
"Memangnya saya kenapa?" Sela Deva kebingungan. Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Deva, membuat yang lain juga bingung.
"Dan ya, Bunda. Kenapa aku bisa ada disini, bukankah aku tadi tidur di pangkuan Bunda?" Tanya Deva lagi
Bunda Lily berjalan mendekati Nathan, kemudian mengambil alih bayi perempuan yang berada di gendongan menantunya
"Apa dia adik baru-ku, Bunda? Cantik sekali, dan siapa namanya?" Tanya Deva melihat seorang bayi di gendongan Bunda Lily
Ayah Nanda memberikan isyarat kepada Dokter agar kembali memeriksa putrinya.
"Nona, boleh saya bertanya sesuatu?" Ucap Dokter
"Ya, silahkan saja" Balas Deva
"Coba ceritakan apa anda ingat sekarang, saya hanya ingin memastikan saja" Pinta Dokter, "Ya, tentu. Saya habis pulang sekolah, terus Bunda ke kamar kayak hari biasa. Setelah itu, saya tiduran di pangkuan Bunda. Selesai, ada lagi?" Jelas Deva
"Kelas berapa?" Tanya Dokter lagi
"Dua SMA"
Dokter mengangguk mengerti lalu meminta dua orang untuk datang ke ruangannya. Mereka semua memutuskan Ayah Nanda dan Nathan-lah yang akan ke ruangan dokter
"Langsung ke intinya saja, Dok" Ucap Nanda saat mereka sudah berada di ruangan dokter yang menangani Deva
__ADS_1
"Sepertinya Nona mengalami amnesia sebagian karena kecelakaan itu, Nona sekarang hanya memiliki setengah ingatan-nya yaitu ingatan masa lalunya. Jadi kejadian beberapa tahun belakangan termasuk kejadian hari ini, Nona tidak mengingatnya sama sekali"
"Apa bisa di sembuhkan, Dokter?" Tanya Nanda, "Bisa, Tuan. Tapi jangan terlalu di paksa, itu akan menyakiti diri Nona. Kalian bisa membantunya mengingat sedikit demi sedikit"
"Baik, Dok. Terimakasih."
Ayah Nanda dan Nathan kembali ke ruang rawat, Nathan mengumbar senyum ke arah Deva yang menatapnya bingung. Hatinya merasa sedih mengingat perkataan dokter kalau Deva hanya mengingat masa lalunya, bagaimana nasib putri mereka yang membutuhkan ASI kalau Deva tidak mengingat nya.
Semuanya terjadi di saat yang tidak tepat, ia juga menyalahkan dirinya karena meminta Deva untuk datang mengantar makan siang. Jika saja ia tidak memintanya, mungkin sekarang Deva akan masih mengingat dirinya.
"Apa kata dokter tadi?" Tanya Lily pelan
"Amnesia sebagian. Deva hanya mengingat masa lalunya, termasuk tentang dirinya yang masih menjalin kasih dengan alm. Frans" Jawab Nanda, "Ya Tuhan, lalu bagaimana sekarang? Dia pasti akan terus bertanya tentang Frans yang tidak ada disini, dan itu akan menyakiti perasaan Nathan" Kata Lily cemas
***
Kini hanya Nathan, Deva, dan putri kecil mereka yang berada di ruang rawat. Bunda Lily meminta Nathan agar tetap di ruangan, sedangkan dirinya pergi ke kantin. Nathan dan Deva berperang dengan fikiran mereka masing-masing
Nathan menatap sendu putrinya yang masih terlelap di box bayi, sedangkan Deva memikirkan perkataan bunda Lily.
Bagaimana mungkin aku sudah menikah? Tapi bayi itu, ada perasaan aneh saat aku menggendongnya tadi. Ujar Deva dalam hati
Ini semua adalah salahku, jika saja tadi malam aku tidak memintanya mengantar makan siang, ini semua tidak akan terjadi, putriku sekarang akan sudah menikmati ASI ibunya. Maaf, Nak. Kau menderita karena Ayah. Lirih Nathan dalam hati
__ADS_1
Lamunan keduanya terbuyar ketikan tangisan kencang dari bayi mungil itu. Nathan menggendongnya dan mencoba untuk menenangkan anak perempuannya
"Bawa dia kemari" Pinta Deva tanpa sadar. Nathan menengok mendengar ucapan Deva, ia membaringkan tubuh kecil tersebut ke pangkuan sang istri
"Apa dia lapar, aku harus bagaimana?" Tanya Deva menggigit ujung jarinya
"Berikan dia ASI, Sayang" Sahut Lily berada di ambang pintu
"Bunda, jangan bercanda. Ak—"
"Dia putrimu dan kau adalah Ibunya, Deva. Sudah kewajiban mu memberikan dia ASI dengan cukup" Deva terdiam mendengar Bunda Lily menyebut namanya saat berbicara
Nathan menarik tirai agar memberikan penyekat antara dirinya dengan Deva. Mengingat kondisi Deva, ia tidak ingin membuat kesalahan yang akan membuatnya semakin jauh.
Bunda Lily membantu Deva mengatur posisi agar bayi perempuan itu meminum ASI dengan nyaman.
"Bunda.."
"Kau tidak merasakan apapun saat menyentuhnya? Ikatan batin Ibu dan anak tidak akan pernah salah, Sayang" Tutur Lily menatap kedua mata Deva
Perasaan aneh di hati Deva kembali muncul saat bayi perempuan tersebut mulai menyedot ******-nya. Perasaan bahagia dan bingung bercampur menjadi satu, Bunda Lily keluar dari balik tirai dan membiarkan Deva menghabiskan waktu bersama cucunya.
Perasaan apa ini, Tuhan. Kenapa aku merasa sangat bahagia melihat nya seperti ini? Perasaan yang tidak pernah ku rasakan selama ini membuat senang sekaligus bingung karena tidak mengingat apapun, apa benar kalau dia putriku seperti kata bunda tadi? Tapi kenapa aku tidak mengingat apapun. Ucap Deva dalam hati, matanya terus tertuju pada bayi yang kembali mengatupkan kedua matanya.
__ADS_1