DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 23


__ADS_3

Undangan makan malam di rumah Nathan dan Deva dengan senang hati di penuhi oleh anggota keluarga, acara makan malam berjalan dengan lancar walaupun ada sedikit ketegangan.


"Tujuan kami mengajak makan malam kalian adalah ini" Ucap Deva meletakkan sebuah kotak berwarna biru di atas meja makan, "Isinya bukan bom kan, Dek" Tanya Adnan


"Lebih dari itu, buka saja" Balas Deva.


Karna rasa penasaran yang semakin tinggi, mereka pun membuka kotak tersebut. Tetapi tidak semudah itu, di dalam kotak itu masih ada kotak yang ukurannya lebih kecil dari kotak pertama


Deva dan Nathan terkekeh. "Ayo lanjutkan"


Lagi-lagi saat mereka membuka kotak kedua, ada kotak lagi di dalamnya.


"Apa ini? Kalian mengerjai kami?" Kata Nanda kesal, "Ayah, buka lagi saja" Balas Deva santai.


Mereka kembali membuka kotak ketiga dan menemukan kotak keempat.


"Deva.."


"Ayolah, Bunda. Jangan menyerah, semua kesabaran akan berbuah manis" Kata Deva diangguki Nathan

__ADS_1


Kotak keempat di buka, terlihat dua benda yang menurut para wanita tidak asing lagi. Dan juga sebuah gambar berwarna putih abu-abu


"Deva, ini beneran?" Tanya Zoya, Deva mengangguk. "Tentu. Sudah ku katakan, kesabaran kalian akan berbuah manis" Imbuh Deva


Deva menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Bunda Lily yang terdiam.


"Bunda" Bukannya membalas, air mata Bunda Lily luluh


"B–Bunda, kenapa Bunda menangis?" Tanya Deva cemas, "Bunda bahagia, Sayang. Selamat untuk kalian" Ucap Lily memeluk tubuh putrinya


"Aku pikir Bunda tidak senang" Gurau Deva, "Dasar, tentu saja Bunda senang. Begitupun juga dengan yang lain, keluarga kita akan kedatangan anggota baru" Urai Lily tersenyum


"Om" Ledek Deva menatap Adnan, cowok itu hanya bisa berdecak kesal.


"Adnan?"


"Hem. Apa Bunda lupa kalau Deva nggak suka makanan ato minuman asam. Tapi waktu di restoran dia pesan jus lemon, terus waktu itu juga dia makan banyak, abis dari kamar mandi wajahnya pucet. Jadi aku nebak, dan ternyata bener" Papar Adnan


"Kau benar sekali, jadi sekarang Abang mu yang lebih peka dari pada ibumu" Ucap Lily terkekeh, "Bukan Abang, Bunda. Tapi Om" Sambung Deva.

__ADS_1


Karena hari semakin larut, anggota keluarga pun pamit pulang kecuali Ibu Maira. Nathan dan Deva masuk ke dalam kamar mereka, dan Ibu Maira masuk ke kamarnya.


"Kau ingin sesuatu?" Tanya Nathan saat Deva keluar dari kamar mandi, "Perutku sudah kenyang, aku ingin tidur" Jawab Deva merebahkan tubuhnya di atas ranjang diikuti Nathan di sebelahnya


"Besok ke kampus?"


"Hem, nyari ilmu sambil jagain suami dari para betina" Jawab Deva, Nathan terkekeh lalu menarik tubuh Deva ke dalam pelukannya. "Ayo tidur"


"Kau bahagia?" Tanya Deva menengadahkan kepalanya melihat Nathan, "Sangat, bahkan aku belum pernah merasa sebahagia ini" Jawab Nathan, "Dan besok aku berencana akan mempublikasikan pernikahan kita di kampus"


"Bagaimana dengan mantanmu itu? Pasti dia nanti sangat kepanasan" Sahut Deva tertawa kecil, "Untuk apa kau memikirkan dirinya, biarkan saja. Kita pikirkan saja apa yang berguna buat kita" Lanjut Nathan


"Ya, terserah kau saja"


"Dan satu lagi" Ucap Nathan menggantung, Deva menaikkan sebelah alisnya pertanda tak mengerti


"Kau belum meminum vitamin mu, Deva" Nathan mengulurkan tangannya mengambil botol vitamin dan juga segelas air dari atas nakas


"Terimakasih" Deva mengambil satu biji vitamin dari dalam botol tersebut lalu meminumnya.

__ADS_1


Setelah meminumnya, Deva kembali merebahkan tubuhnya dan mulai mengatupkan kedua matanya. Pemuda yang berada di samping Deva tersenyum, ia beringsut ke bawah mensejajarkan kepalanya dengan perut sang istri


"Ini semua rasanya seperti mimpi, karna sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Sehat-sehat di perut mama-mu, Nak. Kamu akan menjadi pelengkap untuk kami, dan akan mewarnai keluarga ini dengan tawamu nanti" Pria itu terus mengajak bicara janin yang masih sebesar biji kacang hijau tersebut sampai tak sadar ia sudah terlelap.


__ADS_2