di campur obat bius, Deva menyadari sapu tangan itu sudah di olesi obat bius saat kesadaran nya mulai menghilang.
__ADS_1
Deva membuka matanya dan melihat ruangan yang menurutnya asing. Arah matanya langsung terfokus ke arah pintu terbuka
"Dani?"
"Kenapa? Kaget kok aku bisa ada di sini? Seseorang bisa melakukan apapun jika sudah mempunyai tekad, dan ini yang aku lakukan. Aku ingin memilikimu" Ujar Dani tersenyum
"Cih"
"Dan satu lagi. Mereka tidak akan pernah mencarimu karna aku sudah mengirim seseorang yang memiliki wajah yang sama persis seperti mu, Honey" Ucap Dani menyeringai
"Terserah, tapi putriku akan tetap mengenali siapa ibu kandungnya" Balas Deva sinis, "Itu bukan masalah, aku bisa melenyapkan nya" Imbuh Dani enteng
"Jangan coba-coba!!"
"Siapapun yang berani menghalangi jalanku, akan ku lenyapkan termasuk gadis kecil itu."
Flashback off
Sadam mengangguk mengerti. "Terus gimana sekarang? Cewek itu pasti udah ngegoda Nathan, secara wajahnya persis kek lo"
__ADS_1
"Masalah itu bisa gue pikirin ntar, yang terpenting sekarang gue harus pulang" Kata Deva, "Nunggu itunya abis dulu, badan lo juga masih lemes" Sahut Sadam
Mendengar ucapan Sadar, Deva mendengus sebal. Ia tidak sabar menendang Dela yang menyamar sebagai dirinya keluar dari kediaman Gautama. Dan sudah ia pastikan kalau Dela berusaha mendekati suaminya, Nathan. Selama satu minggu ini.