
Deva berjalan sedikit berlari menuju ke arah ayah Nanda yang berdiri di depan ruang UGD, di temani Adnan yang mencoba menenangkan sang ayah.
"Ayah" Panggil Deva memeluk Ayah Nanda, "Bagaimana keadaan bunda, Yah"
"Ayah sama Abang masih belum tau, dokter dari tadi belum keluar" Jawab Nanda, "Duduklah, jangan terlalu lama berdiri" Ayah Nanda menuntun Deva duduk di kursi panjang yang di sediakan pihak rumah sakit
Hampir satu jam mereka menunggu, akhirnya dokter yang menangani bunda Lily keluar.
"Dokter" Panggil Nanda, "Bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan, Dok"
"Syukurlah, nyonya sudah berhasil melewati masa kritisnya. Mungkin untuk beberapa waktu nyonya harus menggunakan kursi roda dan melakukan beberapa terapi agar bisa berjalan seperti semula" Jelas sang Dokter
"Terimakasih, Dokter"
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi, saya juga harus memeriksa pasien yang lain" Keempat orang itu hanya menanggapi dengan anggukan.
Kini Deva setia menemani Bunda Lily yang terbaring di ranjang rumah sakit, terdapat luka goresan di bagian lengan Bunda Lily akibat pecahan piring dan gelas saat jatuh.
Di dalam sana hanya ada Deva dan Nathan, ayah Nanda pulang ke rumah untuk mengambil keperluan Bunda Lily, sedangkan Adnan kembali ke kantor.
__ADS_1
Nathan berjalan mendekat dengan membawa makanan dan sebotol air untuk Deva.
"Makanlah, kau butuh tenaga untuk menjaga Bunda" Ucap Nathan menyodorkan makanan ke arah Deva
"Nath—"
"Anak kita, dia butuh asupan" Kata Nathan memotong ucapan Deva yang hendak menolak untuk makan, Deva pasrah dan menerima suapan demi suapan dari Nathan.
"Kenapa cuma aku yang makan?" Tanya Deva, "Kau lebih penting, di meja masih ada satu. Aku bisa memakannya setelah kau makan" Jawab Nathan
Deva beranjak mengambil makanan bagian Nathan yang ada di atas meja.
"Buka" Nathan pasrah lalu menurut dengan apa yang di katakan istrinya.
Usai makan malam, Nathan membereskan sisa makanan mereka dan membuangnya ke tempat sampah.
Deva merebahkan kepalanya di tepi ranjang rumah sakit, tangan kanannya kembali menaut dengan telapak tangan Bunda Lily.
Bunda, ayo bangun. Deva kangen sama Bunda, siapa yang manjain Deva kalau Bunda tidur kayak gini. Terus siapa yang ngomelin ayah kalau ayah jail sama Deva. Ucap Deva dalam hati.
__ADS_1
Keesokan harinya, dengan berat hati Deva harus meninggalkan Bunda Lily karena hari ini ada mata kuliah yang tidak bisa di tinggal sama sekali
"Sudah siap?" Tanya Nathan, "Hem. Kau tunggu di parkiran, aku akan segera menyusul" Kata Deva diangguki Nathan
"Bunda, Deva berangkat kuliah dulu. Janji nggak lama, setelah selesai Deva langsung ke sini" Sebelum benar-benar meninggalkan Bunda Lily, Deva menyempatkan mencium kedua pipi sang Ibu.
Deva melangkah keluar dan melihat sang Ayah baru saja datang dengan menenteng tas kerjanya.
"Syukurlah Ayah sudah datang, hari ini aku pergi. Ada mata kuliah yang sangat penting dan nggak bisa di tinggal" Ujar Deva, "Iya, Ayah akan menemani bundamu" Balas Nanda
"Bang Adnan nggak kesini?"
"Nanti siang dia kesini, buruan gih berangkat atau kau akan terlambat" Peringat Nanda, "Ya, assalamu'alaikum" Pamit Deva mencium punggung tangan Ayah Nanda
"Waalaikumsalam" Setelah Deva pergi, Ayah Nanda masuk ke dalam ruang rawat istrinya.
Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit.
Tangannya terangkat menggenggam tangan istrinya. "Betah banget tidurnya, Bun. Bunda nggak kasian sama Ayah, Adnan, sama Deva? Tadi malem sepi nggak ada yang ngomelin Ayah minum kopi, biasanya Bunda langsung ngomel kalau Ayah ketauan minum kopi malem-malem" Ayah Nanda terkekeh
__ADS_1
"Cepet bangun, Sayang."