DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 38


__ADS_3

"Ayah benar, Dek. Masalah ini, biar Abang yang urus, untuk selanjutnya nanti Abang kasih tau" Imbuh Adnan.


"Rani, kamu nggak berangkat kuliah?" Tanya Lily yang belum tau tentang keinginan keponakannya yang ingin pindah kampus, "Apa Paman nggak bilang sama Bibi kalau aku ingin pindah ke kampus yang sama dengan Deva" Balas Rani dengan angkuh


Bunda Lily menengok ke arah suaminya yang memberi isyarat akan menjelaskan nya nanti.


"Untuk apa kau pindah?" Tanya Deva, "Kenapa, nggak boleh? Lagian kampus itu tempat umum" Balas Rani sinis


"Ya. Dan setelah aku lihat, dalam keluarga hanya kalian berdua yang tidak punya malu sama sekali" Ketus Deva


"Kurang ajar! Apa maksudmu berbicara seperti itu?!" Sentak Nora, "Ayah, ijinkan aku memberi tahu mereka di mana posisi mereka sebenarnya. Selama ini aku sudah cukup sabar dengan kelakuan mereka yang tidak seperti manusia pada umumnya" Ujar Deva berdiri dari duduknya

__ADS_1


"Harta, pangkat, dan kehormatan yang keluarga ini dapat itu hasil kerja keras Ayahku dan dukungan dari Bundaku. Bahkan Ayah dan Bundaku rela tidak makan seharian hanya untuk membuat kedua anaknya kenyang, lalu di mana kalian saat Ayahku masih berada di titik bawah? Dimana kalian?!" Gertak Deva dengan mata memerah, "Tapi setelah Ayahku mendapatkan semuanya, kalian datang dan meminta uang tanpa rasa malu? Menjijikkan"


Ayah Nanda dan bunda Lily sama-sama berasal dari keluarga terpandang, tetapi bunda Lily yang lebih suka berpakaian sederhana membuat ayah Nanda tidak mendapatkan restu untuk menikahi bunda Lily. Walaupun begitu, ayah Nanda tetap kekeh ingin menikah dengan bunda Lily sampai akhirnya ayah Nanda di usir dari rumah dan memulai bisnisnya sendiri di dampingi oleh bunda Lily.


Dan untuk peraturan anak perempuan yang akan menjadi pewaris, itu adalah usulan dari ayah Nanda. Karena ayah Nanda ingin membuktikan bahwa wanita tidaklah lemah dan pantas menjunjung tinggi kepalanya.


"Jika Rani masih ingin melanjutkan kuliahnya, tidak masalah. Tetapi Ayahku hanya akan mengirimkan uang untuk biaya kuliah Rani, selain itu kalian masih bisa mendapatkan uang dari kerja keras kalian sendiri. Dan jika uang yang dikirimkan Ayahku untuk biaya kuliah Rani kalian pergunakan untuk berfoya-foya, jangan salahkan kami kalau Rani di keluarkan dari sana karena tidak membayar SPP"


"Kalau Bibi sama Rani ingin protes dengan keputusan ku? Silahkan cari uang sendiri untuk biaya kuliah dan hidup kalian sendiri" Deva mengambil tasnya lalu beranjak pergi diikuti Nathan di belakang.


Adnan menenteng tas kerjanya, kemudian melangkah pergi dari sana.

__ADS_1


"Kami tidak pernah tunduk dengan siapapun, tetapi semua kekayaan keluarga Gautama 90% milik Deva, 5% milik Adnan dan sisanya adalah rumah ini yang masih menjadi milik kami berdua. Kalian pasti tau ke mana arah pembicaraan ku" Papar Nanda pamit ke lantai atas bersama Bunda Lily


"Ibu, bagaimana ini. Aku nggak mau kerja di luar, apa kata temen-temenku nanti kalau lihat aku kerja di luar. Secara aku udah pernah bilang kalau aku dari keluarga kalangan atas" Ucap Rani cemas, "Ibu masih memikirkan cara agar paman mu tetap mengirimkan uang seperti biasanya" Kata Nora.


Di tempat lain, Rissa juga tengah menyusun rencananya kembali. Melda datang dan melihat temannya tengah duduk diam sambil memainkan bolpen nya


"Ekhem"


"Deva ternyata lagi hamil" Celetuk Rissa membuat bola mata Melda membulat sempurna


"Apa!"

__ADS_1


"Ck, aku lagi nyusun rencana lain buat nyingkirin tu cewek" Kesal Rissa, "Hubungan mereka semakin jauh" Tambah Melda tak kalah kesal


"Hem, gue punya ide. Tapi kita lakuin itu saat nanti waktunya udah tepat."


__ADS_2