DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 30


__ADS_3

Nathan datang membawa nampan berisi makan siang untuk Deva, mereka sekarang berada di kantin bersama Intan dan Sadam.


Pemuda itu meletakkan makanan tersebut di depan sang istri lalu duduk di samping nya.


"Lo kenapa, Va? Gue perhatiin dari lo ngelamun terus" Tanya Intan, "Gue nggak papa, mood gue lagi jelek" Jawab Deva


Intan dan Sadam tidak tau asal-usul keluarga Nathan maupun Deva, itupun juga tidak penting bagi mereka berdua karena yang mereka tuju adalah pertemanan bukan harta.


"Tangan lo kenapa?" Tanya Deva kepada Intan, "Oh ini, kemaren nggak sengaja nabrak cowok di cafe. Tapi, nggak papa" Jawab Intan


"Ayo makan" Ucap Nathan, Deva menggeleng malas dan membuat Nathan berdecak.


Drrtt...


Ponsel Deva berdering, sang pemilik melirik dan melihat nama sang ayah di layar ponselnya. Tanpa menunggu lagi, Deva segera mengangkat nya.


"Hallo, Yah"


"Bunda udah siuman, jadi kamu bisa tenang belajarnya"


"Aku kesana sekarang"


"Apa sudah selesai?"


"Hem"


"Baiklah, hati-hati."

__ADS_1


·


·


Deva dan Nathan baru saja sampai di rumah sakit, dengan langkah cepat Deva masuk ke dalam. Ia sudah tidak sabar menemui sang Ibu yang sedang di rawat di dalam.


Deva membuka pintu. "Bunda"


"Kalian sudah datang" Kata Nanda. Di ruangan itu bukan hanya Ayah Nanda, Bunda Lily, dan Adnan , melainkan juga ada Papa Surya, Mama Zoya, dan Ibu Maira di sana.


"Bunda hiks" Deva memeluk Bunda Lily dengan erat.


Bunda Lily tersenyum sambil mengusap punggung anak perempuannya. "Bunda baik-baik aja, tenanglah. Jangan menangis" Ucap Lily menangkup kedua pipi si bungsu dan ibu jarinya mengelap cairan bening yang keluar dari mata indah Deva


"Mm..apa kalian sudah makan siang" Tanya Adnan menatap adik dan adik ipar nya secara bergantian, "Aku sama Deva udah tadi di kantin" Kata Nathan tanpa memperdulikan tatapan dua orang ke arahnya


"Ibu, kita mau ngapain ke sini" Tanya Nathan heran, "Duduklah, Ibu ingin berbicara dengan mu" Perintah Maira dituruti oleh Nathan


Ibu Maira tersenyum.


"Bicaralah sekali dengan mereka, kita lupakan masa lalu dan mulai semuanya dari awal. Jangan sampai masalah ini terus berlarut dan mempengaruhi anak kamu nanti di masa depan. Ibu yakin kamu anak yang baik dan kamu sangat menyayangi mereka, jadi bicara lah" Papar Maira menatap serius putranya


"Ibu—"


"Katakan, apa kau menyayangi mereka?" Tanya Maira menyela ucapan Nathan, "Ayo katakan"


"Ya"

__ADS_1


"Jadi bicaralah dengan baik-baik. Ibu sudah melupakan semuanya, jadi kamu juga harus melakukan hal yang sama agar masalah ini tidak semakin rumit"


Nathan menghembuskan nafasnya pelan. "Baiklah, demi Ibu"


"Hem, ayo kita kembali ke sana."


·


·


"Dek, mulai sekarang kamu harus mulai belajar mengurus perusahaan karena nggak lama lagi kamu yang akan memegang semuanya" Ujar Adnan


Di ruang rawat tinggal Ayah Nanda, Bunda Lily, Adnan, Deva, dan Nathan.


"Merepotkan" Cicit Deva, "Atau begini saja, aku akan memegang tugasku setelah aku melahirkan. Bagaimana?"


"Kalau Ayah tidak masalah, bagaimana baiknya aja" Timpal Nanda, "Ayah benar, selama hamil kamu nggak boleh kebanyakan fikiran. Jadi biar Abangmu yang mengurusnya" Lanjut Lily


"Gimana, Bang"


"Nggak masalah"


"Dek" Adnan memanggil sang adik


"Hm"


"Arin" Deva tersenyum tipis mendengar kakaknya menyebut nama Arinda

__ADS_1


"Keputusan di tangan Abang. Jika Bang Adnan masih ingin mempertahankan? Ya, silahkan. Tetapi dia tidak akan kembali ke rumah Gautama, aku akan menyiapkan rumah lain untuknya" Urai Deva, "Kalau tidak, itu urusan pribadi Abang. Jadi Abang bisa memilih."


__ADS_2