DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 15


__ADS_3

Hubungan yang dulu jauh, kini mulai mendekat. Kehangatan di antara Nathan dan Deva bisa di rasakan keduanya, kedua batu es kini telah mencair jika berada di lingkungan keluarga.


Nyaman? Mereka juga merasakannya, tetapi mereka tidak mengartikan rasa nyaman itu sebagai cinta. Kedua insan tersebut membiarkan hubungan mereka seperti air yang mengalir.


Hujan deras mengguyur seluruh kota, di tambah angin kencang di malam hari. Pasangan muda yang baru menikah tujuh bulan yang lalu, merasa sangat nyaman di bawah selimut tebal. Hari kelulusan sudah mereka lewati tanpa hambatan, rasa lega di hati mereka bisa menyelesaikan masa putih abu-abu.


"Rahasia pernikahan kita sejauh aman, gimana kalau nanti cewek-cewek kampus yang suka sama lo tau kalo gue istri lo?" Tanya Deva menatap langit-langit kamar, "Nggak papa, itu lebih baik. Setidaknya mereka tau kalo gue udah ada pawangnya" Jawab Nathan menatap Deva dari samping


"Than"


"Hem?"


"Lo..nggak mau?"


Dahi Nathan mengerut. "Mau apa?"


"Nggak jadi"


Nathan berdecak kesal mendengar ucapan Deva. "Nggak usah di pendem kalo punya pendapat, ngomong aja"


Ingin sekali Deva membenturkan kepala Nathan di tembok agar tau arah pembicaraan nya tadi, dia pikir dirinya tak malu mengatakannya.


Nathan menarik pinggang ramping Deva agar tubuh Deva menempel pada tubuhnya. "Ngomong aja, gue bakal dengerin"


Deva mengamati intens wajah Nathan yang berada tepat di depannya yang hanya berjarak beberapa centi.


"Lo nggak mau ambil hak lo?" Tanya Deva. Nathan memejamkan matanya merasakan nafas sang istri mengenai wajahnya. "Lo yakin? Gue masih bisa nahan kok" Jawab Nathan tersenyum kecil


"Yakin? Nggak capek tiap malem main sendiri?" Ejek Deva, Nathan mendelik. "Lo?"

__ADS_1


"Gue awalnya masih positif thinking, tapi lama kelamaan gue curiga dong kalo sabun di kamar mandi lo yang ngabisin" Jelas Deva tersenyum mengejek


"Hm" Nathan membalikkan badannya membelakangi Deva tuk menyembunyikan rasa malunya


Gadis itu memeluk Nathan dari belakang. "Selama ini lo udah nyia-nyiain calon anak lo di kamar mandi, itu nggak masalah. Asal jangan buang calon anak lo ke wanita lain, bakal gue putus saluran calon anak lo"


Nathan merasa nyeri di bagian pusatnya mendengar ucapan Deva, ia tak bisa membayangkan jika semuanya terjadi.


"Than, gue udah siap menuhin kewajiban gue. Lo bisa lakuin itu sekarang" Bisik Deva. Nathan membalikkan badannya, tangannya menyentuh wajah Deva perlahan. "Lo yakin? Nggak terpaksa kan?"


Deva menggeleng. "Gue siap."


Sinar mentari dengan lancang menerobos masuk ke dalam kamar pasangan muda yang masih tertidur lelap. Gadis? Bukan lagi, sekarang Deva sudah menjadi wanita seutuhnya setelah apa yang ia lalu bersama Nathan malam tadi. Ia baru saja selesai membersihkan diri nya, dan berjalan mendekati ranjang


"Nathan, bangun. Kita ada jam pagi kan" Ucap Deva menepuk pelan rahang tegas Nathan, "Eunghh..hm, jam berapa?" Tanya Nathan mengerjapkan matanya


"Hey?"


"Aku-kamu, baru aku mandi" Pinta Nathan kembali mengatup kedua matanya, "Okey, sekarang kamu mandi. Aku siapin sarapan" Ucap Deva kaku, sedikit aneh menggunakan aku-kamu kepada Nathan.


"Kiss"


"Buruan, nanti kesiangan" Dengus Deva, "Sekali, biar semangat ngampus nya" Kata Nathan membuat Deva berdecih


Cup


Deva mencium pipi kiri Nathan. "Udah, buruan"


"Okey" Nathan memunguti pakaiannya lalu memakainya.

__ADS_1


Deva mengganti sprei dan selimut yang terpasang di ranjang, ia sedikit menyunggingkan senyum nya melihat noda merah di sprei kotor.


"Titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Aku sudah mengikhlaskan mu pergi, do'akan aku semoga aku bisa bahagia disini" Gumam Deva.


Dua mobil berwarna hitam baru saja terparkir di parkiran kampus. Sang pemilik turun dan seperti biasa, Nathan selalu membuat para kaum hawa menatap kagum. Pemuda itu menoleh dan melihat istrinya juga baru saja keluar dari mobil


Ia mengumpat dalam hati ketika para kaum adam terus menatap istrinya, Deva menyadari hal itu. Deva menatap tajam dari balik kaca matanya melihat wanita yang tiba-tiba datang dan memeluk Nathan


"Nathan, aku dari tadi nungguin kamu. Kenapa masih berdiri disini" Ucapnya bergelayut manja di lengan Nathan


"Lepas, Melda"


"Aku mohon, kita mulai semuanya dari awal. Aku janji nggak akan kayak dulu lagi" Kata Melda


"Ceh" Nathan berlalu pergi meninggalkan Melda di parkiran meneriaki namanya, Deva? Ia tersenyum dalam hati. Kemudian, ia melangkah masuk menyusul Nathan ke kelas.


"Gimana tadi rasanya dipeluk mantan?" Sindir Deva duduk di bangkunya yang letaknya berada di sebelah kiri Nathan


"Kau cemburu?"


"Tidak" Balas Deva menyibukkan diri membaca buku, "Bilang iya jika itu benar, nggak usah malu" Tambah Nathan terkekeh.


Di kantin, seperti biasa Deva dan Nathan berbeda meja tetapi bersebelahan. Dan tak lama, Intan datang bersama Sadam. Intan mengambil jurusan kedokteran, sedangkan Sadam mengambil jurusan hukum.


"Ngelamun aja lo, kesambet ntar" Kejut Intan duduk di sebelah Deva, "Ohya, tadi gue liat ada cowok ganteng banget. Mau lihat? Syukur-syukur bisa deket"


Deva menyeringai dalam hati. "Boleh"


Mendengar jawaban Deva, Nathan langsung menoleh ke wanitanya. Bukannya kaget, tetapi ia mengerti bahwa Deva ingin membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2