DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 6


__ADS_3

Pandangan Nathan beralih ke Deva yang terus memanggil bunda Lily dengan mata terpejam, mau tidak mau ia harus melakukan apa yang ibu mertuanya katakan.


Ia merangkak di atas kasur lalu menarik Deva ke pelukannya, dengan ragu tangan kanannya menyusup di balik baju Deva


Deva tersentak ketika sebuah tangan kasar memegang perutnya, karna biasanya tangan lembut yang menyentuh perutnya.


"Nathan?"


"Bunda yang nyuruh, udah diem. Gue nggak akan macem-macem" Jelas Nathan sedikit menjauhkan kepalanya melihat tangan Deva yang hendak memukul nya. Deva mengangguk karna merasa pelukan Nathan begitu nyaman, terlebih lagi ia juga tak akan bisa tidur nyenyak dengan keadaan sakit seperti ini kecuali ada yang mengusap perutnya


Cukup lama Nathan mengusap perut Deva, akhirnya terdengar dengkuran halus yang menandakan kalau Deva sudah tertidur pulas. Dengan perlahan ia melepas pelukan dan menarik tangannya, akan berbahaya kalau ia terus-terusan dengan posisi tadi. Ia sudah mati-matian menahan sesuatu di bawah sana.


"Lega" Gumam Nathan.


Pagi hari, Deva baru saja selesai menata sarapan yang ia buat di meja makan. Arah matanya mengalih ke tangga dan terlihat Nathan baru saja bangun tidur


"Udah sembuh?" Deva mengangguk kecil


"Thanks dan maaf" Ucap Deva


"Maaf? Untuk apa"


"Maaf karna gara-gara gue lo tadi malem kesiksa" Kata Deva, Nathan membulatkan matanya. "Lo belum tidur?"

__ADS_1


"Pas lo berenti, gue kebangun dan nggak sengaja denger lo gumam" Jelas Deva, "Bye, gue mau mandi."


***


Sepulang sekolah, Nathan langsung ke perusahaan dan Deva pulang ke rumah orang tuanya. Akan sangat bosan di rumah sendiri dengan rumah sebesar itu


"Bunda!"


"Eh, Deva. Kamu udah sembuh, Sayang" Tanya Lily menghampiri putrinya, "Hem, Deva laper" Keluhnya


"Kebetulan Bunda abis masak opor ayam, kau mau" Tawar Lily diangguki Deva. Lily menggiring putri bungsunya ke meja makan


"Bunda tadi malem khawatir denger kamu demam, tapi karna ada Nathan jadi Bunda agak tenang" Ujar Lily menaruh nasi dan juga opor ayam yang baru saja matang di piring Deva, "Tadi malem hampir aja Deva mukul Nathan waktu megang perut Deva, kan biasanya Bunda yang berani megang" Tambah Deva, "Bang Adnan sama kak Arin nggak kesini?"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


"Putri Ayah ada disini, mana suamimu" Tanya Nanda duduk di sebelah Deva


"Kerja"


"Yah, mandi dulu. Abis itu makan siang" Titah Lily, "Iya, kalau begitu Ayah ke atas dulu. Makan yang kenyang" Sebelum pergi, tangan jail Nanda mengacak gemas rambut putrinya

__ADS_1


"Ayah!"


"Maaf, Deva!" Lily hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah jail suaminya


"Sudah, sini Bunda rapiin. Ayo lanjut lagi makannya" Ucap Lily merapikan helaian rambut putrinya yang sedikit berantakan karena ulah suaminya tadi


"Bunda dulu kok mau sama ayah?" Tanya Deva penasaran, "Nggak tau, udah jodoh mungkin" Jawab Lily sekenanya


"Kalo nggak jodoh, nggak mungkin ada kamu sama abangmu" Sahut Nanda dari arah tangga, "Ohya, Deva. Gimana kalau kamu punya adik"


"Nggak. Bunda, jangan ya" Bujuk Deva, "Jangan dengerin Ayahmu" Balas Lily, "Pokoknya kalau Deva punya adik, Deva nggak mau kesini. Masa bodo sama dia" Ketus Deva beranjak pergi ke kamar


"Ayah, suka banget ngerjain anak. Lihat, ngambek kan" Omel Lily, "Iya, maaf. Lagian mana mungkin kita nambah lagi, kita tinggal nunggu cucu dari mereka berdua. Tapi..kalau Bunda masih kuat, nggak papa sih" Kata Nanda


"Kuat sih iya, tapi Bunda nggak mau."


Malam hari, Nathan langsung meluncur ke kediaman Gautama menjemput Deva.


"Assalamu'alaikum, Ayah/Bunda"


"Waalaikumsalam" Nathan menghampiri mereka berdua lalu mencium punggung tangan mereka secara bergantian


"Deva mana, Bunda" Tanya Nathan, "Ngambek, tadi abis di godain sama Ayah. Susul gih" Jawab Lily menatap suaminya yang tersenyum

__ADS_1


"Nathan ke atas dulu" Pemuda itu melangkah ke kamar Deva yang berada di lantai atas.


__ADS_2