DEVANATHAN

DEVANATHAN
DN – 55


__ADS_3

Sesuai permintaan sang suami, saat jam makan siang Deva akan mengantarkan makanan ke kantor Nathan. Ia kini tengah bersiap di depan cermin, sedikit memoles wajahnya menggunakan bedak dan menyemprotkan parfum secukupnya.


Kali ini Deva menggunakan parfum yang berbeda dari biasanya, karena ia tau nanti bukan hanya makan siang saja yang akan Nathan lakukan.


"Perfect, sekarang kita berangkat. Pasti ayahmu sudah menunggu di sana" Ucap Deva mengelus perut besarnya, ia mengambil tas selempang kecil lalu keluar dari kamar


Kedua kakinya bergantian menapaki anak tangga, sampai di ruang makan Deva mengambil kotak makan siang yang akan ia bawa.


Tidak ingin Nathan menunggu lama, Deva segera melangkah keluar dari rumah.


"Pak, kita ke kantor Nathan sekarang" Ucap Deva memasuki mobil hitam di depannya


"Iya, Nona Muda" Supir itupun masuk ke kursi kemudi, lalu mulai meninggalkan pekarangan rumah.


"Pak, kita ke supermarket dulu" Kata Deva


"Baik, Nona Muda"


Sampai di supermarket, Deva turun dari mobil kemudian masuk ke dalam sana membeli cemilan. Selesai dengan urusannya, Deva kembali ke mobil dengan membawa dua kantong plastik di tangannya.


"Pak, kita jalan"


"Baik, Nona Muda"


Dengan senyum di wajahnya, Deva mengusap perutnya. Kedua matanya terus memandang ke arah perut buncit yang di dalamnya ada seseorang yang ia nanti bersama Nathan, suaminya.


"Pak, nanti Bapak bisa lang–Pak, awas!!" Deva maupun supir itu sama-sama terkejut ketika sebuah mobil yang ukurannya lebih besar dari mobil mereka melaju sangat kencang ke arah mereka


Brakk


Cyarr

__ADS_1


Sebuah bingkai foto yang menggantung di dinding kamar membuat Nyonya Gautama yang sedang baru saja merapikan pakaian kaget.


"Astaga, kenapa bisa jatuh kayak gini" Ucap Lily memunguti pecahan kaca bingkai tadi, Bunda Lily menggigit kecil bibirnya saat tiba-tiba perasan aneh datang


"Tidak, semuanya pasti baik-baik saja. Jangan berfikiran yang aneh-aneh, Ly" Gumam Lily bermonolog


Tringg!


Lagi-lagi Bunda Lily di kejutkan dengan suara dering telfon yang berada di atas meja. Dahinya mengerut ketika melihat nomor bodyguard keluarga Gautama tertera di layar ponselnya


"Selamat siang, Nyonya"


^^^"Ya, selamat siang. Apa ada masalah di sana"^^^


"Saya ingin memberitahukan kalau nona muda mengalami kecelakaan bersama supirnya, dan sekarang nona muda berada di rumah sakit"


^^^"A–apa? Saya akan kesana sekarang."^^^


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Lily tanpa basa-basi, kedua orang itupun kaget mendengar fakta kalau pasien mereka ternyata supir dan putri dari keluarga Gautama.


"Begini, Nyonya. Kami harus melakukan operasi untuk menyelamatkan supir, nona, dan bayi yang ada di kandungan nona. Dan kami tidak bisa melakukan tindakan operasi tanpa persetujuan keluarga"


"Lakukan saja sekarang!" Sahut Nanda dari arah belakang, ayah dua anak itu datang bersama Adnan dan Nathan. "Lakukan operasi nya sekarang, dan selamat kan supir, anak, dan cucuku"


"Baik, Tuan. Kami akan melakukan nya sebaik mungkin"


Mereka bertiga menunggu di depan ruang operasi sampai tiga orang (Papa Surya, Mama Zoya, dan Ibu Maira) datang menghampiri mereka bertiga.


"Bagaimana keadaan Deva, Nak" Tanya Maira kepada putranya, "Masih belum tau, Ibu. Kami masih menunggu" Jawab Nathan memeluk sang Ibu


"Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah" Ibu Maira mengusap punggung lebar anak semata wayang nya

__ADS_1


Nafas ke-enam orang itupun terasa lega seiring terdengar nya suara bayi di dalam ruang operasi.


Crieett


Seorang dokter dengan jubah hijau keluar sembari membuka maskernya.


"Dokter, bagaimana keadaan mereka?"


"Semuanya berjalan dengan lancar, nona dan supirnya berhasil melewati masa kritis nya" Jawab sang dokter


"Lalu bayinya?"


"Perempuan dan semuanya juga sehat"


"Syukurlah. Terimakasih, Dokter" Ucap Nathan lega, "Sama-sama, Tuan. Mereka akan di pindahkan ke ruang rawat sebentar lagi, kalau begitu saat permisi"


"Ya, sekali lagi terimakasih."


Sekarang, semuanya berada di ruang rawat Deva yang masih setia memejamkan matanya. Bayi perempuan yang berada di atas dada polos Nathan pun juga terlelap


Va, bangunlah. Lihat putri kita, dia sangat cantik. Doa ku terkabul yang menginginkan dia sama persis seperti mu, bahkan hanya matanya saja yang mirip denganku. Cepatlah bangun, Sayang. Dia membutuhkan mu. Ucap Nathan dalam hati


"Mgghh...Bunda" Semua perhatian beralih ke Deva yang mulai sadarkan diri


"Sayang" Semua orang merasa sangat senang, terutama Bunda Lily yang langsung memeluk putrinya


Bunda Lily melepas pelukan nya saat dokter datang untuk memeriksa keadaan Deva.


"Keadaan Nona Muda sekarang sudah semakin membaik, dan—"


"Memangnya saya kenapa?" Sela Deva kebingungan. Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Deva, membuat yang lain juga bingung.

__ADS_1


__ADS_2