
"Rumahnya masih sama, tapi kenapa sepi sekali" Gumam Deva menelisik sekitar rumah milik keluarga Derandra (Keluarga Frans). "Pak, tolong bukakan gerbangnya"
"Nona? Tumben anda datang kesini" Tanya sang satpam membuka gerbang, "Ya, aku kesini ingin bertemu dengan Frans. Apa dia ada di rumah, soalnya sudah beberapa hari ini dia tidak ada kabar sama sekali" Jelas Deva
Satpam itu tampak bingung dengan perkataan Deva.
"Nona, anda baik-baik saja" Tanya sang satpam, "Ya. Kalau begitu saya masuk dulu" Pamit Deva melangkah ke pintu utama.
Deva menekan bel rumah beberapa kali sampai salah seorang pelayan membuka pintu.
"Nona? Silahkan masuk, saya akan memberitahu tuan dan nyonya kalau anda datang kemari" Ucapnya mempersilahkan Deva masuk
"Makasih, Bi" Deva melangkah masuk ke rumah itu.
Pelayan tadi mempersilahkan Deva duduk di ruang tamu, sedangkan dirinya langsung pergi ke lantai atas untuk memberi tahu kedatangan Deva kepada majikannya.
Tidak lama, terdengar suara langkah kaki beradu dari arah tangga. Deva tersenyum ketika melihat kedua orang Frans menghampiri dirinya
"Mami/Papi, apa kabar" Ucap Deva berdiri, "Kami baik, Sayang. Sudah lama sekali kamu nggak datang kesini, ada apa?" Tanya Ny. Derandra (Mami Frans)
"Aku kesini ingin mencari Frans, Mih. Sudah beberapa hari ini dia tidak ada kabar sama sekali, apa dia sedang sakit?" Tanya Deva
Tn. dan Ny. Derandra tampak saling pandang mendengar pertanyaan dari mantan kekasih putra semata wayang mereka yang sudah tiada.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya balik Ny. Derandra, "Ya, aku baik. Kenapa Mami bertanya seperti itu?" Kata Deva
"Karena Frans—"
"Selamat sore, Tuan dan Nyonya Derandra" Sela seseorang dari ambang pintu, ketiga orang yang tengah berada di ruang tamu menengok ke arah pintu utama
__ADS_1
"Ayah/Bunda? Kalian disini" Tanya Deva bingung, "Ya. Ayah kesini karena ada urusan pekerjaan dengan Tuan Derandra, lalu apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Nanda menggandeng tangan istrinya
"Hanya berkunjung"
"Tuan Derandra, bisa kita berbicara sekarang?" Ayah Nanda memberikan isyarat kepada Tn. Derandra untuk pergi menjauh.
"Ada apa, Tuan Gautama. Kenapa anda dan istri anda datang secara tiba-tiba?" Tanya Tn. Derandra, "Kami langsung kesini setelah tau Deva datang kemari" Jawab Nanda
"Dan ya, ada apa dengan Deva? Kenapa dia datang dan bertanya tentang Frans, bukankah dia sudah tau kalau Frans sudah tiada?" Tanya Tn. Derandra, "Setelah kecelakaan beberapa hari lalu, Deva mengalami amnesia sebagian. Dia hanya mengingat masa lalunya termasuk Frans, bahkan dia juga mengira kalau dirinya masih dua SMA" Jelas Nanda, "Kami sekeluarga sepakat untuk menyembunyikan masalah ini dulu kepadanya, kita akan mencari cara untuk membuatnya ingat kembali"
Tn. Derandra mengangguk mengerti. "Bagaimana kalau Deva terus bertanya tentang Frans, bukankah itu akan menyakiti nya? Kita sudah melihat bagaimana perubahan Deva setelah Frans tiada"
"Itu yang masih kami pikirkan, tapi secepatnya kami akan memberitahu kan semua ini kepada. Mohon kerja sama-nya" Imbuh Nanda
"Tentu, Tuan. Saya akan sangat senang jika bisa membantu anda" Kedua ayah itupun kembali ke ruang tamu.
"Tap—"
"Putrimu sudah menunggu di rumah, ayo kita pulang" Ajak Nanda lagi, Deva mendesah pelan karena belum mendapatkan jawaban atas tujuannya datang ke kediaman Derandra.
"Baiklah"
"Tuan/Nyonya, kalau begitu kami pamit."
***
"Kalian semua pasti menyembunyikan sesuatu dari ku. Bunda, ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi? Tadi pagi aku melihat foto pernikahan ku dengan Nathan, tapi kenapa aku tidak mengingat nya sama sekali. Dan lagi, aku juga melihat buku USG di dalam laci. Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat semuanya!" Cerca Deva frustasi
"Sayang, dengerin Bunda—"
__ADS_1
"Nggak, Bunda. Deva tau pasti kalian yang sudah menahan orang suruhan ku untuk memberikan informasi tentang Frans kepadaku, kenapa kalian jahat sekali padaku! Aku hanya ingin tau di mana Frans, aku ada hak untuk mengetahui di mana keberadaannya!!"
"Nak.."
"Ayah, semuanya membuat ku bingung! Awal aku membuka mata, aku ada di rumah sakit tapi seingatku aku tidur di pangkuan Bunda. Setelah itu bayi, suami, pernikahan, tapi aku tidak bisa mengingat semua hal itu! Dan sekarang, Frans!!"
"Kau ingin tau yang sebenarnya, Cucuku?" Sahut seseorang dari arah pintu
"Oma?" Oma Yosy berjalan menggunakan tongkatnya mendekati Ayah Nanda, Bunda Lily, Ibu Maira, Nathan, dan Deva yang berada di ruang tengah.
"Mungkin kamu lupa tapi tidak dengan suamimu, Nathan" Ucap Oma Yosy membuat semua orang bingung
"Bawa mereka masuk!" Dua bodyguard yang selalu bersama Oma Yosy masuk bersama dua gadis di tangan mereka
"Melda, Rissa?" Nathan tampak terkejut melihat kedua gadis tersebut
"Ya, menantu. Merekalah dalang dari semua yang terjadi kepada istrimu, Deva. Mereka melakukan sesuatu hal besar tetapi belum mengetahui siapa yang mereka celakai" Ujar Oma Yosy tenang, "Dan ini jadinya"
"Oma, mereka siapa?" Tanya Deva, "Lupa ingatan mu masih belum sebanding, Deva. Kenapa kau tidak **** saja sekalian bersama bayimu itu!!" Sentak Rissa
Plakk
Satu tamparan dari Bunda Lily mendarat di pipi kiri Rissa.
"Jaga ucapanmu! Jangan pernah sekali-kali kau berbicara buruk tentang putri dan cucuku" Geram Lily, "Lily, jangan buang tenaga mu untuk manusia tak punya hati seperti mereka" Tegur Nanda
"Bawa mereka ke tempat yang seharusnya, jaga mereka secara ketat!" Perintah Oma Yosy tegas
"Baik, Nyonya Besar" Dua bodyguard tadi pun pergi dengan membawa Melda dan Rissa.
__ADS_1