DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 72


__ADS_3

Ditengah malam, Nathan terbangun dan tidak mendapati sang istri di sampingnya.


"Di mana dia?" Nathan beringsut turun dari ranjang menuju ke kamar mandi, ayah satu anak itu membuka pintu kamar mandi dan tidak ada seorang pun di dalam sana.


Di dalam kamar tidak ada, Nathan melangkah keluar dari kamar.


"Di mana dia malam-malam begini" Gumam Nathan mulai menapaki anak tangga menuju lantai dasar. Di antara banyak tempat di lantai dasar, hanya ada satu tempat yang masih terang, yaitu ruang makan.


Nathan tersenyum sekaligus lega melihat Deva berada di ruang makan.


"Sayang"


"Astaga, Nathan!" Hampir saja Deva tersedak air mendengar suara Nathan secara tiba-tiba dari arah belakang.


"Kau sedang apa disini malam-malam?" Tanya Nathan, "Aku lapar, makannya aku kesini" Jawab Deva


"Padahal waktu makan di luar tadi kamu sudah makan banyak, tapi sekarang sudah lapar" Kata Nathan menyomot semotong pizza yang ada di hadapan istrinya, "Kamu makan malem begini nggak takut gendut?"

__ADS_1


"Nggak, emang kenapa kalau aku nanti gendut? Kamu mau cari yang lain" Selidik Deva membuat Nathan mencubit gemas kedua pipi sang istri


"Itu tidak akan terjadi, permainan Bundanya Chesa


lebih mematikan jika di lakukan" Goda Nathan menarik kursi yang di tempati Deva agar lebih dekat dengan nya


"Ohya?" Deva beralih duduk di pangkuan suaminya.


"Hem, bahkan Ayah nya Chesa sampai nggak bisa berkutik. Kau leb–darah? Va, hidungmu" Deva reflek memegang hidungnya dan benar saja, ada darah yang keluar


"Ini cuma mimisan biasa, tenanglah" Deva meraih tissu yang berada di atas meja makan, kemudian mengelap bersih darah tersebut


"Tapi kamu jarang hampir nggak pernah seperti ini, Sayang. Kalau ada apa-apa gimana?" Ujar Nathan cemas, "Ayah Chesa, aku tau kamu khawatir. Tapi ini cuma hal biasa, ayo kembali ke kamar" Lanjut Deva mengusap tulang pipi suaminya


"Nathan..."


"Kau yakin tidak apa-apa?" Tanya Nathan memastikan, dan Deva mengangguk.

__ADS_1


Keesokan harinya, seluruh anggota keluarga Alexander bergegas pergi ke rumah sakit setelah mendengar kabar Anindita kejang-kejang dan langsung di larilah ke rumah sakit.


Sebelum pergi, Deva menitipkan baby Chesa yang masih tidur ke salah satu pelayan di sana. Karena tidak baik jika baby Chesa di bawa.


Sampai di rumah sakit, terlihat bunda Lily tengah memeluk Arinda yang sedang menangis.


"Bun—" Ucapan Deva tertentu ketika melihat Bunda Lily menggelengkan kepalanya pelan. Tak berselang lama, seorang suster berjalan mendekat ke arah mendekati mereka.


"Tuan/Nyonya, semuanya sudah siap. Kita tinggal memakamkan bayi itu" Ucap sang suster


Papa Surya, Mama Zoya, Nathan, dan Deva membeku mendengar penuturan dari suster. Sedangkan Arinda kembali tak sadarkan diri.


"Silahkan, Suster" Balas Nanda


Sampai prosesi pemakaman selesai, Arinda belum juga kunjung sadarkan diri. Bunda Lily, Mama Zoya, dan Deva setia berada di samping Arinda yang terbaring di atas ranjang.


"Bunda"

__ADS_1


"Bunda nggak tau, Sayang. Tadi pagi Kakakmu tiba-tiba berteriak, dan seperti ini" Jawab Lily menatap sendu mantan menantunya, "Dan tim penyidik sebentar lagi akan datang kesini untuk memeriksa rumah ini"


__ADS_2