
Deva mengerjapkan kedua matanya dan melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul satu dini hari, ia menoleh ke kanan dan melihat suaminya tertidur lelap
Bangunin nggak ya? Kasian kalo di bangunin, tapi aku pengen makan ikan bakar. Ucap Deva dalam hati
Dengan berat hati Deva terpaksa membangunkan pria di sampingnya.
"Nathan, bangun" Bisik Deva di telinga Nathan, "Nathan, ayo bangun"
"Mggh..ada apa?" Tanya Nathan dengan suara serak nya, "Aku pengen makan ikan bakar, Nathan" Kata Deva memainkan ujung rambut sang suami
Pemuda itu melirik ke arah jam dinding. "Jam segini mana ada yang jual, Deva"
Deva menggeleng. "No. Aku pengen kamu yang bakar ikannya, bukan beli" Sahut Deva, "Kalau kamu keberatan nggak papa, aku akan membelinya besok. Maaf menganggu tidurmu"
"Hei, bukan begitu. Aku akan membuatkannya untukmu" Ucap Nathan cepat lalu bangkit dari tempat tidur, "Kamu tetep disini atau ikut?"
"Ikut, aku mau lihat skill memasak suamiku ini" Kata Deva berdiri di atas kasur, Nathan merentangkan kedua tangannya memberi isyarat agar Deva mendekat
Pria itu menggendong koala Deva dan mulai melangkah keluar dari kamar.
Mereka berdua sekarang sudah berada di dapur, Nathan menyuruh Deva duduk santai di kursi meja makan. Sedangkan ia mencari alat dan bahan untuk memenuhi keinginan istrinya.
"Ikan. Deva, di kulkas nggak ada ikan" Ucap Nathan, "Kita jaring ikan punya ayah di kolam belakang aja gimana" Usul Deva, "Itu ikan kesayangan ayah, jangan" Kata Nathan
"Lalu?"
Nathan menggaruk tekuknya, ia tidak ada pilihan lain karena jam satu pagi ia mau mencari ikan di mana. "Baiklah, ayo kita ke belakang"
"Hem" Nathan menggandeng tangan Deva menuju ke belakang rumah di mana ikan kesayangan ayah Nanda berada.
Nathan mengambil dua ekor ikan milik ayah Nanda menggunakan jaring yang ia dapatkan di dalam gudang. Setelah itu, ia dan sang istri kembali masuk ke dalam.
__ADS_1
"Duduklah, aku yang akan mengerjakan nya" Titah Nathan dan Deva menurut.
Deva menopang dagunya sambil memerhatikan suaminya yang sedang berkutat dengan alat dapur, hingga hampir setengah jam berlalu ikan bakar keinginan Deva jadi.
"Makanlah" Ucap Natha. Deva menatap ikan tersebut dengan tatapan lapar, tanpa menunggu lagi ia segera melahap nya dengan pelan.
"Gimana?" Deva hanya mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya.
"Kamu lanjut aja makannya, aku akan membereskan dapur" Ujar Nathan, "Biarkan saja, biar besok pelayan yang bersihkan" Cegah Deva
"Nggak papa, cuma sekali"
"Baiklah."
Usai menyantap ikan bakar, pasangan muda itu kembali ke kamar.
"Kau ingin sesuatu lagi" Tanya Nathan, "Tidak, aku hanya sedang berfikir saja" Jawab Deva
Tangan kiri Nathan menuntun Deva agar bersandar di dada bidangnya. "Jangan terlalu banyak fikiran, nggak baik buat anak kita. Sekarang kita tidur lagi, ini masih sangat malam"
"Hem. Katakan apapun yang kamu mau, akan aku penuhi semuanya" Balas Nathan, "Sudah, ayo kita tidur"
"Peluk.."
"Iya."
Keesokan harinya, Deva berjalan mendekati orang tuanya yang berada di ruang keluarga. Ia akan membicarakan masalah ikan kesayangan sang ayah yang menjadi korban ngidamnya.
"Ayah, Bunda" Wanita itu duduk di sebelah sang Ayah.
"Ya? Ada yang ingin kamu bicarakan, Sayang" Tanya Lily
__ADS_1
"Itu, Bunda. Mm.." Tatapan ragu bisa Ayah Nanda dan Bunda Lily tangkap dari mata putri mereka.
"Katakan saja" Sahut Nanda
Deva menghembuskan nafasnya. "Tadi malam aku sama Nathan memasak ikan Ayah yang ada di belakang"
"Apa!"
"A–Ayah, tadi malam Deva tiba-tiba pengen makan ikan. Terus di kulkas nggak ada ikannya, ya itu jalan satu-satunya. Lagian tadi malem Deva pengennya jam satu malem, mana ada yang jual ikan jam segitu" Jelas Deva merunduk pelan
Ayah Nanda hanya bisa mengelus dadanya, karena harga per ekor ikan yang ia miliki bisa untuk makan setahun para pelayan di rumahnya.
"Yaudah nggak papa, lagian Ayah masih bisa beli lagi" Ayah Nanda harus mencoba memahami situasi Deva yang sedang hamil
"Ayah nggak marah?"
"Marah juga percuma, ikannya udah masuk ke perut" Balas Nanda, "Uu..Deva sayang sama Ayah" Ucap Deva memeluk Ayah Nanda
"Cuma Ayahnya aja? Bundanya nggak" Sindir Lily, "Deva sayang sama kalian berdua" Imbuh Deva memeluk keduanya, "Ohya, Ayah/Bunda. Aku pergi dulu, hari ini ada jadwal cek ke dokter. Nathan juga udah nunggu di depan"
"Baiklah, hati-hati di jalan"
"Aku pergi dulu, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Deva beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya di ruang keluarga.
"Ayah beneran nggak marah? Tumben" Cibir Lily. Pasalnya ia mengenal betul bagaimana suaminya yang begitu sayang dengan peliharaan nya itu.
"Mau gimana lagi, Bun. Devanya lagi ngidam, mungkin kalau nggak Ayah pasti marah. Itu ikan harganya nggak main-main" Jawab Nanda melipat koran yang ada di tangannya
"Terus gimana kalau Bunda juga pengen, kayaknya enak dagingnya" Lanjut Lily, "Bunda, jangan mencari kesempatan" Keluh Nanda
__ADS_1
"Hahaha! Bunda cuma bercanda, Yah. Serius amat mukanya" Ledek Lily, "Kopinya di minum, keburu dingin"
"Iya."