DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 42


__ADS_3

Sekarang di ruang tengah tersisa Bunda Lily dan Deva.


"Bunda"


"Ya"


"Deva pengen sesuatu dari Bunda" Ucap Deva menatap manik mata milik Bunda Lily, "Katakan saja, Bunda akan memenuhinya" Kata Lily


"Cium pipi Deva" Bunda Lily menatap heran anak perempuannya, walaupun begitu ia tetap melakukan nya.


"Sudah?"


Deva menggeleng. "Peluk Deva"


Lagi-lagi Bunda Lily melakukan apa yang di pinta oleh anak bungsunya, Deva mengatupkan kedua matanya sejenak menikmati rasa nyaman di dekapan Bunda Lily.


"Masih sama, sangat nyaman" Ucap Deva, "Kau kenapa, Sayang" Tanya Lily mengelus surai panjang Deva

__ADS_1


"Tidak. Aku hanya merindukan pelukan Bunda, hanya itu" Jawab Deva, "Kamu bisa memeluk Bunda sesukamu dan kapanpun kau mau, Sayang. Bunda selalu ada di sampingmu" Imbuh Lily


Di rasa sudah cukup, Deva melepas pelukan nya. Ia menatap wajah Bunda Lily dengan tatapan intens, seakan tidak ingin waktu berlalu.


"Kenapa menatap Bunda seperti itu, ada yang salah" Tanya Lily membuyarkan lamunan Deva, "Tidak, Bunda. Ohya, Deva mau ke kamar dulu. Nggak papa kan Deva tinggal?" Ujar Deva


"Iya, masuklah ke kamarmu" Balas Lily.


Di tempat lain, sepasang kakak beradik tengah duduk rooftop rumah mereka.


"Kak, aku sangat khawatir dengannya" Ucap sang adik, "Bukan kau saja, Kakak juga khawatir. Tapi Kakak sudah membuat obat yang akan membuatnya bertahan hidup lebih lama, dan Kakak pastikan ini aman" Balas sang kakak memperlihatkan sebotol kapsul di tangannya


"Kita harus melakukan sesuai perintah, walaupun dengan sedikit paksaan, semuanya akan berjalan sesuai rencana" Imbuh sang kakak, "Tujuh puluh persen Kakak sudah melakukan perkerjaan Kakak, sekarang tinggal pekerjaan mu. Ingat, jangan sampai melakukan kesalahan"


"Iya, Kak."


***

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini, Nak? Anginnya sangat kencang, bagaimana kalau kamu sakit" Tanya Nanda menghampiri putrinya yang berada di tepi kolam ikan, "Atau kau ada rencana kembali memasak ikan kesayangan Ayah?"


"Tidak. Aku hanya ingin melihatnya, lagian cuma ikan juga" Balas Deva, "Cuma? Satu ekor harganya bisa buat makan setahun pelayan di rumah ini, Deva. Memang uang itu tidak seberapa, tapi kalau bisa jangan sampai mati. Bundamu bisa mengomel kalau Ayah ketahuan beli ikan lagi" Ucap Nanda panjang lebar


"Salah siapa beli ikan harganya segitu, ikan biasakan banyak" Kata Deva meledek, "Kau itu memang tidak pernah suka melihat Ayahmu bahagia" Dengus Nanda


"Astaga, Ayah. Deva cuma bercanda, ikan-ikan ini tidak seberapa jika di bandingkan kebahagiaan Ayah sama bunda" Tutur Deva, "So, kalian berdua lebih penting dari apapun"


"So sweet sekali anak Ayah yang satu ini, pasti ada apa-apa nya" Selidik Nanda, "Ck, segitunya Ayah nggak percaya sama Deva" Kata Deva jengkel


"Biasanya kan kamu kalau mau apa-apa kan bikin orang terbang dulu" Ledek Nanda, "Deva udah ada suami, jadi Deva bisa meminta apapun" Balas Deva menjulurkan lidahnya


"Oh, sekarang udah sombong ya punya suami" Ucap Nanda mencubit kedua pipi putrinya, "Ayah, kalau ada yang liat gimana. Malu tau, Deva udah gede masa masih di cubit pipinya" Sungut Deva


"Di mata Ayah kau tetap anak kecil, Nak" Tambah Nanda


"Benarkah? Jadi Deva bisa minta apapun yang Deva mau, termasuk Tesla?"

__ADS_1


"Perampokan itu namanya" Cibir Nanda.


__ADS_2