DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 12


__ADS_3

Nathan dan Deva turun ke lantai bawah dan bergabung bersama keluarga yang lain.


"Lama banget, pasti ada apa-apa nya nih" Ucap Surya menggoda putra semata wayang nya, "Nggak ada" Balas Nathan santai


"Jangan lupa pake pengaman, kalian masih sekolah" Tambah Surya, "Astaga, Nathan sama Deva nggak ngapa-ngapain" Kata Nathan kesal


"Udah, Pah. Anaknya di godain terus" Tegur Zoya, yang di tegur malah tertawa


"Ohya, Deva. Ayah sama Bunda ada kabar baik buat kamu" Deva langsung menatap sang Ayah meminta jawaban


"Keluarga Gautama akan kedatangan anggota baru, Bunda hamil" Ucap Nanda menyenggol pelan lengan sang istri agar ikut bekerja sama dengannya


Deva terdiam sejenak lalu beranjak pergi ke kamar, dan menutup pintunya dengan keras


"Beneran?" Tanya Surya meminta kepastian, "Aku mau ngasih surprise buat Deva, hari ini dia ulang tahun. Kerjain dikit lah" Jawab Nanda terkekeh. Bunda Lily? Ia merutuki kebodohannya karna melupakan ulang tahun anak perempuan nya.


"Deva ulang tahun?" Tanya Nathan pelan


"Kamu nggak tau?"


Nathan menggeleng. "Nggak pernah ngecek KTP-nya"


"Udah nggak papa, sekarang tugas Bunda nge-bujuk Deva. Yang lain siap-siap aja."


Bunda Lily masuk ke kamar Nathan dan Deva setelah di beri ijin oleh gadis yang berada di dalam.


"Sayang" Hatinya tercelos mendengar isakan Deva, ia tau kalau Deva tak ingin memiliki adik karna menganggap kasih sayang orang terdekatnya akan berkurang untuknya.


"Deva dengerin Bun—"

__ADS_1


"Deva nggak mau, Bunda" Lirih Deva menatap Bunda Lily dengan mata sembab, "Hem? Anak Bunda yang cantik masa nangis kayak gini, udah ya" Kata Lily mengelap air mata anak perempuannya


"Bunda..."


"Udah terlanjur, Sayang"


"Nggak papa. Tapi Deva nggak akan mau nerima dia, Deva juga akan benci sama dia" Gadis itu menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut


"Nak" Bunda Lily tak akan bisa berbuat apa-apa jika ini semua terjadi, baru akting saja sudah begini.


"Bunda bisa pergi" Biarkan dia di kata egois, ia benar-benar tidak ingin berbagi orang-orang yang ia sayangi.


"Tidur ya, Bunda keluar dulu" Sebelum keluar, Bunda Lily menyempatkan mencium pucuk kepala putrinya dan meletakkan kotak hadiah dari suaminya di belakang Deva yang membelakangi pintu kamar


"Gimana?" Tanya Nanda melihat istrinya turun dari tangga


Mereka menunggu sampai hampir dua jam tetapi Deva tak kunjung keluar dari kamar


"Apa dia belum lihat hadiahnya" Tanya Surya, "Kita samperin aja lah, udah karatan kita nunggu dia" Kata Nathan


Mereka berempat mengangguk setuju dengan perkataan Nathan, bersama-sama mereka menuju ke kamar Nathan dan Deva.


Nathan membuka kamarnya dan tidak melihat siapapun, hanya ada kotak hadiah di atas kasur. Yang lain juga heran tidak mendapati Deva di dalam kamar


"Nyari siapa?" Tanya Deva tiba-tiba dari belakang mereka, Nathan dan para orang tua tersentak kaget mendengar suara Deva


"Deva?"


"Ayah nyebelin" Deva memukul bahu kokoh Nanda lalu memeluknya, dan di balas dengan senang hati oleh sang Ayah

__ADS_1


"Udahkan marahnya? Matanya ampe sembab gini" Ucap Nanda tanpa rasa bersalah, padahal dirinya lah yang sudah membuat mata Deva sembab


Deva menggeleng. "Satu bulan, Bunda tidur sama Deva dan nggak ada penawaran" Deva bergantian memeluk Bunda Lily


"Selamat ulang tahun, anak Bunda" Ucap Lily mencium kening putrinya, "Akting Bunda tadi bagus" Bunda Lily terkekeh


Bergantian dengan Mama Zoya dan Papa Surya memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Deva


"Nathan?"


"Cie..tambah tua" Ledek Nathan memberikan pelukan singkat kepada Deva, "Baru sembilan belas, belum tua" Balas Deva tak terima


"Mau liat hadiahnya?" Tanya Nanda, "Udah liat, bahkan udah di coba" Jawab Deva


"Dari tadi—"


"Hm, hampir dua jam aku nyoba mobilnya di taman belakang" Potong Deva menunjukkan kunci mobil di tangannya membuat yang lain menepuk jidat mereka.


Setelah acara suprise yang tak terlalu sukses untuk Deva selesai, para orang tua pamit pulang. Sekarang dirumah tinggal pasangan muda yang bersandar di sofa ruang tv


"Hadiah lo nyusul" Ucap Nathan, "Yang lo kasih tadi belum ke pake, Nathan. Nggak usah boros" Kata Deva fokus ke layar televisi


"Yaudah."


Pukul dua dini hari, Deva belum memejamkan matanya sama sekali. Ia masih sibuk dengan gadget dan iPad-nya mencari informasi tentang masalah Nathan keracunan, koneksi yang ia dan sang ayah punya membuatnya lebih mudah mencarinya


"A–astaga, jadi dia?" Deva menatap tak percaya dengan laporan yang ia dapat, gadis itu memijit pangkal hidungnya karna bingung ingin berbuat apa


Deva meletakkan barang-barang nya di atas nakas lalu menyusul Nathan ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2