DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 37


__ADS_3

Sebelum acara makan malam di mulai, Nathan baru saja selesai membuat summer roll, arepas, dan croissant khusus untuk istrinya. Melihat kondisi Deva yang sedang hamil, Nathan ingin Deva lebih banyak mengonsumsi makanan yang sehat.


"Sore, Mas tampan" Sapa Rani menghampiri Rani di dapur


"Sore" Balas Nathan singkat sembari menyimpan makanan yang ia buat ke dalam rak makanan. "Apa ini, kenapa Mas tampan sampai masuk ke dapur. Apa Deva yang menyuruh? Dasar tidak tau diri" Cibir Rani


"Saya permisi" Tidak ingin meladeni ucapan Rani, Nathan memilih kembali ke kamar.


Nathan masuk ke kamar dan melihat Deva masih tertidur pulas, ia melangkah mendekati sang istri lalu duduk di tepi ranjang.


"Va, ayo bangun" Ucap Nathan mencolek-colek pipi Deva, "Sayang, sebentar lagi waktunya makan malam. Ayo bangun dan bersihkan dirimu"


Tidak ada pergerakan sama sekali. Nathan merangkak ke atas ranjang, dan menyibak selimut yang di gunakan Deva sampai batas perut.


Mata elangnya menatap perut Deva yang agak membuncit, dengan penuh kasih sayang ia mengusapnya.


"Sehat terus anak papa" Pemuda itu tersentak kaget saat tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengangkat kain yang menutupi perut putih istrinya.

__ADS_1


"Kau tidak ingin menciumnya" Tanya Deva, "Sejak kapan kamu bangun?" Tanya balik Nathan seraya mencium perut buncit di depannya, "Dari awal kamu masuk ke kamar" Jawab Deva


"Jadi tadi kamu cuma pura-pura tidur?" Deva mengangguk lalu mengubah posisinya bersandar di kepala ranjang.


"Mm..Deva"


"Ya"


"Apa anak kita nggak ngerasa kesempitan di dalam disini?" Tanya Nathan, "Mana aku tau, memangnya dulu kamu waktu masih di perut ibu ngerasa kesempitan?" Tambah Deva


"Entah"


"Astaga, tapi aku perhatian dia tertarik denganmu" Ujar Deva meredakan tawanya, "Biarkan saja, untuk apa memikirkan hal yang tidak penting sama sekali. Pikirkan saja anak kita, itu jauh lebih penting" Balas Nathan


"Kau benar sekali."


Waktu makan malam pun tiba, semua anggota keluarga sudah berada di meja makan termasuk Bibi Nora dan Rani.

__ADS_1


Nathan dengan senang hati menyuapi Deva yang sedang dalam mode manja, kadang ia di buat pusing dengan mood Deva yang cepat berubah.


Di tengah-tengah Nathan menyuapi Deva, wanita itu sesekali melirik ke arah Rani yang sering mencuri pandang ke suaminya.


"Kau tertarik dengan suamiku, Rani?" Sindir Deva, "T–tidak, untuk apa" Kilah Rani mengalihkan pandangannya


"Dimana Arin? Kenapa dia tidak ikut makan malam" Tanya Nora, "Dia sedang berkunjung ke rumah orang tuanya" Jawab Adnan malas.


"Lanjutkan makan kalian" Sela Nanda, mereka semua pun melanjutkan makan malam dengan tenang.


Pagi hari, Deva dan Nathan sudah siap untuk pergi ke kampus. Adnan dan Ayah Nanda juga sudah rapi dengan setelan jas kantor mereka. Rani? Entahlah, gadis itu masih berpakaian santai. Pendiriannya masih tetap ingin berkuliah di tempat yang sama dengan sepupunya-Deva.


"Kapan kita mengadakan pengumuman resmi tentang pernikahan kalian?" Tanya Lily memecah keheningan, "Masih belum tahu, Bun. Kita juga udah lebih tenang karena orang-orang kampus udah tau kalau kita pasangan" Jawab Deva diangguki Nathan


"Tapi mereka belum tau kapan kalian menikah dan karena apa? Kondisi kehamilan mu yang semakin terlihat bisa saja membawa isu yang membuat nama baik mu tercoreng" Timpal Nanda


"Ayah benar, Dek. Masalah ini, biar Abang yang urus, untuk selanjutnya nanti Abang kasih tau" Imbuh Adnan.

__ADS_1


πŸ‘€ : "Maaf, kalau nanti ada keterlambatan up. Saya masih seorang pelajar, dan tugas sekolah masih setumpuk.


__ADS_2