DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 70


__ADS_3

"Sayang, ada apa denganmu?" Tanya Nathan mengelus kepala Deva yang bersandar di dada bidangnya, "Bunda marah, Nathan. Bukan hanya marah kepadaku, tapi juga sama ayah sama abang. Baru kali ini bunda marah sampe pergi ke rumah oma" Ujar Deva terisak pelan


"Stuutt..tenanglah, bunda marah pasti ada sebabnya bukan? Nggak mungkin bunda marah tanpa sebab" Balas Nathan, "Sekarang lebih baik kita tidur, besok kamu bisa bicara baik-baik saja bunda"


"Kiss"


Cup


Kecupan singkat mendarat di kening Deva. "Sudah, ayo tidur."


Di kediaman Smith, Bunda Lily duduk terdiam di bibir kolam renang. Dalam benaknya, ia merasa seperti anak kecil yang lari ke rumah orang tuanya. Tetapi ia juga harus melakukan ini agar suami dan kedua anaknya sadar kalau apa yang mereka lakukan adalah salah.


Mau bagaimana pun juga Tn. dan Ny. Abraham tetaplah orang tua suaminya dan kakek-nenek kedua anaknya. Tidak seharusnya mereka bertiga terus berbicara sinis kepada kedua orang lansia itu.


"Kau tidak mungkin tiba-tiba datang kesini membawa koper jika tidak ada masalah, Lily" Ucap Oma Yosy mengejutkan Bunda Lily yang termenung


Bunda Lily menghembuskan nafasnya. "Aku sedang memberi hukuman kepada mereka bertiga, Ibu. Aku sudah lelah menegur mereka yang terus berbicara tidak sopan sama papa-mama, aku yang nggak enak dengan mereka, Ibu"


Oma Yosy tertawa sinis. "Jadi kau kesini karena merasa tidak enak dengan kelakuan suami dan anakmu kepada dua orang itu? Bahkan jika Ibu mau, Ibu bisa membuat mereka tidur di jalanan karena sudah berani menghinamu!"


"Ibu, bukan itu maksudku. Aku hanya nggak mau hubungan mas Nanda, Adnan dan Deva merenggang dengan mereka. Mereka juga keluarga kita, mereka tetap orang tua mas Nanda" Balas Lily


"Walau memang kenyataannya mereka besan Ibu, tetap saja Ibu tidak akan sudi mengakui mereka. Ibu mendidik dan menjagamu dengan begitu baik, tapi mereka dengan seenaknya menghinamu di depan semua orang? Enak saja" Sambung Oma Yosy kesal, "Tapi Ibu merasa lega karena suamimu tidak seperti mereka, dia bertanggung jawab dengan semua ucapannya. Dan sekarang hasilnya, kalian memiliki segalanya"


Bunda Lily mendesah pelan karena tidak dapat pembelaan dari sang Ibu.


"Istirahatlah, ini sudah malam" Ucap Oma Yosy beranjak pergi meninggalkan Bunda Lily di area kolam renang

__ADS_1


"Ibu sama saja seperti mereka bertiga, awas saja kalau mereka tidak sadar-sadar" Gerutu Lily mulai pergi ke kamar karena udara di luar semakin dingin.


Keesokan harinya, Deva datang sendiri ke kediaman Gautama. Ia melihat Ayah dan Abangnya sudah rapi dengan pakaian kantor mereka.


"Kalian udah mau berangkat?" Tanya Deva, "Kita berangkat nanti siang, kita mau ke rumah oma dulu" Jawab Nanda


"Aku ikut" Kedua pria tersebut mengangguk, dan sepakat menggunakan satu mobil.


Di sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Ketiganya memikirkan bagaimana caranya agar bunda Lily mau mereka temui.


"Yah, gimana nanti kalau bunda nggak mau ketemu sama kita" Tanya Deva, "Ya nggak tau, kita kesana aja dulu" Balas Nanda


Sampai di kediaman Smith, mereka bertiga turun dari mobil. Arah mata mereka langsung tertuju pada wanita paru baya yang tengah menyirami tanaman.


Sadar sedang di perhatikan, wanita itu pun menoleh. Masih ingat sedang memberikan hukuman, dengan segera wanita itu mematikan kran lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Bunda!"


"Bunda, kami minta maaf. Kami tau kesalahan kami ada di mana" Timpal Adnan


"Di mana?" Bunda Lily membalikkan tubuhnya


Adnan diam, Ayah Nanda dan Deva menepuk jidat mereka melihat kebodohan putra dari keluarga Gautama.


"Dari pada kalian membuang waktu disini, lebih baik kalian ke kantor dan pikirkan di mana kesalahan kalian" Tungkas Lily melenggang pergi ke lantai atas.


"Bunda!"

__ADS_1


"Adnan, apa yang kau lakukan? Kau sudah membuat bundamu semakin marah" Kesal Nanda, "Ayah, Adnan juga nggak tau. Tadi Adnan kira bunda akan langsung percaya" Kata Adnan menggaruk tekuknya


"Bunda itu pintar, Abang" Gerutu Deva, "Mending Ayah sama Abang pergi ke kantor, aku mau coba bujuk bunda lagi"


"Ya, semoga berhasil."


Greep


Bunda Lily tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang meluknya. Indra penciuman nya langsung mengetahui siapa yang memeluk dirinya.


Hatinya mulai tergoyah mendengar isakan dari orang yang tengah memeluknya. Kedua tangannya berusaha melepas pelukan tersebut tetapi tidak bisa


"Deva.."


"Bunda tau, tadi malam Deva nggak bisa tidur gegara mikirin Bunda yang marah. Deva minta maaf kalau Deva buat salah, tapi Bunda jangan marah kayak gini. Kalau marah Bunda bisa hilang dengan memukul Deva, lakukan saja" Lirih Deva mulai melepas pelukan nya


Hati Bunda Lily akhirnya meluluh mendengar isakan Deva yang semakin menjadi, ia memang lemah jika sudah menyangkut anak-anaknya.


"Sayang, udah jangan nangis lagi. Bunda cuma mau kalian sadar dengan kesalahan kalian, selama ini kalian selalu bicara nggak sopan sama kakek-nenek. Mereka lebih tua dari kita, Sayang. Jadi kita harus menghormati mereka sebagaimana mestinya" Ujar Lily merengkuh tubuh sang putri, "Kau pasti mengerti apa yang Bunda sampaikan 'bukan?"


Deva mengangguk.


"Lebih baik kamu pulang, kasian Chesa nanti nyariin kamu" Ujar Lily, "Nggak mau, nanti Bunda marah lagi" Tolak Deva menahan Bunda Lily yang hendak mengurai pelukan mereka


"Anak Bunda yang cantik, Bunda nggak akan marah lagi. Sekarang kamu pulang, kasian cucu Bunda kelaperan" Ujar Lily, "Bunda, sebenernya anak Bunda siapa sih? Aku atau Chesa" Rengut Deva


"Hei? Kau cemburu dengan putrimu sendiri? Anak Bunda tetap dirimu, tapi Chesa juga cucu Bunda. Kalian sama, Bunda memperlakukan kalian dengan sama. Sudah, apus dulu itu air matanya. Nanti malu di ledekin sama Chesa" Ujar Lily

__ADS_1


"Deva sayang sama Bunda"


"Bunda juga sayang sama kamu."


__ADS_2