DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 52


__ADS_3

"Rumah ini adalah milik Nanda, Lily, Adnan, dan Deva. Rumah ini di bangun oleh kerja keras mereka berempat dari nol tanpa bantuan uang dari siapapun. Tidak cukup satu tahun untuk mendapatkan apa yang keluarga Gautama dapatkan sekarang. Hinaan dan rasa sakit yang mereka dapat terbayar dengan menjadi orang paling di hormati di banyak negara. Kalian hanya bisa melihat bagaimana mereka sukses, tapi tidak pernah melihat bagaimana mereka bekerja keras"


Oma Yosy menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan nya perlahan. "Saya bahkan malu menganggap kalian sebagai besan dari keluarga Smith setelah apa yang kalian lakukan kepada menantuku, Adnanda"


"Nanda!! Kau diam saja melihat keluarga mu di hina seperti ini?" Bentak Ny. Abraham


"Bukankah kalian sendiri yang memutuskan hubungan denganku dulu? Kenapa sekarang kalian memintaku membela kalian sebagai keluarga?" Balas Nanda, "Setelah kalian mengusir ku dulu, Ibu mertuaku menerimaku dengan senang hati walaupun aku tidak memiliki apa-apa. Bahkan dia dengan rela menyerahkan tanggung jawab menjaga putrinya saat aku tidak punya apa-apa"


"Kalian yang notabene nya orang tuaku, apa yang kalian lakukan? Mengusir ku karena aku ingin menikahi wanita yang suka berpakaian sederhana? Lihat, dia berdiri di sampingku. Dia istri dan ibu dari anak-anak ku, wanita yang kalian hina dulu berdiri di hadapan kalian dengan kepala tegak!"


Ayah Nanda meninggikan suaranya untuk melepas beban pikiran nya selama ini. "Asal kalian tau, sebelum Adnan dan Deva menikah, aku selalu mengirimkan uang secara rata kepada istri dan kedua anakku, tidak ada yang berbeda"


"Tapi karena hasil didik-kan dari Lily, uang itu tidak pernah habis dalam sekejap seperti apa yang di lakukan Nora dan Rani. Lily mengajarkan mereka bagaimana caranya berhemat dan menabung agar nanti jika mereka menginginkan sesuatu, mereka bisa menggunakan uangnya sendiri. Lihat hasilnya, kami memiliki semuanya"


Ayah Nanda tersenyum sinis. "Ibu mertuaku benar, kalian bisa mengemasi barang-barang kalian dan pergi. Aku, Lily, Adnan, maupun Deva tidak akan pernah mengirimkan uang sepeserpun kepada Nora dan Rani lagi"


Ayah Nanda melangkah pergi meninggalkan mereka semua di lantai dasar.


"Susul suamimu, Ly" Suruh Oma Yosy


"Iya, Ibu" Bunda Lily segera menyusul ayah Nanda ke lantai atas.

__ADS_1


"Dan untukmu juga gadis licik, aku sudah tau akal busukmu yang ingin merebut cucu menantu laki-laki ku dari cucu perempuan ku. Aku peringatkan jika sekali saja kau mengusik ketentraman rumah tangga cucuku, hidupmu tidak akan pernah tenang" Ancam Oma Yosy menunjuk Rani, kemudian ikut pergi


"Aku harap kau tidak menganggap ancaman oma sebagai lelucon, oma akan lebih berbahaya dari binatang yang terluka jika sudah menyangkut keluarganya" Tambah Deva memeluk lengan Nathan, dan berjalan ke kamar mereka diikuti Adnan di belakang mereka.


Sesampainya di dalam kamar, Deva menuntun Nathan duduk di tepi ranjang lalu ia duduk di pangkuan suaminya.


"Apa benar apa yang di katakan ayah tadi, kau mantan pembalap?" Tanya Nathan, "Hem, cuma bunda yang nggak tau tentang hal ini" Jawab Deva


"Sekarang bunda udah tau karna tadi ayah keceplosan, gimana?"


"Ya, siap-siap aja di hukum" Jawab Deva enteng, "Kau tidak ingin menghukum ku?"


Cup


"Tapi aku nggak ngantuk, Nathan" Kata Deva, "Tapi kau harus istirahat, aku akan menemanimu" Balas Nathan


Deva turun dari pangkuan Nathan lalu merebahkan diri di kasur, disusul dengan Nathan di sampingnya.


"Nathan"


"Hem?"

__ADS_1


"Kalau aku pergi, apa kau akan menikah lagi?" Tanya Deva menatap wajah bingung Nathan, pemuda itu menghembuskan nafasnya sebelum menjawab. "Tidak"


"Kenapa?"


"Aku hanya akan menikah satu kali, dan jangan berbicara buruk seperti itu lagi" Jawab Nathan mendekap erat tubuh istrinya, "Tidurlah."


***


Hal yang di takutkan Ayah Nanda, Adnan, dan Deva terjadi. Mereka bertiga sekarang berada di kamar Ayah Nanda dan Bunda Lily untuk di interogasi oleh Bunda Lily


"Jelasin sama Bunda sekarang, apa maksud Ayah tadi yang bilang Deva mantan pembalap? Ayah tau tapi tidak melarang? Dan sejak kapan, kenapa Bunda nggak tau tentang hal ini dan kalian bertiga yang tau?" Cerca Lily menatap tajam ketiga orang yang duduk di depannya


"B–Bunda, Deva memang pernah ikut balapan. Tapi itu dulu, sekarang udah nggak. Dan, Deva yang meminta agar Ayah sama Abang nggak ngasih tau Bunda tentang ini" Jawab Deva menjelaskan


"Mereka setuju?"


"Ya i–iya"


Bunda Lily menghela nafasnya. "Hukuman apa yang cocok untuk kalian karena menyembunyikan hal ini, karena menyangkut nyawa Deva juga"


"Nggak ada" Jawab mereka bertiga

__ADS_1


"Nggak ada? Hem, sepertinya Bunda tau" Seringai kecil terbit di wajah wanita paru baya itu.


__ADS_2