
Sepasang suami istri tengah berjalan mengelilingi mall untuk mencari seseorang, sang suami hanya berjalan mengikuti langkah sang istri pergi.
"Deva, kamu nggak capek? Dari tadi kita jalan terus tapi Rani-nya nggak ada, kita istirahat dulu aja ya?" Kata Nathan, "Tidak, aku akan beristirahat setelah menem–itu dia, ayo kita samperin" Deva menarik Nathan menghampiri segerombolan gadis yang baru saja keluar dari toko baju
"Oh, ternyata disini. Mana kunci mobilku" Tagih Deva menengadahkan tangannya kepada Rani yang wajahnya sudah tegang
"Maaf, Mbaknya siapa? Seenaknya aja minta kunci mobil temen saya" Sahut si B tak terima, "Saya? Kalian tidak perlu tau, dan yang pastinya teman kalian ini tau siapa saya. Sekarang mana kuncinya" Pinta Deva lagi
"K–kunci apa?"
"Kalau kau tidak ingin lebih malu disini, berikan kunci mobilku sekarang" Ucap Deva tegas, "Apa yang ingin kau lakukan jika aku tidak memberikan kunci mobil ini" Tantang Rani
"Kau menantang ku? Baiklah. Pertama, ini adalah kunci mobilku" Ujar Deva menyomot kunci mobil yang ada di tangan Rani, "Jangan mengada-ngada ya, Mbak. Itu kunci mobil temen saya, seenaknya aja ngaku-ngaku" Bela si D
"Oh, jadi dia bilang kalau ini kunci mobilnya? Coba tanyakan di mana surat-surat mobil itu" Kata Deva santai, "Sayang, udah ayo. Malu di liatin orang-orang" Ajak Nathan
Rani diam.
"Kenapa diam? Nggak ada ya? Cih, karena surat-surat nya ada di tangan ku" Lanjut Deva memperlihatkan surat-surat mobilnya, "Mau mengaku kalau kau memakai mobilku tanpa ijin atau ku permalukan dirimu lebih dari ini"
__ADS_1
Tanpa menjawab apapun, Rani pergi dari sana.
"Ceh, kalian mudah sekali ditipu olehnya" Decih Deva menarik pergi Nathan.
Sampai di rumah, Nathan dan Deva langsung masuk ke dalam. Deva tersenyum sinis melihat semua anggota keluarga berkumpul kecuali oma Yosy yang sedang ada urusan di luar.
"Apa maksudmu mempermalukan putriku di tempat umum, ha?! Aku tau kau tidak suka dengannya, tapi tidak begini caranya" Nora hendak melayangkan tamparan di pipi Deva langsung di tahan oleh Adnan dan Nathan.
"Jangan pernah coba-coba menyentuh adikku walaupun itu hanya seujung rambut" Tekan Adnan menatap tajam Bibi Nora
"Ya, hanya karena mobil murahan seperti itu kau tega mempermalukan adikmu?" Sahut Ny. Abraham
"Apa? Adik? Seingatku, Ayah dan Bundaku hanya memiliki satu putra dan satu putri. Dari mana dia bisa di katakan sebagai adikku? Bahkan kita tidak ada hubungan darah sama sekali" Ujar Deva duduk di antara Ayah Nanda dan Bunda Lily, "Lalu apa tadi? Mobil murahan? Ya, mobil itu harganya hanya tiga milyar. Murah bukan?"
"Dia bohong!"
"Bohong? Nathan adalah saksi, aku sudah meminta kunci mobilku secara baik-baik tapi kau tetap kekeh tidak ingin memberikan nya. Dan kau juga menggunakan mobilku tanpa ijin, bukankah itu sama saja seperti mencuri?" Lanjut Deva, "Lagi, dia dengan sombongnya mengakui di depan teman-temannya kalau mobil ku adalah milik nya"
"Dan, Nanda. Kau mengijinkan Deva membeli mobil seharga tiga milyar? Bahkan saat Rani ingin meminta mobil kau masih menawarnya" Timpal Ny. Abraham
__ADS_1
"Aku hanya memberikan ijin, Deva membeli mobil dengan uangnya sendiri bahkan pajaknya dia yang membayarnya sendiri setiap tahun" Jawab Nanda tenang, "Aku memperlakukan putra dan putriku dengan sama, tidak ada yang aku beda-bedakan. Dan masalah Rani, dia belum lancar mengemudi dan dia juga belum mempunyai SIM" Tambah Nanda, "Sedangkan Deva adalah mantan pembalap kelas atas"
"Pembalap?" Bunda Lily menatap horor suaminya yang tengah mengatupkan mulutnya rapat-rapat, Deva dan Adnan menggigit bibir bawah mereka mendengar sang ayah keceplosan bicara.
"Akan ku jelaskan nanti, okey" Ayah Nanda melirik kearah kedua anaknya yang menggeleng pertanda tidak baik-baik saja.
"K–kami masih baik hati tidak mengusir Bibi dan Rani dari sini setelah tingkah mereka berdua" Timpal Deva sedikit gugup melihat tatapan dari Bunda Lily
"Lebih baik kalian membawa Nora dan putrinya pergi dari sini dari pada membuat cucu perempuan ku yang sedang hamil stress" Sahut Oma Yosy dari ambang pintu, "Oma? Sejak kapan Oma pulang?" Tanya Adnan
"Dari awal saat Nora ingin menampar Deva. Dan berani sekali kau berbuat seperti itu kepada cucuku! Bahkan orang tuanya sendiri tidak pernah melakukan hal seburuk itu!!" Geram Oma Yosy, "Didik putrimu dengan benar, meminjam sesuatu yang bukan miliknya harus meminta ijin terlebih dulu. Apa dia tidak pernah di ajarkan sopan santun?"
"Oma disini akan mengambil keputusan terakhir, bahwa tanggung jawab Nora dan Rani akan beralih ke Tuan dan Nyonya Abraham. Keluarga Gautama tidak akan mengirimkan sepeserpun uang kepada Nora dan Rani lagi, apapun itu alasannya. Kalian bisa mengemasi barang-barang kalian dan pergi dari sini"
"Ibu.."
"Ibu hanya membalas perbuatan mereka kepada Nanda dulu, kalian bisa pergi"
"Tapi kami orang tua Nanda, anda tidak bisa mengusir kami. Jika ini rumah Nanda, berarti ini juga rumah kami" Ny. Abraham tidak terima
__ADS_1
"Rumah ini adalah milik Nanda, Lily, Adnan, dan Deva. Rumah ini di bangun oleh kerja keras mereka berempat dari nol tanpa bantuan uang dari siapapun. Tidak cukup satu tahun untuk mendapatkan apa yang keluarga Gautama dapatkan sekarang. Hinaan dan rasa sakit yang mereka dapat terbayar dengan menjadi orang paling di hormati di banyak negara. Kalian hanya bisa melihat bagaimana mereka sukses, tapi tidak pernah melihat bagaimana mereka bekerja keras"
Oma Yosy menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan.