
Seperti apa yang di katakan oleh nona muda Gautama, Ambar mengundang sang kakak dan juga calon kakak iparnya untuk menghadiri acara makan malam di kediaman Gautama.
"Selamat malam, Tuan/Nyonya. Maaf, kami datang terlambat" Ucap Akbar memasuki rumah keluarga Gautama bersama tunangannya, Anjani.
"Tidak masalah, Dokter Akbar. Silahkan duduk" Balas Nanda mempersilahkan Dr. Akbar dan Anjani bergabung di meja makan
"Terimakasih" Dr. Akbar menggeser salah satu kursi untuk tunangannya kemudian untuk dirinya sendiri.
"Kami sudah mendengar semuanya dari putri kami, Deva. Kami sangat berterima kasih kepada Anda karena sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik" Ujar Nanda menyatukan kedua tangannya, "Tuan, itu sudah tugas saya sebagai dokter. Saya juga sangat senang bisa memberikan yang terbaik untuk Nona Gautama" Balas Akbar tersenyum
"Sebagai ucapan terimakasih, kami akan menanggung semua biaya pernikahan kalian nanti. Buat pesta sesuka hati kalian, dan kami yang akan menanggungnya" Ujar Nanda, "Tuan, ini sangat berlebihan. Kalian tidak perlu melakukan apapun untuk pernikahan kami, kami akan sangat bahagia jika kalian berkenan untuk menghadirinya" Balas Akbar lagi
"Semua itu tidak sebanding dengan nyawa putri keluarga Gautama, biaya pernikahan kalian akan kami tanggung" Sahut Oma Yosy, "Kalau perlu, kita juga yang akan menyiapkan tempat tinggal untuk kalian berdua"
"Apa yang di katakan Oma benar, Dokter Akbar. Semua yang kami berikan tidak sebanding dengan nyawa adik saya" Imbuh Adnan membenarkan ucapan Oma Yosy
"Baiklah, kami akan menerima pemberian kalian. Terimakasih" Kata Akbar.
Selesai acara makan malam, para pria berkumpul di ruang tamu sedangkan para wanita berkumpul di ruang tengah kecuali oma Yosy yang memilih kembali ke kamar.
__ADS_1
"Abang!!" Suara pekikan Deva terdengar begitu keras saat Adnan melakukan aksi jail nya.
"Deva, Adnan, disini masih ada tamu" Tegur Lily, "Bun, masa coklat Deva di ambil semua sama Abang" Adu Deva kepada sang Ibu
"Nanti giginya sakit, Bun" Timpal Adnan dengan santai memakan coklat milik sang adik, "Deva baru makan satu, banyak dari mana" Balas Deva tak mau kalah
"Satu kotak maksud kamu? Adnan, simpan saja coklat itu dari pada adikmu kembali berteriak" Titah Lily. Terkadang ia bingung dengan sikap kedua anaknya yang terkadang seperti anak kecil, bahkan keduanya sudah sama-sama dewasa.
"Bunda, sudah satu tahun Adnan nggak ribut sama Deva. Kali ini saja, coklatnya Adnan simpan di perut. Bye adikku sayang" Adnan berlari sambil membawa semua coklat kepunyaan Deva
"Ab—"
"Deva"
"Deva"
"Baiklah."
Di lain tempat, seorang pria baru saja keluar dari bandara. Pria itu melangkah cepat menuju ke mobil yang sudah di siapkan oleh asistennya.
__ADS_1
"Kita ke apartemen" Ucapnya
"Baik, Tuan" Balas sang supir mulai menjalankan mobilnya ke tujuan
Aku tidak akan menundanya lagi, apapun resikonya nanti. Aku bukan lelaki pengecut yang lari dari tanggung jawab. Ucap pria tersebut dalam hati
Sesampainya di apartemen, pria itupun langsung membersihkan diri dan bersiap pergi ke rumah utama.
Di lain tempat lagi, seorang wanita tengah berusaha menidurkan putrinya yang terus berceloteh memanggil nama 'ayah'
Apa aku terlalu egois menyembunyikan Anin dari ayahnya, tapi apa pria itu mau menerima Anin. Aku takut kalau nanti hanya hinaan yang akan di dapat oleh Anin dari pria itu. Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Ucap Arinda dalam hati
"Lakukan apa yang menurutmu benar, Kak" Tutur seseorang dari arah belakang, Arinda menengok dan melihat Deva berdiri tak jauh dari ranjangnya
"Mungkin ini sudah saatnya semua orang tau, Kakak tidak akan bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi karena pria itu sudah kembali" Ujar Deva, "Bagaimana kalau pria itu tidak mau menerima Anin, Deva" Tanya Arinda resah
"Kak, kalau pria itu tidak mau menerima Anin. Aku yang akan bertindak, Anin tetap akan mendapatkan haknya" Jawab Deva, "Kakak percayakan saja padaku, semua akan baik-baik saja"
"Terimakasih."
__ADS_1