
"Bunda" Arinda mendatangi Bunda Lily dengan tas besar di tangannya.
"Arinda? Kau mau pergi kemana" Tanya Lily, Arinda tersenyum. "Tidak ada alasan lagi untuk aku tinggal disini, Bun. Arin akan keluar dari sini dan memulai hidup baru, dan Arin minta Bunda tidak menahan Arin lagi seperti waktu itu" Minta Arinda
"Maaf, Bunda minta maaf atas kesalahan Deva" Ucap Lily menyatukan kedua tangannya, "Bun, ini semua sudah takdir. Mungkin hanya sampai disini aku di percaya menjaga Anindita, aku sudah mengikhlaskannya" Kata Arinda, "Jaga diri Bunda baik-baik, Arin permisi. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam."
Di dalam sebuah pesawat, seorang wanita tengah menatap ke arah luar. Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipi mulusnya.
Maaf, aku harus melakukan ini. Semoga dengan kekecewaan kalian saat ini padaku, bisa membuatku menjalani semuanya dengan tenang. Aku akan tetap kembali, entah itu dalam keadaan hidup atau mati. Ucap Deva dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, pesawat yang di tumpangi Deva akhirnya mendarat dengan selamat di negara yang ia tuju.
"Nona, kita akan langsung pergi ke rumah sakit" Ucap Akbar. Masih ingat dengan Dokter Akbar? Coba kalian back ke DN – 50 dan DN – 63.
"Ya"
__ADS_1
Supir yang akan membawa mereka ke rumah sakit, membantu Dr. Akbar masukkan barang-barang ke bagasi.
"Apakah semuanya aman?" Tanya Deva tanpa berniat melirik Dr. Akbar sedikit pun, "Aman, Nona. Tapi saya mendapatkan kabar dari Ambar kalau nona muda Chesa terus menangis" Jawab Akbar
Astaga, aku sampai melupakan putriku sendiri. Maafin Bunda, sayang. Jika bukan keadaan yang memaksa, Bunda nggak akan pernah ninggalin kamu sama ayah kamu. Batin Deva berusaha menahan air matanya
"Kirim Ambar ke rumah sekarang, dan pastikan semuanya kembali dalam kendali" Ucap Deva memerintah
"Baik, Nona."
"Nona, lebih baik anda beristirahat sebelum kita melakukan pengobatan pertama" Ujar Akbar, "Ya, dan apa Ambar sudah melakukan apa yang ku suruh?" Tanya Deva
"Sudah, Nona. Dia bisa masuk ke rumah tuan Alexander sesuai dengan apa yang anda katakan padanya" Jawab Akbar
"Kau bisa pergi" Dr. Akbar mengangguk, kemudian keluar dari ruangan Deva.
Di kediaman Alexander, Ambar bernafas lega bisa masuk di kediaman Alexander dengan mudah. Ia mengucapkan setiap kalimat yang Deva katakan dengan lancar
__ADS_1
"Hampir saja aku dapat serangan jantung mendadak, latihan ku selama ini ternyata tidak sia-sia" Gumam Ambar senang
"Hei, Tuan Muda. Kau ingin membawa gadis cantik itu kemana?" Tegur Ambar melihat Nathan berpakaian rapi dan juga Baby Chesa sudah terlihat cantik
"Terserah saya mau bawa anak saya kemana, kau tidak ada urusan sama sekali" Ketus Nathan, "Tentu saja saya ada urusan dengan anak cantik ini, saya kesini sesuai perintah nona" Balas Ambar tak kalah ketus
"Hubungin nona mu dan suruh dia pulang, bilang saja kalau putrinya ingin bertemu" Perintah Nathan
"Anda siapa berani memerintah saya, yang bisa memerintah saya hanya nona dan kakak saya" Jawab Ambar lagi, "Dan ya, urusan saya disini hanya untuk menjaga dan merawat anak cantik ini"
Sekaligus menjagamu, Tuan. Kalau bukan perintah dari nona, nggak akan mau aku menjaga pria dingin seperti mu. Lanjut Ambar dalam hati.
Sayang, gadis apa yang kamu kirimkan kemari untuk menjaga putri kita. Pulanglah, kami hanya membutuhkan mu. Ucap Nathan dalam hati.
"Biarkan putriku pergi bersamaku, kau bisa pergi ke kamarmu" Titah Nathan, "Tunggu dulu, anda mau bawa anak cantik ini kemana? Jangan-jangan anda mau menculiknya" Selidik Ambar
"Untuk apa saya menculik anak saya sendiri, pergilah!" Dengus Nathan, lalu melangkah pergi meninggalkan Ambar yang mendumel.
__ADS_1